Wednesday, June 27, 2007

Michelle Marsh

Michelle Marsh is Topless and Running

I have no idea what the hell is going on in these pictures of Michelle Marsh at the beach, but I take comfort in the fact that it looks like she really doesn't either. She has two giant pumpkins growing out of her chest, so it's hard to imagine that she'd have no idea where her top is. Maybe it was that fox on Dora the Explorer. Oh that Swiper, he's so sneaky!

These are probably NSFW:

Michelle Marsh older news:


Hot Gossip Celeb

Paris Hilton Isn't Hungry

Officials at the Lynwood jail have threatened to put Paris on a feeding tube if she continues to refuse to eat. Paris, 25, who was listed at 110 pounds when she entered jail, now reportedly weighs 100 pounds.

After she was transferred back, Paris refused to eat. Staff became worried as she seems very thin with her bones poking out. She was also very weak and lethargic. They threatened to put her on an intravenous drip to rehydrate her and give her some nourishment unless she started eating. She has since managed to get a little food down, but doctors are closely monitoring her."

It's times like these when I wished I worked in that jail. I'd take Paris her food, hold it through the bars, then snatch it back real fast when she tried to reach for it. I'd do that for a while then I'd do the thing where I pretend I'm about to drop it, then laugh and tell the guards she refused to eat. Then I'd put in her feeding tube and fill her with warm nutritious goodness. Like battery acid.

Nicky and Kathy Hilton worrying and holding a vigil at the Free Paris rally. Oh wait, no, I mean "out shopping".

Paris Hilton is Released From Jail Again

I couldn't sleep tonight and now I know why. My body wanted to keep me awake so I could receive this really good news from TMZ:
After 23 days in jail, Paris Hilton is finally a free woman.

The heiress was released from prison shortly after midnight on Tuesday. Law enforcement sources tell TMZ that Paris has lost nearly 10 pounds during her stay and that on her way out of jail, she stopped to change clothes in a public restroom that "smells rancid."

Sources also tell TMZ that Lynwood jail is happy to see Paris go and they hope that now things can get back to normal. Don't we all.

Story developing ..."

Why do people always refer to the Retarded Ostrich as "the heiress?" Why not "the herpes spreader" or "cum crusted saggy eyelid-girl" or "puke?" those descriptions seem to make more sense, and you don't need to bother with that pesky "i before e, except after c" rule.

Friday, June 22, 2007

Perselingkuhan Nanik 2

Perselingkuhanku Karena Suamiku
(Bagian 2)

Kisah sebelumnya .............Dan sejak saat itu, percumbuan kami belumlah lengkap apabila saya belum melakukan oral seks terhadapnya. Bagi saya, saya merasa memiliki hobby baru. Membuatnya nikmat melalui oral seks.

Hingga suatu saat di tengah percumbuan hebat kami dimana pakaian kami sudah hampir terbuka semua, di jok belakang mobil saya di pelataran parkir department store "R" yang terletak di jalan yang menggunakan nama seorang pangeran, ia mengangkat rok saya dan menyingkap sedikit celana dalam saya, lalu kemudian dengan cepat dan lembutnya, Eri mencumbu dan menyapu vagina saya dengan lidahnya. Sungguh saya dibuatnya kaget dan bingung yang bukan kepalang. Suami saya sama sekali tidak pernah melakukan hal ini terhadap saya. Di tengah kebingungan itu, saya sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Saya mencintainya, tapi saya sama sekali tidak menyangka hingga sejauh ini kisah asmara kami. Begitu lembutnya dia mempermainkan klitoris saya dengan sapuan lidahnya, hingga akhirnya rasa bingung itu lenyap ditelan rasa geli dan nikmat yang sudah menjalar di sekujur tubuh saya. Saya hanya bisa meremas rambut kepalanya, menekan kepalanya lebih dekat di vagina saya yang kian membasah. Kenikmatan itu juga yang akhirnya membuat saya mengangkat kedua paha dengan lebih membuka kangkangan keduanya.

Setelah kurang lebih lima belas menit dia menjilati klitoris saya dengan berbagai cara, saya disuruhnya rebah di jok belakang dan segera dia menindih saya. Rupanya Eri telah menurunkan celananya tanpa sepengetahuan saya sewaktu saya masih melayang-layang.

Dengan cepat Eri menyodorkan penisnya menuju bibir vagina saya. Dan mempermainkan kepala penisnya di bibir vagina saya. Saya kembali menggelinjang. Sama sekali tidak terbesit di benak saya, bahwa kami masih bermain di area parkir sebuah pusat belanja yang terletak di jalan "D". Yang suatu saat dapat dipergoki satpam.

Kembali saya tersentak hebat saat kepala penisnya menggesek-gesek klitoris saya dengan agak kuat. Tubuh saya mulai bergetar hebat. Apa ini yang dinamakan luapan birahi?
Karena vagina saya yang sudah basah sejak tadi, Eri tidak mendapat kesulitan untuk akhirnya dengan cepat dan lembut menyelipkan penisnya di liang vagina saya.

Saya kembali tersentak dalam sejuta kenikmatan. Sebuah benda yang besar dan panjang menyelinap masuk secara perlahan, sehingga menimbulkan gesekan halus pada klitoris saya. Tubuh saya mengejang sesaat. Tiba-tiba muncul rasa heran yang amat sangat dalam diri saya. Selama ini saya tidak pernah merasakan nikmatnya seks dengan suami saya. Yang saya tahu selama ini, seks adalah menyakitkan. Saya hanya menjadi mesin pemuas nafsu seks suami saya tanpa peduli apakah saya menikmatinya atau tidak. Nikmat seks seolah-olah hanya dongeng belaka di telinga saya.

Tapi Eri... seolah-olah dia kini memberikan bukti bahwa nikmat seks itu ada. Dan nyata. Kini saya sadar sepenuhnya. Saya semakin mencintainya. Saya pun kembali larut dalam kebahagiaan nikmatnya seks. Saya pun menyambut cintanya, juga menyambut goyangannya tidak kalah hebat. Seolah saya ingin menumpahkan dan mencapai kenikmatan seks yang baru saya rasakan dan ingin memberitahunya untuk bersama menikmati seks ini sepuas-puasnya.

Entah berapa lama kami bercinta dan saling berpacu dalam nafsu birahi di dalam mobil Genio berwarna gelap bernomor polisi D* 1**9 **. Akhirnya dia membiarkan saya selesai terlebih dahulu. Sungguh saya tidak menyangka bahwa kenikmatan seks itu begitu indah, menyenangkan dan memuaskan. Saya pun dibuatnya lemas dan tidak bertenaga, terkapar di jok mobil. Telentang tidak berdaya, dengan rasa sejuta bahagia dan kepuasan yang tidak ternilai. Sementara Eri akhirnya mempercepat ritme ayunan pinggulnya dan saya merasakan adanya semburan hangat di dalam vagina saya. Semburan sperma Eri.

Saya sempat khawatir akan kehamilan akibat hubungan kami. Tapi Eri segera berbisik bahwa dia ingin saya hamil dan membesarkan anak tersebut. Berangsur-angsur kekhawatiran saya menghilang. Di satu sisi, keinginan saya untuk hamil bisa saja terkabul. Dan ini yang saya tunggu. Akhirnya siasat pun diatur, apalagi golongan darah Eri sama persis dengan suami saya.

Sejak saat itu, kami pun rutin melakukan hubungan seks untuk saling meluapkan cinta dan memuaskan nafsu birahi kami, dimana pun kami sempat. Bahkan pernah di ruangan kantor saya pada saat sepi, Eri meminta saya untuk berdiri membungkuk di tepi meja kerja saya dan dia menyetubuhi saya dari belakang dengan terlebih dahulu mengangkat rok dan menurunkan celana saya dan kemudian mempermainkan vagina saya dengan lidahnya yang kasat.

Kini bukan saja suami saya yang berselingkuh. Saya pun turut terjerumus dalam dunia perselingkuhan. Perselingkuhan yang saya rasa adalah abadi. Apakah ini semua karena cinta sejati saya dengan Eri?

Apakah karena awalnya kawin paksa oleh ayah saya, hingga tidak pernah ada cinta antara saya dan suami saya?

Hingga kini hubungan saya dan Eri telah berusia dua tahun, baik hubungan komunikasi maupun secara seksual. Kami tetap saling memperhatikan, mengasihi, menjaga dan juga saling mengisi kekurangan satu sama lain. Seperti layaknya suami istri sejati.

Kini saya sudah tidak peduli lagi terhadap apa yang dilakukan suami saya. Anak kandung saya dari hasil hubungan intim saya dengan Eri dan anak angkat saya pun lebih dekat dengan Eri ketimbang suami saya. Entah kenapa, saya sangat berbahagia menjalani semua ini. Saya sudah menemukan cinta sejati saya.

Untuk Eri, apabila Anda membaca cerita ini, saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa kami bertiga sangat mencintai dan merindukanmu.

Salam dari Surya, putra kandungmu dan Nindi, putri angkatku.

Sunday, June 17, 2007

Perselingkuhan Nanik

(Bagian 1)

Nama saya Nanik. Saya adalah anak pertama dari sebuah keluarga yang serba berkecukupan. Ayah saya adalah seorang pengusaha di bidang perbankan yang cukup diperhitungkan di daerah saya. Saya menikah atas dasar paksaan ayah saya. Sungguh tidak mengenakan menikah dengan orang yang tidak saya cintai, walaupun sudah kurang lebih sembilan tahun usia pernikahan kami. Suami saya, Bramono, adalah seorang dokter yang sedang mengambil spesialisasi bedah di Rumah Sakit pemerintah di kota kami. Terlihat hebat memang. Tapi sayangnya keluarganya ternyata memiliki bibit keturunan "orang stress". Ini yang menyebabkan saya mengambil keputusan untuk lebih baik mengadopsi daripada memiliki keturunan 'stress'.

Sikapnya sebagai suami sama sekali tidak mencerminkan seorang suami. Terlebih saat dia menyadari bahwa dirinya adalah kesayangan ayah saya, mertuanya. Beberapa alasan ayah saya sangat menyayanginya adalah karena suami saya adalah seorang dokter dan (katanya) adalah keturunan orang terhormat. Terhormat? Menjaga nama baik diri sendiri saja tidak bisa, apalagi nama baik keluarga dan rumah tangga? Sudah cukup lama saya bertahan menjaga nama baik keluarga, hingga akhirnya saya menyadari bahwa ada pihak ketiga yang mengganggu rumah tangga kami.

Namanya Erna. Dia seorang mahasiswi kedokteran hewan yang menjadi gundik suami saya untuk sekian tahun lamanya. Sama sekali tidak ada yang menarik dari dirinya. Kalau boleh saya menyombongkan diri, perbedaan saya dan dirinya ibarat langit dan bumi. Entah apa yang diinginkan suami saya dari dirinya. Bukan hanya nama baik rumah tangga kami yang tercoreng, tapi juga nama baik orang tua saya. Dia membawa 'gundik'nya itu dengan leluasa menggunakan kendaraan pribadi ayah saya, karena memang ia belum mampu memiliki sebuah mobil. Bahkan untuk membeli bautnya pun mungkin masih meminta uang dari saya.

Di tengah kebingungan, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti program Magister Manajemen yang baru saja dibuka di sebuah universitas negeri di kota saya. Di sini saya banyak menjumpai teman baru. Kejenuhan dan kebingungan saya mulai sedikit terobati dengan aktivitas belajar baik di kampus maupun di luar.

Entah angin darimana yang berhembus, saya mendengar bahwa salah seorang teman kuliah saya bertempat tinggal di daerah perumahan yang sama dengan Erni. Tiba-tiba timbul kembali rasa penasaran terhadap 'gundik' suami saya itu. Ibarat wartawan, saya pun mulai melancarkan beberapa pertanyaan daerah seputar perumahan tersebut.

Namanya Eri. Begitu setidaknya ia dipanggil. Pertama memang ia menaruh curiga terhadap pertanyaan saya. Saya berusaha membohonginya agar aib rumah tangga saya tidak terbongkar. Namun karena rasa penasarannya yang begitu besar, saya tidak dapat lagi menutupinya. Terlebih dia begitu jelas memberi informasi mengenai dimana lokasi tepatnya Erni tinggal dan keadaan sekelilingnya. Hingga akhirnya saya meminta tolong untuk sesekali mengintip apakah suami saya pernah berkunjung ke sana. Akibatnya, saya sering berhubungan dengannya untuk mendapatkan informasi lebih darinya.

Dari sekedar menerima informasi dan meminta tolong lagi, akhirnya saya tidak dapat menahan lagi penderitaan yang saya alami. Saya akhirnya sering berkeluh kesah mengenai keadaan rumah tangga saya yang sebenarnya. Entah kenapa saya lakukan ini. Eri adalah totally stranger, yang seharusnya sama sekali tidak mengetahui kondisi intern rumah tangga kami. Tapi bagaimana lagi?

Saya sudah sering berkeluh kesah dengan orang tua mengenai suami saya. Mereka hanya menyuruh saya untuk bersabar. Dengan adik saya, mereka memang merasa kasihan kepada saya, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak karena kesibukan bisnisnya. Saya juga pernah berkeluh kesah dengan bibi (tante) saya yang belum menikah, namun dengan cepat dia menjawab, "Waduh, janganlah bicara itu kepada saya, saya tidak sama sekali tidak tahu masalah seperti itu!". Kemana lagi saya harus berkeluh?

Pada awal cerita saya kepada Eri, dia memang menganjurkan agar saya berbicara kepada orang tua saya. Namun itu merupakan anjuran basi bagi saya. Eri tidak putus asa. Dia terus memberi dukungan secara moral. Yang membuat diri saya seolah semakin tenang berada di sisinya untuk mendengarkan dan menerima dukungannya.

Kemudian dia pun membuka rahasia mengenai dirinya. Mengenai siapa dirinya sebenarnya dan bagaimana kondisi orang tuanya. Dari situ saya melihat beberapa kemiripan diantara kami berdua. Saya pun mulai comfortable apabila sudah berada di sisinya. Dan pertemuan pun sering kami atur. Entah itu berkedok kelompok belajar atau lainnya.

Hingga akhirnya, entah kenapa tumbuh rasa suka saya kepada dirinya, dan di suatu saat Eri memberanikan diri untuk menyentuh tangan saya dan memegangnya. Saya merasakan getaran yang ia jalarkan ke diri saya. Akhirnya tanpa saya sangka, ia mengutarakan perasaannya. Perasaan yang sama dengan apa yang saya rasakan terhadap dirinya.

Singkat cerita, kami mulai sepakat saling mengasihi. Dan kami pun mulai secara rutin bertemu untuk berbagi kasih. Walau pun hanya sebatas di dalam mobil saya.

Kekagetan saya yang berikutnya adalah sewaktu Eri tiba-tiba mencium bibir saya. Lucu rasanya saya mengenang kejadian tersebut. Seolah saya adalah seorang gadis yang baru pertama kali dicium oleh pria. Saya tidak tahu harus bagaimana.

Di satu sisi, saya memang mencintainya. Di sisi lain, saya sudah menikah dan bersuami. Kembali dia melayangkan kecupan dibarengi dengan sedikit lumatan pada bibir saya. Saya tetap tidak berkutik. Hingga akhirnya dia bertanya,"Kenapa tidak dibalas?". Setelah kami saling tatap untuk beberapa saat. Akhirnya..... saya pun membalas lumatan bibirnya.

Kisah kasih kami terus berjalan dengan sedikit bumbu saling cemburu apabila saya terkesan mulai dekat dengan suami saya, atau saya mendengar isu bahwa Eri berkenalan dengan seorang gadis. Tapi itu semua tetap tidak mempengaruhi cinta kami. Percumbuan kami semakin hangat. Dia pun mulai berani menggerayangi bagian-bagian tubuh saya. Baik dengan menggunakan tangannya atau dengan mulutnya.

Buah dada saya yang berukuran 36B ini sudah sering kali menjadi sasaran empuk mulutnya. Dan saya sangat menikmatinya. Saya pun sering mencumbu dadanya yang lapang, dan sesekali mempermainkan mulut dan lidah saya di pentilnya. Dia pun sangat menikmatinya.

Hingga akhirnya permainan kami mengalami peningkatan. Jemarinya mulai terampil menyusup kepada celana dalamku dan mempermainkan klitoris saya. Saya mulai merasakan geli dan nikmat bercampur menjadi satu, terlebih apabila ia kombinasikan dengan mencumbu tubuh saya.

Kami saling bergantian mencumbu hingga akhirnya pun saya hanyut dalam kebiasaan melakukan oral seks terhadapnya. Dia begitu surprise saat saya melakukan oral. Eri tidak menyangka, seperti halnya saya. Saya bahkan sempat terheran pada diri saya sendiri. Banarkah saya melakukan ini? Pertama kali saya melakukan oral seks terhadapnya, memang saya kikuk sekali. Eri hanya membuka sedikit celana dalamnya hingga kepala penisnya tersembul. Entah kenapa, saat saya sedang mencumbu tubuhnya, saya sangat terdorong untuk mencumbu penisnya dan memasukkannya ke dalam mulut saya.

Dan sejak saat itu, percumbuan kami belumlah lengkap apabila saya belum melakukan oral seks terhadapnya. Bagi saya, saya merasa memiliki hobby baru. Membuatnya nikmat melalui oral seks.

Saturday, June 16, 2007

Buah Dada


Buah dada atau payudara (tetek) merupakan salah satu bagian tubuh yang paling penting bagi seorang perempuan. Baik fungsinya digunakan untuk menyusuai bayi yang baru dilahirkan oleh seorang ibu hingga berumur 2 tahun. Payudara juga dapat berfungsi sebagai sarana penghubung dan rasa cinta kasih antara seorang ibu dan bayinya. Sebab hubungan intim antara ibu dan anak mulai tercipta saat anak mulai disusui oleh ibunya secara langsung. Sayangnya, kecenderungan dewasa ini banyak kaum wanita yang enggan menyusui bayinya secara langsung yang salah satu faktornya karena takut buah dadanya kendor atau mengalami perubahan akibat menyusui.

Bagi kalangan tertentu: artis, selebritis atau public pigur lainnya, buah dada atau payudara merupakan salah satu organ tubuh yang perlu mendapat perhatian dan perawatan khusus. Karena penampilan yang sexy dari seorang perempuan dapat dilihat dari bentuk dan ukuran buah dadanya. Buah dada yang kencang, padat berisi dan besar adalah impian bagi setiap perempuan masa kini, terutama bagi kalangan artis atau selebritis. Maka tak heran jika banyak selebritis (termasuk dari Indonesia) yang melakukan operasi untuk mendapatkan bentuk dan ukuran buah dada sesuai keinginan mereka. Tidak sedikit dari mereka yang melakukan suntikan silikon untuk memperbesar ukuran payudaranya.

Bagi kaum laki-laki, payudara wanita menjadi daya tarik tersendiri. Selain bentuk dan ukuran, putting payudara wanita bagi laki-laki adalah tempat yang paling ingin diraba, disentuh dan dicium. Karena daerah sekitar ini adalah zona paling sensitif dan memberikan rangsangan kenikmatan luar biasa bagi wanita. Erangan dan rintihan kenikmatan dari mulut wanita yang sedang disentuh, diraba dan dicium payudaranya akan memberikan rangsangan juga bagi laki-laki yang melakukannya.

Daerah rangsangan paling sensitif bagi wanita:
- Leher atau tengkuk
- Kuping
- Mulut atau bibir
- Buah dada & putting
- perut (pusar)
- Vagina
- Pinggul atau pantat

Ukuran buah dada wanita : 32A sampai dengan 46 (wow!)

Ukuran 32A Ukuran 34A Ukuran 36A














Ukuran 38C Ukuran 40 Ukuran 44











Friday, June 15, 2007

Perselingkuhan Bu Guru 2

This summary is not available. Please click here to view the post.

Celeb Gossip

"Gigli" might be plagued by bad buzz, but the media beast known as Bennifer puts on a happy face for the film's premiere. Jennifer Lopez, once again using the miracle of double-sided sticky tape, pores herself into a plunging chocolate-colored chiffon Gucci gown, accessorizing with an oyster-shell purse, blue chandelier earrings, and a brand new yellow diamond ring. Unfortunately, the future Mrs. Affleck's raccoon-like eye makeup, blah nude lips, and flattened face-framing tendrils of hair mar her otherwise fabulous look. Ben, who's looking more plastic with each passing day, styles a navy Yves Saint Laurent suit, a blue shirt, grey tie, and George Hamilton's tan.

Waiting to Exhale:
If there was a prize for best stomach-sucking at a photo op, Kim Cattrall would be a shoo-in for first prize. The newly single "Sex and the City" star storms the Hamptons in a French sailor-style striped halter top and a matching ruched skirt that shows off her toned tummy. Cattrall slips her pedicured toes into a pair of silver slides, which she contrasts with gold earrings and a gold-hued fringe purse.


Tres Jolie:
Angelina Jolie goes Goth at the premiere of "Lara Croft Tomb Raider: Cradle of Life," slinking down the red carpet in a sophisticated cowl-necked Ungaro gown and sexy Manolo Blahnik heels. The sultry siren wears her hair in a very Lara-like long ponytail, which draws one's eyes to her bare back and newest tattoo, which she had inked on in Thailand last April. The five columns of ancient Cambodian script on her left shoulder are said to ward off bad luck. Too bad they didn't help the film's tepid opening weekend grosses.