Showing posts with label Gadis Kampus. Show all posts
Showing posts with label Gadis Kampus. Show all posts

Monday, August 27, 2012

Kutiduri Teman Curhatku

Cerita Seks Dewasa - Halo, aku adalah Yosa, 25 (bukan nama sebenarnya) seorang mahasiswa semester akhir sebuah PTN di kota kembang. Aku adalah anak sulung dari empat bersaudara.

Aku memiliki seorang teman dekat yang bernama Laura, Aku dan Laura berkenalan ketika kami masih sama-sama duduk satu kelas di sebuah SMA ternama di kota Pempek, Laura sangat dekat denganku karena kami duduk satu meja, antara aku dan laura betul-betul hanya sebatas teman biasa. Aku dan Laura masing-masing telah mempunyai pacar.

Setelah kami tamat dari SMA persahabatan kami makin solit karena ternyata, Laura pun berkeinginan kuliah di kota kembang, dan Laura diterima sebuah PTS di daerah Taman Sari di kota Kembang. Singkat cerita setelah aku kuliah di kota kembang, pacarku yang ada dikota Pempek memutuskan hubungan dengan diriku. Sebagai seorang sahabat baik Laura menghiburku, dua tahun tidak terasa kami telah kuliah di kota kembang.

Pada hari minggu pagi, aku di kejutkan dengan kedatangan Laura di rumahku dengan mata merah habis menagis. Aku bingung dengan keadan Laura pada saat itu.
Dengan isak tangis dan suara terbata-bata ia, bercerita tentang Rudi pacarnya yang di Kota pempek telah memutuskan dirinya.
Alangkah tololnya si Rudi ini pikirku , memutuskan hubungan dengan Laura. Perluku terangkan bentuk fisik Laura, sebagai seorang wanita ia termasuk wanita yang cantik, dengan bentuk tubuh yang padat, kulit putih, hidung mancung dan bibirnya yang sensual, mengingat ia pernah keluar sebagai juara dua perlombaan busana Jean’s yang diselenggarakan tiap tahun oleh sebuah toko di daerah Cihampelas dan hal itu yang membuatnya akhirnya muncul sebagai foto model sebuah Majalah Ternama.

Untuk menghilangkan semua kesedihannya aku mengajak Laura jalan-jalan. Dalam perjalanan aku menghiburnya dengan lelucon-lelucon yang kadang-kadang konyol.
“Yo”, aku ingin menghilangkan semua kenangan dengan Rudi, dan membuat kenangan baru yang manis !!!!!!!!!! Kenangan baru, kenangan manis, tanyaku padanya ??? baik pokoknya hari ini ” Yo ” akan membuat kenangan baru untuk Laura

Perjalanan kami mulai dangan mengunjungi Gelael dan makan siang disana, Dari sana kami menuju BIP dan nonton filem. Setelah didalam bioskop aku nekat merangkul Laura dan ternyata Laura pun mendiamkan saja hal itu yang membuat aku semakin berani dan menjalarkan tanganku ke pahanya dan tanpa permisi lagi ku kecup pipinya yang putih, ia memandang mesra kepadaku. Dan ia bertanya Yo, apa yang membuat dirimu melakukan hal itu, akupun hanya diam dan kujawab dengan ciuman dibibirnya. Ternyata Laura memberikan respon yang baik, dia membalas ciumanku dengan menggigit bibir bawahku aku semakin bernafsu siUcok pun mengeras dengan sangat cepatnya, dan dengan reflek tanganku langsung menuju selangkangannya dan mengusap-usap memeknya, kukulum bibirnya ia balas dengan menghisap bibirku dan sebaliknya, entah apa yang berkecamuk di pikiran kami pada saat itu. Setelah itu ia melapaskan pangutanku dan meminta aku memperhatikan filem saja di cerita seks dewasa.

Setelah selesai nonton aku mempunyai ide untuk mengajaknya ke pemandian air panas di daerah lembang untuk berenang dengan harapan aku dapat berenang di lautan asmara , “Laura, kita renang yuk ” ajakku dan ia pun setuju !!!
Setelah sampai disana kami pun berenang dan bermain air dan di dalam air aku mulai mencuri-curi untuk menyentuhkan tanganku kebagian-bagian kewanitaan Laura, nampaknya ia pun mulai membaca pikiran kotorku dan mulai mengajakku untuk pulang.

Hari telah mulai berganti malam, udara pegunungan yang dingin mulai turun ditambah dengan dinginnya AC mobilku membuat nafsuku naik dan dari guyonan-guyonan yang rada ngeres yang kami bicarakan aku yakin berpikiran sama denganku, nampaknya kejadian di bioskop dan kolam renang masuk ke otaknya, hal itu terlihat dari pembicaraan kami yang makin ngaco dan jorok.

Aku pun meminggirkan mobil, Laura memandangku dengan membisu dan tanpa membuang waktu aku langsung menecup bibirnya, dan di balasnya dengan mempermaikan lidah di mulutku. Kursi mobil kumundurkan dan kurubah posisinya tidur, tanpa disuruh tanganku mulai merengkuh payudaranya yang sintal. “Emmm.., Yoo? ahh?Yoooo jangan Yooo?, Laura merintih keenakan. Tak kuhiraukan rintihannya mulai merogoh payudaranya. Laura makin terangsang tangannya mulai menuju ke SiUcok yang sudah mengeras dari tadi dan memijit-mijitnya. Segera tanganku mencopoti kancing baju dan nampahlah buah dadanya yang indah di tutupi BH.

Seumur-umur selama pacaran dulu aku belum pernah melakukan hal senekat ini paling-paling hanya ciuman-ciuman biasa, nampaknya pergaulanku di kota kembang lah yang membuat aku bisa melakukan hal ini.
“Yo, jangan disini nanti ada yang liat, kita pulang aja biar leluasa” pintanya, Aku diamkan saja dan langsung ku stater mobil dan bergegas menuju rumahku dengan kecepatan yang menggila, nafsuku sudah di ujung tanduk. Setelah sampai dirumah langsung kurangkul dan kuciumi dengan buasnya. “Yo, pelan-pelan, jangan bernafsu “begitu pintanya, tapi mana aku peduli akan permintaannya itu.

Kudorong tubuhnya yang aduhai kedinding dan kukecup bibirnya yang membuat aku gemas dan bernafsu ingin melumatnya, kutekankan siUcok ke kemaluannya dan iapun berkata “wah udah nafsu bener tu siUcok” Bibirku mulai turun ke daerah leher dan semakin kebawah lagi, tangan kiriku mulai meremas remas susunya, begitu pun tangan kiri Laura yang menuju ke siUcok sedangkan tangan kanan kami saling berpegangan yang semakin erat. Laura semakin menikmati permainan bibirku dan tanganku, kepalanya kekiri dan kekanan dengan mata yang terpejam, akupun tau nafsunya mulai di ujung tanduk.

Dengan sigapnya tangan kiriku mulai melepas kancing bajunya, tangan kananku menggantikan peranan tangan kiri untuk meremas susunya. Segera setelah baju nya terbuka BH nya pun daku lepaskan dan kulempar kan entah kemana, payudara Laura dapat terlihat dengan jelas. Padat sekali dan berwarna putih mulus dengan puting susu yang berwarna pink. Putting susu itu membusung kedepan memperlihatkan lancipnya payudara Laura. Langsung kuremas payudara kirinya sementara mulutku menuju yang kanan dan langsung kukenyot itu susu, Laura semakin kebelingesan dan kepalanya kekiri dan kekanan sementara tangannya membelai kepalaku dan menekan kepalaku semakin kedalam, Laura merintih keenakan ahhhh Yo terus Yo ahhhhh, aku tau ia semakin terangsang dan secara tiba-tiba aku hentikan semua kegiatan tangan dan mulutku, kutarik tangannya menuju kekamar. Sesampai di kamar kudorong tubuhnya ke kasur melanjutkan aksiku yang tertunda tadi. Ku tindih tubuh Laura, dan bibirku mulai bermain-main dengan bibir, kuping, leher dan turun
kesusunya,

tiba-tiba.

Yo, “STOP” ,Yo tolong stop dulu tangannya mendorongkan tubuhku, Yo, kenapa kamu lakukan ini ke Laura ?” Tanyanya sambil memeluk pinggangku, “katanya mau membuat kenangan manis yang baru, makanya Yo melakukan hal ini, tapi kita kan bersahabat Yo, bukan sepasang kekasih dan lagi kita belum menikah, terus terang saja Rudi belum pernah melakukan sampai sejauh ini pada Laura. Laura, aku berusaha mengecup bibirnya tetapi ia menghindar dan meletakkan jari telunjuknya di bibirku, langsung saja ku gigit, dan kukulum.
“Yo, jawab dulu dengan jujur pertanyaan Laura, Yo, Pernah melakukannya hal ini dengan pacar, Yo.?” tanyanya.
Aku pun menggelengkan kepalaku, “Tapi kayaknya Yo sudah biasa melakukan hal ini dengan wanita,” katanya lagi. “Naluri laki-laki” jawabku singkat.

“Laura, Yo ingin menghibur Laura” kataku
“Tapi mustinya bukan dengan cari begini, Yo ” jawab laura
“Ok, jawab pertanyaan Yo dengan jujur ?, Laura menikmati permainan kita ini dan Laura masih ingin melanjutkannya, jawablah dengan jujur”

Laura pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Dengan sigap akupun langsung menindih kembali tubuh Laura, “Yo, sabar sebentar, bagai mana nanti kalau keterusan Yo, pasti akan menikahi Laura, dan detik ini Yo menyatakan cinta dan sayang pada Laura, akupun langsung melumat bibirnya sehingga ia tidak bisa menjawab pernyataanku tadi, tapi dari reaksinya yang melayani ciumanku, akupun mengerti ia setuju dengan peryataanku.
Aku semakin berani, kubuka kaos yang kepakai sehingga kulit dadaku langsung bersentuhan dengan kulitnya dan perasaan hatiku semakin hangat, degub jantungku semakin cepat, aku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kali ini Laura semakin garang, tangannya menjambak rambutku, ia pun merintih menikmati permainan tangan dan bibirku, sekali sekali ia menggigit bibir dan leherku, kubalas dengan memasukkan lidahku ke kupingnya.

Laura, “hmmm, Yo buka jean’snya ya” , iapun menganguk.

Singkat waktu tanganku bereaksi dengan sigap melepas kancing celananya, kutarik lepas celana jean’snya,nampaklah pahanya yang mulus dan CD berwarna krem, tanganku otomatis langsung memegang memeknya dan ternyata memeknya sudah basah, dengan deguban jantung yang semakin cepat, karena ini pertama kali aku melihat dan memegang memek seorang wanita, akupun makin membayangkan apa yang akan aku dapatkan hari ini, akupun langsung membuka jelanaku dengan tergesa-gesa dengan di bantu oleh tangan Laura, nampaknya ia pun tidak sabar ingin melihat siUcok yang perkasa, Yo, “siUcok boleh Laura pegangya.

Layaknya seorang profesional, akupun kembali menciumi bibir, leher, kuping dan susunya Laura, sementara tangan kiriku meraba-raba memeknya dan kuberanikan memasukkan tanganku ke dalam CD nya, basah kataku, iapun mengangguk, Laura pun memasukkan tangannya kedalam Cd ku makin membesar saja siUcok dan iapun berteriak gila besar bangat milikmu Yo, “Laura takut Yo, ia berkata lirih, Nggak apa-apa, nanti kalau sudah ngerasain pasti ketagihan kataku. Akupun merasakan degub jantung Laura semakin cepat.

Bibirku menarik putting susu kanannya Laura. “Ah??enak Yo ” Laura merintih keenakan. Kudekatkan kepalaku ke susu kirinya, ku hisap - hisap puting kiriya. Laura semakin menggelinjang. Tanganku bergerak dengan cepat melepas Cdnya dan nampaklah hutan rimba yang sangat lebat, kuusap tanganku kememeknya, kutari-tarik jembutnya yang hitam, akupun menepukan sebuah lubang kecil yang basah, kugesekkan tangan ku kelobang memeknya, Laura semakin merintih, ahhh?ahhhh suara rintihannya semakin nyaring membuat akupun semakin nafsu, ia pun melepaskan CD ku dan siUcok pun nampak berdiri dengan perkasanya.

Kami sudah telanjang bulat, kuraih tangan kiri dan kanan, tangan kamipun saling bertautan, kutindih tubuh Laura yang betul-betul membuat aku melupakan semuanya.
Pantatku kusodok-sodokkan, kutekan-tekan kepala SiUcok menyentuh bibir memeknya, Laura semakin merintih tidak beraturan Ahhhh??.Shhhhh ssssshhhhhhhh…….Aaaahhhhh??Eeeehhhh, pantatnya pun bergerak kekiri dan kekanan, matanya terpejam ia betul-betul menikmati permainan ini, aku pun semakin bernafsu. SiUcok semakin liar bergrilya di memeknya, jembutnya menyentuh dan
bergeseka dengan kepala dan batang siUcokku.
Aku mendesah “, Hemmm “Yo mau keluar nih?.. “
“Yo, tanggung Yo jangan dulu Yo, Laura juga bentar lagi??ehhhh?ahhh” jawabnya.
Tiba-tiba aku merasakan ada dorongan yang hangat keluar dari kepala siUcok, Aku keluarrrrrr ahhhhhhhh, Aku KO?membatin didalam hatiku Aku masih amatiran?..air maniku berceceran di perut Laura?” Yo?.”, tempelkan lagi Yo, Laurapun mempercepat gerakan pantatnya iapun nampaknya tidak mau kalau aku yang merasakan kenikmatan, siUcok yang sudah mengecil seperti di pelitir tergunjang kekanan dan kekiri, bibirku masih bermain telinga Laura, tak berapa lama kemudian dia mengerang ahhh?? ssssshhhhh??.enaaaakkkkkk?.. Yoooo, ia memanggil namaku dan kuraskan siUcok yang berada di bibir memeknya terasa hangat, kamipun tergolek lemas dan
kulihat Laura mulai tertidur. Akupun memikirkan kekalahanku di sesi pertama ini, tak berapa lama akupun tertidur pulas.

Jam 9.00 malem Aku terbangun, perutku teras laper banget kulihat Laura masih pules banget kekecup bibirnya pelan, matanya terbuka, Yo? ada apa sayang?serrrrr kalimat itu langsung membuat siUcok bangun lagi dan Laura yang kebetulan tangannya menyentuh siUcok bergumam si Ucok udah mulai bangun lagi tuh.
Kulumat bibirnya dan sibalasnya kecupan ringan.

Laura,” Yo keluar sebentar beli nasi ya, iapun mengangguk. Akupun bangun mengambil pakaian kulihat ia mulai mau tidur lagi, akupun pergi keluar mencari nasi Padang.

Baru saja aku melangkahkan kaki masuk dan akan memesan nasi ada yang berteriak memanggil, “Yo?.Yono?. sini oi sebentar, kucari sumber suara itu dan kudapati rombongan teman-teman dari kota tempatku , mereka mengontrak rumah tidak jauh dari rumahku.Hanya saja mereka itu anak-anak ajaib yang hidupnya seperti Batman, tidur disiang hari keluyuran mencari mangsa di malam hari, aku sering di ajak oleh mereka tapi tidak pernah kuturuti, karena melihat gaya hidup mereka yang serabutan padahal kami sama-sama masih kuliah, takut mengganggu kuliahku, jawabku memberi alasan jika mereka mengajakku untuk berlayar.

Tapi kali ini lain sekali, kudekati rombongan yang lagi makan tersebut, dan kutegur orang yang paling akrab denganku, Roto namanya, “To, sebentar To,
“aku ada perlu sama ente, ada yang ingin aku tanyakan sebentar dan ini urusan yang sangat penting yang tidak dapat ditunda-tunda. Anak-anak yang lain pada berhenti makan dan memandang aneh kepadaku.

Entar dulu, “Yo, dikitt lagi.
Ok?..urusan dunia ape urusan akherat heeee !!!!!
Ayolah sebentar ini urusan dunia, “Roto bergegas berdiri dan kami menuju meja yang kosong.

Ake ceritakan pengalamanku dengan Laura sambil malu-malu, “Ia tertawa sangat keras dan terbahak-bahak, orang yang pada makan memperhatikan kami berdua dengan heran.
Yo, “dulu aku sering ngajak kamu untuk menjari pengalaman tapi ente selalu menganggap enteng masalah ini, Ok “sekarang gua ajarin inti-intinya saja selanjutnya terselah dikau bisa menjalankannya tidak, maka dengan waktu yang tidak lama aku menerima pelajaran singkat dan cepat. Kalian ngomongin apa sih kayak penting banget dan rahasia, sehingga harus memisahkan diri dari rombongan, tanya, Diki? penasaran sambil mendekat. Ah enggak terlalu penting tapi harus dibicarakan secara pribadi, jawabku singkat.

Aku pun membeli nasi dan segera pamit pada mereka. Laura, “makan yok, mumpung nasinya masih panas, aku mencari Laura di kamar. Ya, “tarok aja di meja jawabnya singkat, ternyata ia lagi mandi sambil bersenandung. Akupun menghayalkan bentuk tubuhnya yang aduhai kulitnya yang halus, toket nya yang kencang, memeknya, jembutnya yang rindang, nafsuku bangkit dengan cepat.

Laura, “tok-tok kuketuk pintu kamar mandi, buka ,”Yo udah kebelet ingin pipis, kamarmandi belakang enggak ada air pintaku. Begitu, pintu tebuka kulihat tubuhnya penuh dengan sabun, kupandangi tubuhnya dengan nafsu, akupun lupa pada nasi yang kubeli. Yo, “halo Yo jangan ngelamun katanya mau pipis. Kudekati tubuhnya, “ahh enggak jadi jawabku singkat, kutarik tubuhnya masuk dalam pelukanku, “Yo, buka dulu dong bajunya.” katanya

Secepat kilat, semua pakaianku tertanggalkan semua. Kutarik lagi tubuhnya, kulumat bibir bawahnya dengan halus dan pelan-pelan, kujulurkan lidahku masuk kedalam mulutnya, ia membalas permainan lidahku dengan dengan menggigit lidahku pelan, tangan kiriku bermain di toketnya, kutarik-tarik putting susunya, kuputar-putar kekiri dan kekanan, sementara tangan kanan meraba tengkuknya, ia kembali merintih, kudorongkan tubuhnya kedinding, kutekan siUcok yang sudah mengencang kearah memeknya, siUcokku terselip di antara selangkangnnya, ia merintih “?ahhh?.sssshhhhh?.ahhhh?. “,tangannya memelukku lebih erat lagi, ” Yo, tadi dari mana sih, kanyaknya ada yang berbeda dari Yo, yang tadi,” tanyanya?,

Aku diam saja tapi gerakan siUcok,tangan dan bibirku kadang kepercepat kadang kupelankan kadang antara kena dan tidak, ia benar-benar sangat terangsang dengan permainanku sekali ini. Kusiram tubuhnya dengan air untuk menghilangkan sabun didirinya, kepalaku kuturunkan ke toketnya dan kulumat susu kirinya, tanganku meremas-remas yang kanan, kugigit putingnya susunya,

kuisap-isap “?.ahhhh?..shhhhh?.Uaaaahhhh?.aahhhhhh??” rintihnya , kupindahkan tangan kananku kebawah dan kuraba memeknya yang sudah mulai terasa basah dan
berlendir, mulutku pindah ke toket sebelah kanan dan kugigit lagi putting susunya, sementara tangan kiriku menggantikan posisi mulutku yang tadi mengisap toket kirinya, permainan kali ini memang berbeda dari yang pertama, aku tidak terburu-buru untuk mencapai kepuasan tetapi berusaha menikmati setiap gerakan yang kuciptakan secara refleks.

Tangan kanan ku semakin lincah bermain-main di memeknya dan kumasukkan jari
ku kememeknya yang sudah becek, ” Yo sakittttt?..ahhhh?
sakitttt?..,”kuturunkan kepalaku menjilati perutnya, kumaikan lidahku di
lubang pusernya??ahhhh?.assshhh?. geli?.Yo…
Tangannya meraih kepalaku dan mengacak-acak rambutku.
Kepalaku semakin semakin kebawah dan mulai menciumi daerah selangkangnnya?ahhhhh?..sshhhhh?ahhhhh?.kukangkang kan kakinya memeknya yang basah dan berlendir dengan perasaan jijik kujilat memeknya seperti ajaran video porno.

“??ahhhhhh?shhhhh?..ahhhh?..ahhh?eeehhhhh? Yo, “jangan jijik ia berusaha menjauhkan wajahku dari memeknya tapi dengan sedikit paksaan tetap saja kujilati memeknya “Yo?.Yo?.. Yoooo? ahhhh?.ssshhhh?.ahhh?. ia menggoyang-goyangkan pinggulnya kekiri dan kekanan, rambutku semakin di buat awut-awut oleh “Laura, ditekannya kepalaku lebih kedalam ??ahhhhh??sshhhhhh?enakkkkkkk?.ahhhhh ?.emmmmemm??.ahhhhhhhhh??.
tiba-tiba gerakan pinggulnya semakin cepat??ahhhhh?..Yo??.aahhhhhh?? Laura?..
keluarrrrrr??Yoo, tubuhnya tiba-tiba menegang dan bersamaan dengan tubuhnya melemas dari memeknya keluar cairan putih yang sangat banyak.

Aku berdiri dan langsung merangkul tubuhnya yang sudah lemas. Yo, “siUcok belum keluar ya tanyanya?..kutuntun tangannya ke siUcok dan dikocok-kocoknya siUcok, sebentar saja siUcok sudah berdiri dengan sangat menantang.

Kuambil handuk dan kukeringkan tubuh Laura, kutarik tangannya menuju kamar,
kurebahkan tubuhnya di kasur, kulemat lagi bibirnya yang renum, tanganku pun kembali bermain-main di memeknya, matanya kembali terpejam, menikmati permainan tanganku.
Yo, “Laura istirahat dulu, tapi permintaan itu kutepis dengan hisapan dan permainan lidah yang menawan dibibirnya, kurasakan Laura mulai terangsang, memeknya mulai berlendir kembali.

Laura,” siUcok jangan didiemin”, iapun meraih siUcok dan mulai mengocok-ngocakkannya, siUcok berdiri dengan sangat hebatnya, memek Laura semakin banjir dengan lendir akibat permainan tanganku.
Laura, “siUcok dimasukinnya !!!
Yo, “Laura masih perawan, Laura takut hamil !!!!
Enggak, “nanti kalau keluarnya enggak didalem ” kataku meyakinkannya.
” Laura, boleh ya ?”Yo masukin ” tanyaku lagi
Laura diam sesaat, tidak segera menjawab tetapi kurasakan kedua kakinya digeser membuka. Karena tidak ada jawaban, kulebarkan lagi selangkangannya sehingga memeknya nampak menyeruak lalu kupegang batang siUcokku dan kuarahkan ke lobang memek Laura yang sudah basah serta pelan-pelan kutekankan kelobangnya.
Kepala siUcok masuk, “Aduhhh, Yo sakit?.kucabut kembali siUcok? bibirku
kembali melumat bibr Laura dengan rakusnya bersamaan dengan itu kuusahakan
siUcok Untuk menerobos memek Laura, ternyata siUcok susah untuk menemukan itu lobang, kurasakan siUcok di pegang oleh Laura dan dituntunnya ke arah Lobang memeknya, dan rupanya ia pun ingin merasakan nikmatnya siUcok yang bermain di dalam memeknya.

Walaupun memek Laura sudah penuh dengan cairannya, kurasakan masuknya siUcok kedalam memek Laura susahnya bukan main sehingga kuperhatikan wajah Laura seperti menahan rasa sakit dan terpaksa tekanan siUcokku kutahan sebentar dan kutarik sedikit keatas kutekan lagi sedikit.

Melihat wajahnya sudah biasa dan kurasakan tangan Laura yang berada dipungungku menekan pelan-pelan, lalu kembali siUcokku kutekan lebih kedalam lagi pelan-pelan
Aduh Yo, masih sakit kutahan kembali gerakan siUcok, kulihat mimik mukanya mulai tenang kembali, kutekan kembali siUcok dan mentok, Laura meringis menahan sakit sehingga akupun merasa iba.

Kutarik siUcok pelan-pelan kutekan kembali, Laura pun masih menahan sakit di memeknya, lama-lama mukanya mualai biasa dan kesempatan itu kupergunakan, secepatnya siUcok kutekan kedalam Creeet aduh ,” Yo sakiiittttt??.. sambil menahan pinggulku aku merasa siUcok telah merobek selaput daranya, kutekan terus sampai mentok dan kudiamkan tanpa gerakan, Kuraih tangan kiri dan kanannya kedua tangan kami sudah bertautan dan kuarahkan keatas kepala kami, kucium bibirnya, kupingnya, hidunggnya, kutarik pelan siUcok dan kubenamkan kembali, ia masih merasa sakit, kuulangi sampai kurasakan pinggulnya bergoyang, secara pelan-pelan, kuikuti dengan menari siUcok agak keluar, kutekan kembali dengan pelan..?ahhhhhhh?.ahhhhhhhh?..emmmmmmm?..Yo ?. Tekan lagi, ” Yo, akupun mengikuti irama gerakan pinggul dari Laura, gerakannya semakin cepat, kudiamkan siUcok sesaat,

Yo,”Tekannnnnnnn jangan didiamkan, pleas Yoooooo?? kusumpal Mulutnya dengan bibirku emmmm??ahhhhhhh?..Tiba-tiba Laura menaikkan kakinya keatas pinggulku aku merasa siUcok seperti diurut-urut, aku yakin sebentar lagi ia pasti akan mencapai organism, gerakan pinggulnya semakin ganas aaahhhhh?sshhhhhhh??aaaaahhhh ??. Aku merasakan hentakan kakii Laura memintaku menekan lebih dalam, tiba-tiba cengkraman tangannya pada tanganku menguat dan kurasakan ada sesatu yang mengalir dengan hangat di memeknya Laura, ia orgasem yang kedua kalinya, tubuhnya lemas.

Yo. “stop dulu, istirahat dulu Yo

Kutatap wajahnya yang manis, memancarkan keletihan dan kepuasan, kukecup sekali bibirnya, kulepaskan cengkraman tanganku pada tangannya, kutarik siUcok perlahan-lahan keatas seolah-olah inginku cabut, ketika hanya tinggal kepalanya yang terbenam kutekankan lagi siUcok, tanganku meremas-remas kedua susunya, kutarik-tarik dan kuputar-putar putting susunya.

Yo,”Laura capekkkk, stop dulu ” Permohonan itu tidak kuhiraukan, Yo???.ahhhhhh?..ahhhhhhh??? pleas “Yo, istirahat dulu sebentarrrrr, kulihat kepalanya kekiri dan kekanan sementara matanya terpejam-pejam, kupercepat kocokan keluar masuk siUcok di memeknya dan akibat sangat terasanya gesekan gesekan di memeknya yang terasa sempit itu, membuatku nggak sadar berdesah.sssssshhhhh ssssssshhhh.
enaaaaak… aaaaasss.aaaaaacccrhhhhh.., sedangkan Laura mulai terangsang memeknya akibat keluar masuknya siUcok dan kadang-kadang sampai mentok di ujung memeknya, gerakan pinggulnya mulai terasa lagi, semakin-cepat dan nggak teratur serta kuku jari tangannya mencengkeram kuat di pinggangku sambil sering kudengar rintihan Yoo?. teruuuuus??. Yoooo?.enaaaaak?.Yoooo?.. aaaaahhhhh??. Sssshhhhh??enaaaak?..ahhhhhhh.

Tidak terlalu lama kemudian gerakan pinggul Laura semakin menggila dan aku merasa siUcok seperti dipijit-pijit, pelukan dan cengkeraman kukunya semakin sering dan nafasnya juga sudah semakin cepat dan tiba-tiba Laura berteriak ” Yooooo?..Ammmmpppunnn Ahhhhhhhhh??.Akuuuu???.. ggaaaak???.kuaaaat???.Ahhhhh ”

Mendengar rintihannya aku semakin bernafsu makin kupercepat gerakan siUcok sampai terdengan suara cepret?.ceplok?ceplok??dimemeknya karena begitu
banyak lendir yang ada.
Yooooo??Akuuuuuu???.sekaraaaaang..aduuuh.keluaaaaaaaar.aaaaaacccrhhhhhh,
sabarrrrr sedikkitttt?..lagiiiiii?Yoooo??Jugaaaa keluaaarrrrrr??badannya seperti kejang kejang, dan kubantu orgasme Laura dengan memeluknya kuat-kuat serta kupercepat kocokan keluar masuk siUcok.

” Adddduh, uuuuudah doonggg, lauuuraaa enggakkk kuat laggggiiiii” desis laura
“Yo Jugggggga???maauuuuu?? ahhhhhhhhhhhh?. Kucabut cepat-cepat siUcok dari memeknya, akupun terkulai lemas, kuperhatikan kearah memeknya kulihat di sprei ada bercak darah, Laura betul-betul masih perawan dan malam ini aku sahabatnya telah merenggutnya.

Laura, aku berbisik ditelinganya, “hemmmm ia bergumam, “Laura puas ?” tanyaku sambil mencium pipinya, iapun hanya diam saja tapi dari rona mukanya aku tahu ia sangat puas atas permainan kami malam ini, kulihat ia menitikkan air matanya.

Laura,”aku memanggilnya.
“Laura, menyesal ?” tanyaku
Yoo, “Laura sayang sama kamu, Laura cinta sama kamu “, iapun mengecup pipiku
dengan mesra dan kamipun tidur dengan bahagia.

Saturday, August 25, 2012

Liburan Di Pulau Eksotis Sambil Entotin Temen Temen

Cerita Seks Dewasa - Siang itu suasana di kantin , belakang kampus itu tampak ramai
dengan para mahasiswa dan mahasiswinya, gelak tawa, suara dering
ponsel, suara alat makan beradu, suara mesin kas semua bercampur
jadi satu. Di salah satu meja , tampak tiga mahasiswi yang cantik
sedang asik menikmati makanannya. Tak lama dua orang mahasiswa ,
menghampiri mereka .

“hi girl… coba lihat ini !” kata seorang mahasiswa itu pada tiga
mahasiswi itu . Seorang dari mahasiswi itu mengambil brosur tersebut
dan melihat isi brosur itu, isinya berupa iklan liburan ke sebuah
pulau dengan pemandangan laut indah yang eksotis, suasana pulau itu
dikatakan dalam brosur sebuah pulau yang romantis membuat anda lupa
pulang. “Apaan nih To ?” tanya Winda, gadis manis berambut pendek
terikat ke belakang itu.
“ini adalah liburan kita, Win” jawab Anto.

Seorang mahasiwi lain, yang bernama Cindy , mengambil brosur itu
dari tangan Winda , lalu melihatnya .
“hmm , asik juga yah, tapi ini cuma buat orang borju, lihat aja
biaya tournya , mahalaE|” Cindy berkomentar.
Anto tersenyum, begitu juga , Bayu temannya karena mereka sudah
punya rencana lain.
“kita ke sana , engak lewat tour itu , tapi kita ke sana , dengan
sewa kapal sendiri yang tentu biayanya jauh lebih murahaE|asyik kan
bisa ngerasain seperti di Titanic, kalau pesawat terbang gitu kan ga
bisa 100% nikmatin perjalanannya” terang Anto .
Ketiga gadis yang cantik cantik itu melihat ke Anto.”gimana caranya?
sewa kapal lebih mahal dong..” tanya Cindy penasaran .
“tenang aja , Paman si Bayu , itu orang pelabuhan , dia kenal
seorang yang menyewakan kapal , dengan harga murah..” kata Anto.

” kapalnya sih gak gitu mewah , tapi cukup lah, ada tiga kamar ,
buat kita-kita ..” kata Bayu berpromosi.
“Iya asal bener aja kaya Titanic, bukannya titasik hihihi” canda
Cindy.
“Terus biayanya , jadi berapa seorang ?” tanya Winda yang mulai
tertarik.
“gini aja eloe orang siapin , dua juta aja , masing masing , itu
buat sewa kapal .. selebihnya terserah eloe orang buat uang saku ..”
kata Bayu lagi .

“hi ..lagi pada ngapin nih aE|” kata seorang dosen muda , yang tiba
tiba sudah berada dekat mereka.
“eh Bu Helen, iniaE|kita lagi bikin rencana buat liburan semester nih”
terang Vivian , seorang mahasiswa , yang paling cantik dan agak
pendiam itu . Dan sekali lagi Anto menerangkan rencana liburan
mereka pada dosen muda yang cantik itu .

Setelah mendengar penjelasan itu , Helen pun menganguk
“Vi , kamu ikut ?” tanyanya .
“maunya sih ikut , tapi mesti tanya ortu dulu nih..” jawab Vivian .
“EmmmaE|saya boleh ikut gak ? ” tanya Helen lagi.
“serius nih mau ikut ?!” seru Anto .
Helen tersenyum , ” serius dong, emang acaranya tertutup buat dosen
yah ?”jawab Helen
“Enggak..enggak kita ga bermaksud nolak kok, kita malah seneng
banget kalau Ibu ikut asal jangan ngasih kita kuliah dikapal aja
ntar” jawab Bayu bercanda.
“Kamu ini dasar !” kata Helen menepuk kepala pria itu dengan
brosur “tapi jangan panggil saya Ibu dong ini bukan jam kelas, kan
kesannya tua ntar, panggil CiaE|kan udah sering saya bilang !” Mereka
pun tertawa-tawa.

“Eh, Vi, sekalian aja ajak, si Vina, please yah !” kata Bayu yang
kebetulan naksir adik Vivian yang bernama Vina itu .
“iyah , nanti saya coba ajak dia, tapi mesti tanya ortu dulu nih,
boleh gak.” jawab Vivian . “eh omong omong berapa lama sih ,
perginya ” tanya Helen lagi.
“hmm, kira kira seminggu deh, paling lama sepuluh hari” jawab Anto.
“yah udah , kita bicarakan besok lagi deh , pokoknya kasih kabar
yah , yang bisa ikut siapa saja ..”kata Bayu.
“Oke deh, gini dulu aja, dan mau ajak yang lain juga masih boleh
sih , tapi jangan terlalu banyak, soalnya kapalnya gak terlalui
besar loh” lanjut Anto .
Mereka pun sepakat , untuk bertemu lagi besok , untuk memastikan
bisa atau tidak .
Esok harinya mereka berkumpul lagi di kantin belakang kampus mereka.
Semuanya jadi berangkat . Tentunya beberapa dari mereka berbohong ,
pada orang tua mereka , dengan alasan wajib dari kampus mereka. Yang
paling berbahagia saat itu adalah Anto karena gadis pujaannya Vivian
akhirnya ikut juga. Sudah setahun lebih Anto melakukan pendekatan
terhadap Vivian, memang susah karena Vivian memang seorang mahasiswi
favorit yang bukan cewek gampangan. Memang Anto belum menyatakan
cintanya pada gadis itu, dia menunggu saat yang tepat agar hasilnya
tidak mengecewakan karena mendapat cinta gadis ini memang ibarat
makan ikan yang banyak durinya, kalau tidak sabar dan pelan-pelan
niscaya durinya akan melukai. Namun tanda-tanda ke arah sana sudah
ada, selama ini Vivian memang sudah menunjukkan reaksi positif atas
usaha Anto. Dalam liburan kali inilah Anto berencana mengungkapkan
perasaan hatinya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Bayu, permintaannya agar Vivian
mengajak adiknya, Vina terkabul. Dia mengenal gadis ABG itu ketika
mengantarkan tugas kelompok ke rumah Vivian dan saat itu yang
menerima adalah Vina. Waktu itu dia sempat berkenalan di pintu
rumahnya tapi belum jauh karena Vina sudah keburu dipanggil ayahnya
dari dalam rumah.
Bayu mencatat, nama-nama temannya di carik kertas. Bayu ,Anto,
Vivian, Vina, Winda, Cindy dan Helen .
“eh omong omong , eloe orang mesti cepat setor uang dua jutanya dulu
yah , gua mau bayar sewa kapalnya nih ..” kata Anto . ” yah udah ,
gua tranfer aja yah , kasih no rekening eloe dong..” kata Cindy yang
cantik dan centil itu .
Bayu pun segera menyebutkan no rekening banknya .

” eh , di kapal itu ada dapurnya , jadi bisa di pakai buat masak ,
nah eloe orang juga mesti inget bawa bekal ..” kata Anto . Mereka
pun menganguk . ” sebagian sudah gua atur , beras , dan lauknya
sudah gua siapin , paling gua harapin tambahan dari eloe orang ”
kata Anto lagi . ” sip , deh tenang ajaaE|” kata Helen .

“oke deh, kalau gitu kita tinggal tunggu waktu keberangkatan kita
yah ..” kata Anto lagi dengan semangat. Mereka pun menganguk.
Waktu yang ditunggu telah tiba , mereka pun berkumpul di kampusnya .
Setelah semua siap , dengan menyewa dua buah taxi , mereka berangkat
menuju pelabuhan dimana kapal yang mereka sewa bersandar .

” wah , kapalnya lumayan yah , bagus juga ..” kata Cindy ketika
melihat kapal yang mereka sewa . ” Hi apakabar , saya Bram , yang
akan mengemudikan kapal ini ..” kata kapten kapal itu memperkenal
diri. Cindy pun menyalami kapten kapal yang setengah baya itu .
” Hi kapten ..” sapa Bayu . ” hi juga Bayu ..” jawab Kapten itu ,
yang sudah cukup akrab dengan bayu sebelumnya .

” wah , teman teman kamu , cantik cantik yah ..” kata kapten Bram ,
yang membuat Cindy tersipu genit . ” ayo naik ..” ajak kapten
itu . Mereka pun menaiki tangga kapal itu . ” nah ini kamar , itu
juga semua ada tiga kamar ., kalian pilih deh mana yang cocok ..”
kata kapten Bram.

Mereka pun memilih, Vivian dan adiknya , serta Helen , di kamar
tengah. Sedangkan Cindy dan Winda di kamar belakang . Anto dan Bayu
menempati kamar depan. Setelah membereskan barang barang bawaanya ,
di kamar kapal itu , mereka pun kembali berkumpul dengan kapten
kapal itu.

Kapten kapal itu menerangkan lagi , dimana dapurnya , dimana ruang
kemudi , dan ruang lainnya .
“nah ini buat yang mau mancing , ini rell troling” terang kapten
kapal itu .
“wah asik juga , boleh coba nih ..” seru Bayu.
“Satu lagi yang penting” Bram menambahkan “kalau terjadi apa-apa
ambil kotak berisi penunjang kehidupan ini disini kelak akan sangat
membantu dalam keadaan darurat !” kata pria paruh baya itu seraya
membuka sebuah tempat mirip brankas di salah satu koridor kapal, di
dalamnya ada sebuah kotak merah sebesar CPU berbahan plastik tebal.
Benda itu sengaja diletakkan disitu agar mudah diambil bila
diperlukan pada saatnya. Para muda-mudi itu mangut-mangut mendengar
penjelasan itu.
“lama perjalanan , sampai ke pulau itu , kira-kira tiga empat hari”
terang kapten Bram. Mereka pun menganguk.
“Oke kalau tidak ada pertanyaan lagi…bisa kita berlayar
sekarang ? ” tanya kapten itu.
“sip .. berangkataE|” jawab mereka hampir bersamaan
Perlahan kapal itu bergerak , meninggalkan pelabuhan itu , menuju
lautan luas . Anto dan Bayu berada di dekat ruang kemudi bersama
kapten kapal itu, mereka asyik ngobrol dengan Kapten Bram soal
kelautan dan Sang Kapten berwajah kebapakan itu juga membagikan
banyak pengalamannya selama 30 tahun lebih di laut pada mereka.
Sedangkan Vivian, adiknya, serta Helen , masih berdiam di kamarnya.
Cindy dan Winda asik berkeliling kapal itu .

Di belakang kapal mereka melihat tiga orang anak buah kapal. ABK itu
sedang membersihakan dek kapal itu . Ketiganya berkulit gelap , dan
tampangnya agak seram .
“mau mancing non ?” tanya seorang diantara mereka .
“eh engak bang, cuma lihat lihat aja ..” jawab Cindy.

“oh…gitu gak apa apa , saya suka di lihatin koq, apa lagi sama
cewek cantik” goda ABK yang berkumis dan kurus tinggi itu.
Winda risih mendengarnya , tapi tidak begitu bagi Cindy. Gadis
cantik 21 tahun yang memang genit dan centil itu malah menanggapinya
dengan senyum. Selain mahasiswi dia bekerja part time sebagai SPG
sehingga memang terbiasa menebar pesona seperti itu, kehidupan
seksnya juga lumayan liar, dia dikenal sebagai bispak yang pernah
jual diri ke om-om dengan tarif tinggi.
“ih bisa aja deh si abang..” balas Cindy.
Ketiga ABK itu tersenyum pada Cindy. Tiga pasang mata itu menatapnya
dengan penuh hasrat pada kedua gadis belia itu terutama Cindy yang
saat itu memakai kaos kuning tanpa lengan dipadu dengan hotpants
dari bahan jeans yang pendek dan ketat. Dengan demikian keindahan
tubuhnya tercetak jelas, lengan dan paha jenjangnya yang mulus itu
membuat ketiga pria ini menelan ludah. Winda yang saat itu memakai
kaos longgar dengan celana sedengkul juga menjadi tontonan mereka
tapi kalah perhatian dari temannya yang pakaiannya lebih berani itu.

“eh Cindy balik yuk ..” ajak Winda yang merasa tak nyaman dengan
tatapan mereka.
Cindy pun mengikuti ajakan temanya untuk balik ke kamarnya.
Pandangan ketiga pria itu mengikuti sosok tubuh mereka yang menjauh
terutama Cindy yang sengaja melenggak-lenggokkan pinggul indahnya
seperti berjalan di catwalk, terlebih ketika gadis itu menoleh
sekilas dan mengedipkan mata pada mereka.
“gila , cantik-cantik yah tuh cewek, bikin nafsu ..” kata ABK yang
paling tua berumur sekitar 50an bertubuh kekar itu.
“Tul tuh apalagi yang rambutnya merah itu, nafsuin banget, kayanya
dia suka ke gua tadi liat ga dia ngedip gitu hueheheaE|!” timpal
temannya yang bergigi agak tonggos itu.
“Ngaco dia ngedip gitu ke gua lagi, gua liat jelas kok !” kata yang
kurus tinggi itu.
Mereka kasak-kusuk sendiri padahal kedua gadis itu sudah menghilang
dari pandangan mereka.
“HeiiaE|ngapain disitu ngerumpi !” sebuah bentakan dari belakang tiba-
tiba membuat mereka terkejut dan menoleh ke arah suara.
“Yat, dari tadi saya panggil suruh periksa ruang mesin kok ga jawab,
malah ngerumpi, ayo sana !” perintahnya galak.
“IyaaE|iya kapten, maaf-maaf !” pria tonggos bernama Yayat itu pun
langsung berlari kecil ke dalam.
“Kamu Oman, ikut saya ke ruang kemudi, masa ngepelnya belum beres
juga, kapal udah jalan tau !” perintahnya lagi pada yang kurus
tinggi itu, “kamu terusin sampai bersih ok !”

Bram memang berwibawa di mata anak buahnya, sekali perintah saja
mereka sudah menjalankan perintahnya. Kadang memang dia harus
bersikap keras begitu sebagai seorang pemimpin, namun di saat-saat
santai dia akan akrab bagaikan teman lama dengan mereka.
Malam hari , seusai makan malam , para mahasiswa/i itu bersenda
gurau di dek tengah kapal itu. Walau tak semewah Titantic, tapi
kapal itu di lengkapi televisi dan DVD player. Sambil menonton film
mereka ngobrol membicarakan keindahan tempat rekreasi tujuan mereka.
Lain dengan Cindy, di tengah film dia mulai merasa bosan karena
subtitle filmnya agak ngaco (maklum DVD bajakan) sehingga tidak
terlalu mengerti, maka dia memilih keluar dari dek itu, menikmati
hembusan angin malam lautan luas itu dengan menghisap sebatang rokok
mentolnya. Tidak jauh dari tempatnya tiga ABK itu sedang beres-beres
dan melihat ke arahnya, sekali lagi mereka menikmati keseksian
tubuhnya. Dengan hot-pants jeansnya, paha mutih mulusnya terlihat
jelas.

Satu ABK yang bernama Gino nekat mendekat dan menegurnya.
“Wah , sudah malam ngapain aja diluar gini, nanti masuk angin, non”
katanya membuka pembicaraan.
“ih, bikin kaget saja, saya kira siapa” jawab Cindy.
“lagi ngapain non , sendirian di sini ..” tanya Gino lagi.
“lagi ngerorok , abis makan, mau ?” jawab Cindy , sambil menawarkan
rokoknya pada Gino.
” ah engak ah, rokoknya mentol, nanti jadi impoten” jawab Gino .
“hi hi hi .. emang sekarang gak impotent ?” canda Cindy genit sambil
tertawa kecil.
“wah yah engak toh Non, mau di coba juga boleh !” jawab Gino semakin
berani.
Wajah Cindy agak memerah, sepertinya dia melepar bumerang. Dua ABK
lain juga melihat jelas, Gino berhasil mendekati Cindy.
” ih ..abang , bisa aja , masa ajak saya nyoba sih ..” jawab Cindy ,
yang sepertinya kehabisan kata kata . ” he he he , maf deh non ,
maklum di laut , jarang ada cewek secantik non ..” Gino melepas
rayuannya.

Cindy menjadi ragu , Dia melepar sisa rokoknya ke laut ,
menghembuskan asap rokok dari mulutnya , dan berkata ” sudah yah
bang , saya masuk dulu, dingin disini”. Cindy pun berjalan cepat
masuk ke deck tengah kapal itu , bergabung kembali dengan temannya.

Beberapa jam kemudian mereka pun masuk ke kamar, dan bersiap untuk
tidur . Begitu juga dengan Cindy, yang masuk ke kamar bebarengan
dengan Winda .

Mata Cindy masih terbuka lebar, sedangkan Winda sepertinya sudah
asik di buai mimpi indahnya. Entah apa yang ada di pikirannya, yang
jelas perlahan kancing celana hotpannya di bukanya , dan perlahan
resletingnya di buka . Perlahan jarinya masuk ke balik celana dalam
putihnya, dan merabai selangkangannya sendiri .

Mulutnya mengatup matanya terpejam . Cindy melakukan masturbasi .
Ini memang sering di lakukannya , kalau dia sedang horny , tapi ini
di sebuah kapal. Apa yang di imajinasikannya tidak lain bercinta
dengan para ABK itu, ABK yang berumur jauh lebih tua darinya , dan
berwajah gahar , berkulit kasar. Sudah lebih dari dua bulan Cindy
tidak merasakan sentuhan pria sejak putus dari pacar terakhirnya
sehingga kini libidonya menggebu-gebu merindukan belaian, ciuman dan
persetubuhan dengan lawan jenis yang perkasa dan mampu membuatnya
menggelepar-gelepar.

Tangannya terus bermain di selangkangnnya sendiri , sampai tubuhnya
mengejang. Dan perlahan tangannya keluar dari balik celana
dalamnya . Jelas terlihat jari-jarinya yang basah akibat lendir
birahinya. Cindy membersihkan jari jarinya dengan tissue seadanya.
Setelah menaikan kembali resleting celananya lalu dia tertidur pulas
Esok harinya , Bayu dan Anto , asik memancing dengan troling di
belakang kapal itu , di bantu dengan dua orang ABK kapal itu.
Vivian, Vina , dan Hellen di deck tengah, Vivian dan Helen sedang
asyik ngobrol sambil bersandar di pagar kapal, Helen sedang
bercerita tentang rencana pertunangannya yang tinggal tiga bulan
lagi dan Vivian juga berbagi cerita tentang kehidupan cintanya yang
sedang dibayangi Anto, dia meminta pendapat dan nasehat dari dosen
itu, sementara di belakang mereka Vina sedang berbaring di sebuah
kursi santai sambil mendengarkan lagu dari MP3 playernya, sebuah
kacamata hitam menghiasi wajahnya. Yayat si tonggos itu ketika lewat
di depan mereka matanya tidak bisa lepas dari ketiganya, terutama
Vina yang sedang berbaring dengan celana pendek dan tank top kuning
yang mini sehingga perutnya yang rata itu terlihat.
“Siang Non” sapanya pada mereka sambil cengengesan yang dibalas
ramah oleh ketiganya.
Winda membaca buku di dek terbuka, menikmati angin laut yang segar.

Cindy memeperhatikan Anto dan Bayu yang sedang memancing. Tapi jelas
matanya menatap , para ABK itu. Ada birahi tersendiri dalam diri
Cindy kepada para ABK itu. Cindy melamun dan mengkhayal, bagaimana
rasanya jika vaginanya di masukan penis mereka.

“gua dapet ..gua dapet ..” seru Anto membuyarkan lamunan jorok Cindy.
Dengan di bantu Bayu dan Gino, perlahan lahan , ikan yang terpancing
Anto di tarik ke atas kapal. Lumayan besar ikannya, cukup untuk
memberi makan semua orang dikapal itu bila ditambah empat ekor hasil
sebelumnya yang berukuran biasa saja.
“wah, entar malam bisa , pesta ikan nih ..” kata Bayu.
“YupaE|kasih aja ke BuaE|eh Ci Helen, dia kan masaknya jago” kata Anto

Malam itu , selesai makan ikan bersama , mereka pun bersiap kembali
ke tempat tidurnya. Sebelum pergi tidur Bayu sempat ngobrol-ngobrol
dengan Vina dulu sambil berkeliling kapal, mereka berhenti di ujung
depan kapal itu mengobrol di bawah bintang-bintang di langit,
romantis bagaikan adegan Leonardo dan Kate Winslet di film Titanic
itu. Sepertinya hubungan mereka makin nyata, saat itu Bayu mulai
berani memegang tangan Vina, namun Vina dengan malu-malu menarik
lagi tangannya dan mengajak kembali. Hatinya berdebar-debar,
demikian pula halnya dengan Bayu, pemuda itu sangat berbunga-bunga
karena usahanya yang mulai berbuah. Masih dalam saat yang sama, kita
tengok sebentar keadaan Anto, pemuda itu sedang berjalan menuju
kamar Vivian hendak meminta odol untuk sikat gigi, sekalian berdalih
agar bisa ngobrol dengannya. Dia menemukan pintu kamar yang
ditempati Vivian beserta Helen dan Vina terbuka sedikit. Melalui
cermin besar di samping pintu dia dapat melihat sebagian keadaan di
dalam, tapi tidak ada siapapun di atas ranjang itu. Dia lalu membuka
pintu itu lebih lebar tanpa menimbulkan suara dan melongokan kepala
ke dalam, benar tidak ada orang di ruang itu, tapi terdengar suara
siraman shower dari kamar mandi di dalam sana.

“Hei, ada yang mandi, siapa nih ?” pikirnya mulai ngeres.
Dia tahu Vina tidak akan kembali dalam waktu dekat karena baru tiga
menit yang lalu sedang jalan-jalan di luar dengan temannya. Maka
dengan mengendap-endap Anto mendekati kamar mandi dan mencari celah
mengintip. Betapa bersyukurnya Anto menemukan celah pada tempat
engsel pintu yang sambungannya agak renggang sehingga bila
menepelkan mata di sana akan langsung terlihat ke dalam yang tepat
menghadap shower. Di bawah siraman shower itulah Anto melihat hal
yang paling diimpikannya, tubuh polos Vivian, gadis impiannya itu,
bukan hanya itu di sana juga ada Helen yang sedang menggosok
tubuhnya dengan sabun. Penis Anto langsung bangkit melihat kemolekan
tubuh kedua wanita cantik itu. Payudara Vivian sangat montok dan
kencang ukurannya 34C dengan puting kemerahan yang menggiurkan,
sedangkan Helen walaupun payudaranya sedang tapi bentuknya bagus,
bulat seperti bakpao dengan puting mungil nya yang berwarna lebih
gelap dari Vivian. Baik kemaluan Vivian maupun Helen keduanya
ditumbuhi bulu-bulu lebat yang hitam legam, kontras dengan kulit
mereka yang putih. Tangan Anto mulai memegangi penisnya dari luar
celana trainingnya dan memijatnya perlahan.

Obrolan mereka di dalam juga terdengar oleh Anto. Sepertinya mereka
sedang membicarakan tentang kehidupan cinta masing-masing.
“Emang dulu sama ex kamu waktu SMA udah ngapain aja Vi ?” itulah
pertanyaan Helen yang pertama didengar Anto.
“Nggak kok, kita cuma jalan bareng paling pegangan tangan, papa gua
kan orangnya strict banget sih !”
“Ciuman juga nggak yah ?” tanyanya lagi dan dijawab Vivian dengan
gelengan kepala.
Jawaban ini membuat hati Anto senang, berarti Vivian memang benar-
benar gadis suci sesuai yang diharapkannya.
“Ci sendiri gimana sama tunangannya ?” Vivian yang punggungnya
sedang digosok Helen bertanya balik.
“HihihiaE|yah gitulah, gimana yah omongnya ?”
“YeeeaE|udah ngapain hayo !” goda Vivian.
“MmmaE|coba-coba aja sih selama ngga ngerusak keperawanan, gapapa
kan ?” Helen menjawab agak malu-malu.
“O iya mau tanya Ci, emang kalau French kiss itu enak ga menurut
cici, soalnya saya kadang ngeliat di film sampe main lidah gitu kaya
geli tapi gimana gitu” tanya Vivian.
“WellaE|I think it is hot enough and I enjoy it, sstttaE|jangan bilang
sapa-sapa yah, ini rahasia kita aja” jawab Helen “Vi coba liat sini
biar gua ajarin lu sedikit” katanya seraya membalikkan tubuh Vivian
saling berhadapan dengannya.

Anto tidak bisa mendengar jelas dialog-dialog terakhir Helen karena
dia setengah berbisik. Dia hanya melihat mereka sudah berdiri
berhadapan lalu Helen menyeka rambut panjang Vivian ke belakang.
Mata Vivian terpejam lalu Helen menempelkan bibirnya pada bibir
Vivian. Wow, Anto terangsang sekali melihat adegan yang ini,
tangannya yang tadi hanya memijat dari luar kini masuk lewat atas
celananya dan meraih penisnya untuk dikocok. Tak disangka, gadis
sealim Vivian dan wanita berkharisma seperti Helen bisa melakukan
adegan sesama jenis seperti itu. Anto tidak marah melihat cewek yang
dikejarnya melakukan hal itu karena dia tahu itu tidak berisiko dan
mengakibatkan hilangnya keperawanan, sebaliknya dia sangat
terangsang melihat kedua wanita cantik itu berciuman. Vivian membuka
mulutnya membiarkan lidah dosen itu bermain dalam mulutnya. Mereka
berciuman sambil berpelukan erat, tangan mereka saling raba punggung
dan pantat masing-masing. Bibir Helen makin turun menyusuri leher
hingga tiba di payudara montok Vivian.
“AahhhaE|Ci !” desah Vivian.
Darah Anto semakin menggelegak ketika pertama kalinya mendengar
gadis idamannya itu mendesah.
“Brak !” sebuah suara pintu besi dari luar membuat Anto
terkejut, “Sialan ada yang dateng !” omelnya dalam hati dan bersiap-
siap pergi dari situ.
Anto keluar dari kamar itu tapi di koridor kosong tidak ada siapa-
siapa, jadi tadi itu suara apa ya ? Perhatian Anto tertuju pada
pintu besi tidak jauh dari sana, dia yakin suara itu berasal dari
pintu besi itu. Seingatnya Bram pernah menerangkan bahwa di dalamnya
hanyalah gudang. Namun Anto tetap penasaran ingin tahu apa yang
menimbulkan suara barusan. Dengan hati deg-degan dia mendekat ke
arah pintu itu dan didorongnyaaE|tidak terkunci, nampak sebuah tangga
mengarah ke ruang bawah yang gelap sekali.
“HaloaE|siapa disitu ?!” serunya ke bawahaE|tidak ada jawaban.
Anto memberanikan diri menuruni
tangga dan melihat sekeliling. Sampai di anak tangga terbawah dia
melihat sekeliling yang gelap dan pengap, tidak ada tanda-tanda
kehidupan, malah dia mulai merinding membayangkan yang seram-seram.
Maka segera Anto pun kembali ke atas tapi tiba-tibaaE|
“WhhaaaaE|!” jeritnya kecil “ngapain si lu orang nongol mendadak
gitu ? ngagetin aja !”
Dia mengomel pada Vina dan Bayu yang lewat situ dalam perjalanan
kembali ke kamar Vina.
“Elu yang ngapain disitu To, gelap-gelap gitu cari apa ?” balas Bayu.
“Ngga kok, tadi gua denger ada suara aneh aja makannya gua periksa,
taunya lu duaan nongol di depan gua mendadak gitu, gimana ga
jantungan tuh !”
“Emang lu nemu apa di bawah sana ?” tanya Bayu lagi.
“Nggak ga apa-apa, angin kali tadi, balik yuk !” ajaknya.

Anto bersama Bayu pun akhirnya kembali ke kamarnya. Sebelum naik
ranjang Anto sempat masturbasi di toilet membayangkan tubuh bugil
Helen dan Vivian barusan. Dalam mimpinya pun dia bermimpi melakukan
threesome bersama kedua wanita itu.
tidak Sementara itu Cindy di kamarnya berbaring dengan mata terbuka
lebar. Winda sudah tampak terlelap setelah ngobrol-ngobrol sebentar
tadi. Dan perlahan Cindy beringsut dari ranjangnya, berjalan pelan,
dan dengan hati-hati membuka pintu kamarnya. Dia berusaha tidak
menimbulkan suara sedikit pun . Setelah keluar dari kamarnya , Cindy
diam sesaat di deck tengah itu , yakin temannya sudah terlelap,
Cindy berjalan keluar.

Angin laut malam itu berhembus kencang , menerpa rambut kemerahannya
yang indah. Sambil berdiri bersandar di pagar kapal itu Cindy
menghisap sebatang rokoknya. Matanya berlirik ke kiri dan kekanan,
tapi tak ada orang.
Dengan berpegangan pada pagar kapal itu , Cindy berjalan ke deck
belakang . Saat itu dia menemukan , Gino sedang membereskan tali
senar , bekas di pakai memancing tadi siang.
“bang lagi ngapain ?” tanya Cindy .

“buset si non, bikin kaget, saya kirain hantu laut , gak taunya
bidadari” rayuan itu terlepas dari mulut Gino.
“ih .. abang genit ah !” kata Cindy dengan mencubit dada Gino. Tentu
saja Gino jadi semakin berani , dan ini adalah lampu hijau buat Gino.
Dan Cindy sudah kehilangan harga dirinya , dia tak peduli lagi
dengan yang namanya malu , dia ingin memenuhi obsesinya , hasratnya
untuk bercinta dengan orang orang kasar. Cubitan di dada itu , di
balas dengan genggaman tangan Gino yang mengenggam tangan lembut
Cindy . ” Non , ke sini saja , banyak angin, nanti kalau masuk angin
enggak enak liburannya !” kata Gino sambil menarik tangan Cindy
masuk ke ruang di deck belakang kapal itu.

Ruang yang khusus untuk ABK itu terasa pengap, disana terdapat dua
buah ranjang susun, sebuah meja yang diatasnya terletak gelas yang
setengahnya terisi kopi, kartu, asbak dan lain-lain, serta sebuah
kursi panjang. Gino membuka jendela itu sedikit . Dan membiarkan
angin laut bersirkulasi dalam ruang belakang kapal itu.

Mereka berdua duduk di kursi panjang . Mata Cindy melihat
sekeliling ruang itu . Tempatnya cukup luas , tapi tak senyaman deck
penumpang. Mata Gino mencuri-curi pandang antara paha mulus Cindy
dan belahan dadanya yang memakai pakaian berleher rendah.
“Eh yang lain kemana bang, kok sepi gini ? ” tanya Cindy .
“Walah , masa satu cowok gak cukup sih non ?” jawab Gino.
Cindy menatap Gino dengan mengerutkan dahi “ih abang , orang tanya,
kok malah ngeres pikirannya” kata Cindy.
Dalam ruang belakang itu hasrat Gino tak tertahankan lagi. Diapun
nekat , wajahnya yang hitam, mendekati wajah Cindy yang putih,
sungguh terlihat kontras. Gino dengan cepat mencium bibir Cindy . ”
uff aE|uffaE|” suara Cindy , yang berusaha meronta . ” bang ..
ih ..ngapain sih ..” kata Cindy .

“waw , Non maaf , saya jadi nafsu sama Non” kata Gino dan kembali
menciumi bibir Cindy. Cindy meronta , namun Gino mendekapnya. Lidah
Gino terus mendesak masuk ke mulut Cindy . Lidah itu bermain dalam
mulut Cindy , menyapu ke sana kemari , mengelitik mulutnya . Lidah
Cindy pun ikut bermain, birahinya meninggi .

Tangan Gino pun mulai merabai buah dada yang montok . Tangan itu
bermain di t-shit putihnya . meremas pelan selembut mungkin .
Tangan kasar itu juga merabai paha mulus putih Cindy . ” bangaE|
ahhh ..malu..jangan ahaE|udahaE|” erang Cindy perlahan .
Lain di mulut , lain di hati. Mulut Cindy bisa menolak, tapi
birahinya tidak, lagipula penolakan itu tidak sungguh-sungguh.
Vaginanya mulai terasa basah dan Cindy semakin tak bisa mengusai
tubuhnya. Tangan Gino mulai melepas t-shirt Cindy . juga bra
putihnya . ” wah ..wah ..benar benar indah aE|” guman Gino , yang
langsung melumat putting susu Cindy. Cindy memejamkan matanya dan
menikmati sensasi nyata dari imajinasinya. Lidah Gino terus bermain
di putting susunya. Buah dada yang lainnya mendapat sentuhan ,
rabaan , dan remasan lembut tangan kiri Gino . ” bangaE|ahhhaE|..” erang
Cindy perlahan .

Birahi Cindy semakin meningkat . Dan sekarang tangan Gino mulai
membuka kancing celana hot pantsnya , menurukan resletingnya , dan
melepas celana hot pants itu. Sambil membuka kaki gadis itu lebar ,
kepala Gino mendekati selangkangan Cindy yang masih terbalut celana
dalam g-string berwarna putih.

Terlihat ada bercak basah di selangkangannya . Hidung Gino mendekati
selangkangan celana dalam itu , dan menghirup aromanya ” hmmm ,
benar-benar mantap kale..!” puji Gino.
Tangan gino lalau melepas celana dalam putih itu dan kembali
melebarkan kedua belah kaki Cindy .

Mata Gino nanar menyaksikan vagina Cindy yang masih muda itu.
Belahannya masih terasa sempit dengan bulu bulu halus yang tumbuh
subur di bukit vaginanya .
Dengan dua jarinya Gino membelah bibir vagina itu , dan menemukan
klitorisnya yang merah, serta liang vaginanya yang tampak basah.

Lidah Gino pun menjulur , menjilati vagina Cindy . ” ahhhh aE|ahhhaE|
enakaE|.” erang Cindy , dengan tubuh yang mengeliat. Lidah Gino terus
saja menyapu vaginanya . bergerak cepat di klitorisnya yang terlihat
semakin tegang. Cindy pun terus menerus mengeluarkan erangan
nafsunya.

Lidah Gino semakin liar menyapu vagina Cindy sehingga birahi Cindy
dengan cepat memuncak.” ahhh sudah bang..sudah aE| pake itu ajaaE|”
pinta Cindy .

Entah mimpa apa Gino semalam , tapi dia merasa sangat beruntung ,
bisa menikmati tubuh muda belia gadis ini . Dengan segera Gino
melepas celananya sekaligus kolor hitamnya . Penisnya langsung
mencuat , tegang sekali .

Gino menyodorkan penis itu di mulut Cindy. Cindy meraba-raba penis
itu, dicium kepalanya, dijilat atau digesekkan ke pipi mulusnya.
Mata Gino merem-melek karenanya. Kemudian batang penisnya di remas
jari jari lembut Cindy dan diarahkan ke mulutnya yang membuka. Penis
itu lalu dikulumnya.
” ahhhaE| non aE| ahh..enakaE|.” erang Gino sambil meremasi rambut Cindy.

Penis itu bergerak dalam mulut Cindy , maju mundur . Tapi tak lama ,
Cindy segera mengeluarkan penis itu dari dalam mulutnya . ” bang ,
masukin aE|.” Pinta Cindy , yang tak sabar ingin segera merasakan
penis itu berada dalam vaginanya.

Gino pun yang sudah bernafsu segera mengarahkan penis itu ke vagina
Cindy . Kepala penis itu , menempel di liang vagina Cindy. Perlahan-
lahan penis yang besar itu menyesaki ruang di liang vaginanya.
Walaupun sudah tidak perawan tapi baru pernah dia dimasuki penis
sebesar itu, sehingga rasa nyeri pun terasa olehnya
” awwwaE|. ” jerit Cindy , ketika penis Gino yang besar
itu ,menerobos masuk liang vaginanya. Kemudian Cindy mengigit
bibirnya dan Gino terus menekan , hingga penisnya mentok di dalam
vagina Cindy. Perlahan Gino menarik penisnya dari liang vagina
Cindy , disertai erangan erotis Cindy .

” gila , enak bener m*m*k kamu non aE|” Gino melenguh , sambil terus
mengerakkan penisnya dalam vagina Cindy . Mereka terus asik
masyuk , dalam permainan laga birahi ini .

Tanpa terasa oleh dua insan berlainan jenis ini , pintu ruang deck
belakang itu terbuka , dan dua orang ABK teman Gino , masuk ke ruang
itu . Mereka tercengang , dan menatap nafsu , Gino dan Cindy yang
tengah berpacu dalam birahi itu .
“eh , lagi pada asik-asik yah !” tegur Yayat . Mereka berdua sempat
berhenti , dan memandang ke arah asal suara itu. Gino tersenyum ,
rupanya temannya sendiri , lalu terus kembali bergerak. Tapi Cindy
sepertinya meronta dan berusaha menutupi bagian tubuhnya.
” non , boleh ikutan gak ? ” tanya Yayat . Cindy tak menjawab ,
tapi pertanyaan itu langsung di jawab oleh Gino ” boleh, ayo Yat aE|
ini bidadari yang bikin kita nefsong sampe kebawa mimpi itu”
Yayat menghampiri Cindy , dan menarik t shirt yang di gunakan Cindy
untuk menutupi buah dadanya. Cindy tak melawan sehingga Yayat
semakin leluasa , mulutnya langsung melumat putting susu Cindy, gigi
tonggosnya melakukan gigitan-gigitan ringan. ” ahhhaE| ahhaE| ahhaE|.”
erang Cindy . Nafsu Cindy semakin menjadi , apa yang ada dalam
imajinasinya , sekarang menjadi real .

Melihat itu , Oman menjadi berani untuk turut serta. Oman pun
menghapiri mereka dan mengambil tempat di sebelah kiri Cindy , dan
langsung menjilati putting susu Cindy yang tampak menonjol ,
mengeras itu . ” ahhhh aE|. ashhh aE|saya engak kuataE| enak bangetaE|”
erang Cindy , tanpa rasa malu malu .

Gino terus bergerak , penisnya keluar masuk liang basah milik Cindy
itu. Sementara itu Yayat dan Oman , terus menyusu dan menjilati
putting susu Cindy . Tubuh Cindy semakin ke nikmatan , dan terus
mengeliat . Rasa orgasme semkin mendekati Cindy . ” ahhhaE| ahhh aE|
saya aE|sudah hampir.. terusaE|.” erang Cindy .

Gino yang sudah pengalaman dalam bercinta , tahu lawannya akan
segera orgasme , gerakan penisnya menjadi semakin liar , menghentak
hentak . ” ahhhhaE|.ahaE|. ” erang Cindy , dengan tubuhnya yang terus
mengeliat. Gino pun terus begerak , dan akhirnya tubuh Cindy
mengejang.

” ahhhh aE|saya keluaraE|..” erang Cindy , lalu tubuh gadis muda itu
mengejet beberapa kali . Gino memperlambat gerakan penisnya , dan
merasakan , ada getaran di dalam vagina Cindy. Liang vagina itu
semakin basah lalu tak lama kemudian Gino merasa penisnya seperti
terendam cairan yang hangat.
Setelah beberapa saat , Cindy kembali mengerang. Saat Gino kembali
mengerakan penisnya dengan cepat dalam liang vaginanya, cairan
orgasme itu memperlancar keluar-masuknya penis itu sehingga otomatis
sodokannya pun semakin keras. ” ahhhaE| ahaE| ahaE|.. ” erang Cindy .

Cindy terus mengerang selama hampir lima menit , sebelum akhirnya
Gino menumpahkan spermanya dalam vagina Cindy . ” ohh .. enak
bangetaE|. ” Gino melenguh . Lalu perlahan menarik keluar penis
besarnya yang telah lemas itu . Bersamaan dengan tercabutnya penis
itu, spermanya yang kental juga meleleh keluar dengan deras dari
liang vagina Cindy.

Dua ABK yang lain saling berpandangan, menentukan tubuh gadis
ini , milik siapa selanjutnya. Yayat dengan segera melepas
celananya . Penisnya yang tegang , langsung terlihat jelas oleh
Cindy . ” ohh aE| tunggu dulu bang , masih lemes nih aE|” kata Cindy .

Tapi Cindy segera , memegang penis itu , meremasnya dan
mengocoknya . ” ohhh ..enak nonaE|ohaE|.. ” erang Yayat . Lalu Cindy
mendekati penis yang juga besar itu kemulutnya , lalu
mengulumnya . ” oh .. gila non hebat banget sihaE|” kata Yayat .
Cindy juga tampak bernafsu mengulum penis Yayat .

Oman juga tak tinggal diam , dia juga melepas celananya , lalu
mendekati penisnya ke mulut Cindy , meminta di servis juga .
Bergantian Cindy mengulum dua batang penis itu.
Kedua ABK itu terus melenguh , menikmati servis Cindy . ” gila ,
enak banget , sedotannya aE|” erang mereka .

Setelah beberapa saat , Yayat bersiap mencicipi vagina gadis muda
itu . Penisnya di arahkan ke liang vagina Cindy . Kembali kedua
kaki Cindy terbuka lebar , memperlihatkan vaginanya yang becek dan
merah merekah itu. Penis Yayat yang diameternya lumayan lebar itu
perlahan memasuki liang vaginanya. ” uffffffaE|aE|..” erang Cindy ,
dengan suara tertahan , oleh penis Oman , yang masih berada dalam
mulutnya .

” ohhh aE|benar benar enak m*m*k kamu non ..” erang Yayat , sambil
terus mengerakan batang penisnya dalam liang vagina Cindy . Begitu
juga Oman yang asik mengerakkan penisnya dalam mulut Cindy.

Tapi semakin lama gerakkan mereka semakin kasar , entah mungkin
karena mereka terlalu bernafsu . Oman terus mendesak dan mendorong
batang penisnya terus masuk ke dalam mulut Cindy , hingga ke
tengorokkannya. Ini membuat Cindy tak nyaman , dan menjadi mual,
Cindy berusaha meronta , tapi Oman menahan dan memegang kepalanya
dengan erat .

Sedangkan Yayat, terus mengehentak hentak vagina Cindy dengan penis
besarnya itu . Mulut Yayat terus mengerang , ” gila enak banget
nih !”
Gino hanya duduk sambil menghisap sebatang rokok kretek , menikmati
permainan sex kawannya.

“effff aE|.uff ufffaE|.euuffaE|..” suara erangan Cindy , tertahan .
Yayat semakin liar bergerak , tubuh Cindy mengeliat dan meronta ,
kali ini Cindy tak menikmati permainan ini. Dia merasa seakan-akan
diperkosa karena permainan sex dua ABK ini semakin kasar dan liar.

“ohhaE|enak banget, gua udah mau keluar nihaE|” erang Yayat . ” gantian
yuk .. ” kata Oman. Yayat pun mencabut penisnya dari vagina
Cindy , dan Oman menarik penisnya dari mulut Cindy . Saat itu
kesempatan buat Cindy , dia meronta ” gak enak , abang mainnya
kasar .. udah saya gak mauaE|” Cindy protes .

Mereka berdua hanya tersenyum , lalu Oman melebarkan ke dua kaki
Cindy , Cindy meronta , tapi Yayat memegangi tubuhnya . ” ahhhh
aE|.sakit. aE|” erang Cindy , ketika Oman dengan tiba-tiba ,
menghujamkan penis besarnya di liang vagina Cindy . Penis Oman yang
paling besar itu masuk dengan cepat , dan langsung bergerak liar .

” ahhh aE|stop .. pelan-pelan ..bang.. sakitaE|.” erang Cindy. Tapi
Oman seperti binatang buas yang tak meperdulikan masangnya. ABK ini
terus berusaha memuaskan nafsu birahinya. Yayat yang penisnya masih
tegang keras itu , mendesak mulut Cindy . Walau Cindy meronta ,
tapi penis itu masuk ke mulutnya.Cindy tak bisa menolak , karena
Yayat menjambak rambutnya kalau dia merapatkan mulutnya. Penis
Yayat pun leluasa bermain di mulut Cindy.

Dua ABK itu sudah bernafsu sekali , gerakan gerakan penis mereka
membawa orgasme .
Yayat melenguh ” ohhhaE| gua keluaraE|..” . Spermanya yang kental dan
panas , muncrat dalam mulut Cindy . Ketika Yayat menarik penisnya ,
Cindy segera memuntahkan spermanya dan terbatuk-batuk, sekujur
bibirnya penuh lelehan sperma. Yayat tersenyum ” he he he , asin
yahaE|” .

Sedang Oman masih asik dengan gerakan liarnya , menyodok nyodok
liang vagina Cindy . ” gua juga keluar nihaE|.” erang Oman tak lama
kemudian . Oman membenamkan habis batang penisnya dalam vagina
Cindy , lalu menembakan spermanya di vagina Cindy . ” ahhh enak
banget aE|..” erang Yayat .

Ketiga ABK itu puas sekali, masing masing teduduk lemas. Malam itu
mereka ibarat mendapat durian runtuh. Dengan pekerjaan yang membuat
mereka sering jauh dari istri, mereka biasanya melampiaskan
birahinya pada pelacur-pelacur di daerah pelabuhan, namun mereka
tidak ada seperseratusnya dari mahasiswi cantik yang baru saja
mereka garap bersama itu yang biasa hanya sanggup mereka angan-
angankan dalam lamunan jorok. Setelah merasa cukup tenaga, Cindy
segera memakai pakaiannya, tubuhnya masih agak lemas, tapi dia
memaksakan diri berjalan sebelum nafsu mereka pulih dan menggarapnya
lagi, bisa-bisa pingsan dia dibuatnya. Cindy pun membuka pintu ruang
belakang kapal itu lalu berjalan kembali ke kamarnya dengan tertatih-
tatih.

Dalam kamarnya Cindy berbaring lemas, lelah sekali rasanya seorang
diri melawan tiga orang ABK yang jarang menyentuh wanita. Vaginanya
masih terasa perih, demikian juga payudaranya masih nyut-nyutan
karena dikenyot habis-habisan oleh mereka. Cindy menatap temannya
yang masih tertidur lemas. Cindy tersenyum, entah apa yang lucu,
tapi yang jelas obsesinya terkabul, dia bercinta dengan tiga ABK
sekaligus manusia pekerja kasar yang terbukti keperkasaannya.

Friday, August 24, 2012

Buntut Taruhan Gara Gara Bayar Uang Kuliah

Cerita Seks Dewasa - Namaku Nina, saat ini aku sedang kuliah semester akhir di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Saat kejadian itu menimpaku, aku sedang duduk di semester dua. Sebenarnya seluruh keluargaku tinggal di kota Jakarta, dan mereka agak keberatan jika aku harus kuliah di luar kota, tapi saat itu aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri hingga akhirnya mereka mengijinkan aku untuk melanjutkan studi di kota tersebut.

Di Bandung aku tinggal di sebuah kos putri yang letaknya tidak begitu jauh dari kampusku. Aku tinggal bersama seorang temanku yang aku kenal di kampus. Namanya Lenny, dia gadis berdarah Sunda asli. Padahal dia bisa saja tinggal di rumahnya yang juga berada di kota Bandung, tapi menurutnya dia ingin lebih bisa berkonsentrasi dengan kuliahnya, jadi dia memutuskan untuk tinggal di kos bersamaku.

Lenny adalah gadis yang sangat pintar dan juga sopan, begitu sopannya sampai-sampai dia tidak pernah mengenakan pakaian yang seksi atau sedikit terbuka saat bepergian atau berangkat kuliah, padahal menurutku wajah Lenny sangat cantik, rambutnya panjang dan hitam dengan kulit tubuh yang putih mulus, layaknya gadis gadis Sunda pada umumnya, sementara postur tubuhnya juga sangat bagus dan proporsional, pinggangnya ramping didukung oleh kedua belah kakinya yang jenjang, apalagi Lenny juga memiliki payudara yang besar, mungkin dua kali lebih besar daripada buah dadaku. Pokoknya, jika saja Lenny mau berdandan dan sedikit mengubah penampilannya, dia bisa menjadi salah satu gadis tercantik di tempat kuliahku.

Untuk memenuhi kebutuhanku agar tidak terlalu mengandalkan uang kiriman dari orang tuaku, aku memutuskan untuk kuliah sambil bekerja paruh waktu di salah satu club billiard yang cukup besar dan eksklusif di kota Bandung. Aku bekerja menjadi salah seorang penjaga meja, sekaligus merangkap pramusaji di club tersebut, kadang kadang aku merasa sangat lelah dan letih, apalagi jika aku harus terpaksa pulang larut malam dari tempat kerja. Tapi tidak apalah, yang penting aku bisa mempunyai cukup uang dan dapat memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa harus mengandalkan kiriman uang dari orang tuaku, lagipula aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri.

Singkat cerita, hari itu aku sedang bingung, karena besok adalah hari terakhir waktu pembayaran uang semester, padahal kiriman dari orang tua belum juga sampai ke rekeningku, dan saat gajianku masih seminggu lagi, sementara uang tabunganku sudah habis untuk keperluan dan biaya hidupku sehari-hari hingga sore itu aku benar benar pusing memikirkannya. Akhirnya, kuberanikan diri untuk meminjam uang ke club tempat aku bekerja, tapi perusahaan tidak dapat mengabulkan permohonanku dengan alasan saat itu tidak ada dana yang tersedia karena seluruh uang yang ada sudah disetorkan ke pemiliknya.

Malam itu, dengan perasaan sedih dan bingung, aku berkemas untuk pulang kembali ke kosku. Saat itu jam kerjaku memang telah selesai. Aku berjalan lunglai dari ruangan karyawan, bingung memikirkan nasibku besok, saat kulihat Lenny sudah menungguku di ruang tunggu

“Gimana Nin? Dapat pinjaman uangnya?” tanya Lenny.
“Nggak bisa Len.. Nggak apa-apa deh, besok gua minta keringanan aja dari kampus” ujarku dengan nada lemas.
“Elu sendiri, dari mana.? Tumben mampir ke sini?” tambahku sambil melihat ke arah jam tanganku, saat itu sudah hampir jam sepuluh malam, tidak biasanya Lenny berani keluar malam-malam, pikirku heran.
“Gua abis dari mall di depan, ngecek ATM, siapa tahu kiriman gua udah sampai, buat nalangin bayaran elu, tapi ternyata belum sampai..” ujar Lenny dengan nada menyesal.
“Thanks banget untuk usaha lu Len.” ujarku sambil mengajaknya pulang.

Kami berdua berjalan melewati ruangan billiard. Saat itu di sana masih ada empat orang tamu yang sedang bermain ditemani oleh manajerku, mereka adalah teman-teman dari pemilik club tersebut, jadi walaupun club tersebut sudah tutup, mereka tetap dapat bebas bermain. Aku sempat berpamitan dengan mereka sebelum aku kembali berjalan menuju pintu keluar saat tiba-tiba salah seorang dari mereka memanggilku..

“Nin.., Temenin kita main dong..!” serunya.
“Kita taruhan. Berani nggak?” tambah temannya sambil melambaikan tangannya ke arahku.

Aku tertegun sejenak sambil menatap bengong ke arah mereka. Rupanya mereka sedang berjudi, dan mereka mengajakku untuk bergabung. Wah, boleh juga nih. Siapa tahu menang.., pikirku.

“Taruhannya apa? Saya lagi tidak bawa uang banyak..!” seruku, sementara kulihat Pak Dicky manajerku, berjalan menghampiriku.
“Gampang.., kalau kamu bisa menang, satu game kami bayar lima ratus ribu, tapi kalau kamu kalah, nggak perlu bayar, kamu cuma harus buka baju aja, kita main sepuluh game.. Setuju?” seru salah seorang dari mereka.

Aku terkesiap mendengar tantangannya, kulirik Lenny yang saat itu sudah berada di depan pintu keluar, dia tampak menggelengkan kepalanya, sambil memberi tanda kepadaku, agar aku cepat-cepat meninggalkan club tersebut.

“Brengsek! Nggak mau..!” ujarku sambil membalikkan tubuhku. Bisa-bisa aku telanjang kalau dalam sepuluh game itu aku kalah terus, pikirku dengan sebal. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti saat tangan manajerku menahan pundakku.
“Terima aja Nin, kamu kan lagi butuh uang, lagipula mereka nggak begitu jago kok..!” ujar manajerku berusaha membujuk.
“Tapi Pak..!” jawabku dengan nada bingung, sebenarnya aku mulai tertarik untuk memenuhi tantangan mereka, dengan harapan aku bisa memenangkan seluruh game, lagipula aku benar benar membutuhkan uang tersebut.
“Sudahlah.! Kalau kamu bersedia nanti saya kasih tambahan uang, lagipula nggak enak menolak tamu-tamu bos..” ujarnya sambil terus membujukku.
“Oke.. Tapi kalau saya kalah terus gimana?” tanyaku kepada mereka.
“Tenang aja, kamu hanya lepas baju aja kok! Kami janji nggak akan berbuat macam macam..!” seru orang yang berada paling dekat denganku.
“Baik.. Tapi janji.. Tidak akan macam macam!” jawabku memastikan perkataan mereka, sementara Lenny langsung berjalan menghampiriku.
“Lu udah gila apa Nin..! Gua ngga setuju!” serunya dengan nada marah.
“Tenang aja Len, elu duduk aja di sana, nungguin gua..! Oke?” ujarku sambil menunjuk ke arah sofa yang berada di pojok ruangan.
“Tapi Nin?” ujar Lenny dengan wajah ketakutan.
“Udah, nggak apa-apa, elu nggak perlu takut..” sanggahku sambil tersenyum menenangkan hatinya, akhirnya Lenny pun berjalan dan duduk di sofa tersebut.

Sudah lima game berjalan, aku menang dua kali dan kalah tiga kali, membuat aku harus menanggalkan jaket, blouse dan celana panjang yang kukenakan hingga saat itu hanya tersisa bra dan celana dalam saja yang masih melekat di tubuhku. Jangan sampai kalah lagi, ujarku dalam hati, dua kali lagi aku kalah, maka aku akan benar-benar bugil. Pikiranku mulai panik, sementara di pojok ruangan, Lenny sudah tampak mulai resah melihat keadaanku.

Tapi naas. Udara dingin dari AC di ruangan tersebut membuat aku sulit untuk berkonsentrasi sehingga aku kembali kalah pada game keenam, membuat mereka langsung bersorak riuh, memintaku untuk segera menanggalkan bra yang kukenakan. Aku sudah hampir menangis saat itu, tapi mereka terus memaksaku, maka dengan perasaan berat dan malu, akhirnya kulepaskan juga bra yang melekat di tubuhku, membuat buah dadaku langsung mencuat dan terbuka di hadapan mata mereka yang tampak melotot saat memandang tubuh telanjangku.

“Sudah.. Sudah, kita berhenti saja, saya menyerah!” seruku memelas sambil berusaha menutupi tubuh bagian atasku, saat itu aku sudah merasa sangat malu dan tidak lagi berminat untuk meneruskan taruhan itu.
“Nggak bisa..! Perjanjiannya kan sampai kamu telanjang, baru permainannya selesai..!” protes lawan mainku, akhirnya aku hanya bisa menuruti kemauannya.
“Buka.. Buka..!” sorak mereka saat pada game berikutnya aku kembali kalah dan harus melepas celana dalamku.
“Sudah.. Kita batalkan saja taruhannya..!” jeritku sambil meraih pakaianku dan berlari menjauhi mereka, tapi salah seorang dari mereka dengan sigap menubrukku dari belakang, membuatku terhempas di atas meja billiard dengan posisi menelungkup dan laki-laki itu menindihku dari atas.
“Lepaskan..!” teriakku kaget sambil meronta dengan sekuat tenaga, tapi laki laki itu terus menindihku dengan kuat, membuat aku benar benar tidak bisa bergerak sama sekali, akhirnya aku terkulai lemah tak berdaya sambil terus menangis.
“Pak dicky..! Tolong saya Pak..!” jeritku sambil menyapukan pandangan mencari manajerku.

Betapa terkejutnya aku saat kulihat Pak Dicky sedang mendekap tubuh Lenny sambil tangannya berusaha melucuti pakaian yang melekat di tubuhnya dibantu oleh tiga orang temannya. Bersamaan dengan itu kurasakan sesuatu mendesak masuk ke dalam liang kemaluanku. Rupanya saat itu laki-laki yang berada di atas tubuhku, sudah akan memperkosaku. Dia menyelipkan batang penisnya dari sela-sela celana dalam yang kukenakan dan terus menekannya dengan keras, membuat batang kemaluannya makin terhunjam masuk melewati bibir vaginaku.

“Jangan.. Ouh..!!” jeritku sambil berusaha menahan pahanya dengan kedua tanganku, tapi batang kemaluannya terus melesak masuk, sehingga akhirnya benar-benar terbenam seluruhnya di dalam liang vaginaku.
“Jangan keluar di dalam, Pak..!” gumamku pelan sambil menahan tubuhku yang berguncang saat laki-laki itu mulai memompaku.
“Oke.. Uh.. Ssh.. Kamu cantik Nina..!” ceracau laki laki itu saat mulai bergerak di dalam tubuhku.
“Ouh.. Hh..!” desahku lirih.

Aku memejamkan mataku, merasakan getaran yang mulai menjalari seluruh tubuhku, saat pemerkosaku menghentakkan tubuhnya dengan makin cepat, membuat aku mulai terangsang saat itu, dan tanpa sadar aku pun ikut menggerakkan pinggulku, berusaha mengimbangi gerakannya.

Aku memang sudah sering melakukan hubungan badan dengan pacarku sejak aku masih duduk di bangku SMU, malah kegadisanku telah terenggut oleh pacarku saat aku masih di kelas satu SMA, dan sejak saat itu kami rutin melakukan aktifitas seks, sampai akhirnya aku pergi melanjutkan studi di Bandung, dan sekarang aku kembali merasakan kenikmatan itu setelah selama satu tahun aku tidak pernah lagi bersetubuh.

“Ouh.. Shh. Ah.” desahku sambil terus menggoyangkan pinggulku.

Sementara di pojok ruangan, kulihat Lenny sedang berjuang dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari keempat orang yang sedang menggumulinya. Saat itu keadaan Lenny benar benar sudah sangat berantakan, kemeja lengan panjang yang di kenakannya sudah terbuka lebar dan hampir lepas dari tubuhnya, sementara bra yang dikenakannya sudah tampak setengah terbuka hingga membuat satu payudaranya menyembul keluar.

“Jangan.. Jangan.. Lepaskan.. Tolong..!” jeritnya keras sambil berusaha meronta dan melawan dengan gigih saat seseorang dari mereka mulai mengangkat rok panjang yang dikenakan oleh Lenny.
“Jangan..! Toloong..!” jerit Lenny makin keras sambil menendang-nendangkan kedua belah kakinya saat mereka mulai menggerayangi tubuh bagian bawahnya dengan buas.
“Hentikann..! Hentikan.!” teriak Lenny putus asa sambil menangis sejadi-jadinya sementara tangannya berusaha menggapai ke arah bawah, mencoba menahan tangan-tangan yang sedang melolosi celana dalamnya, tapi gerakannya tertahan oleh tangan Pak Dicky yang saat itu terus mendekap tubuh Lenny dari belakang.

Manajerku itu terus memaksanya untuk tetap berada di dalam pangkuannya, sambil sesekali meremas dan mempermainkan puting buah dada Lenny. Beberapa saat kemudian, dua orang dari mereka mengangkat tubuh Lenny sambil merenggangkan kedua belah kakinya, sementara Pak Dicky tetap mendekap tubuh Lenny sambil mulai mengarahkan batang kemaluannya ke sela-sela bibir kemaluan temanku itu.

Saat itu keadaan Lenny sungguh sangat mengenaskan, pakaian bagian atasnya sudah terbuka dengan lebar, sementara roknya pun telah tersingkap sampai sebatas perutnya, dan aku dapat melihat jelas, saat tubuh Lenny tampak menggeliat hebat ketika kedua orang yang mengangkat tubuhnya itu mulai menurunkannya dengan perlahan, membuat batang kemaluan Pak Dicky melesak masuk ke dalam liang vaginanya.

“Ough..! Jangaan..!” jerit Lenny parau sambil meringis kesakitan ketika vaginanya mulai dijejali oleh kemaluan Pak Dicky.

Perlahan, kulihat batang kemaluan itu terus melesak masuk sampai akhirnya lenyap dan terbenam seluruhnya di dalam liang rahim Lenny, saat itu tubuh Lenny benar-benar telah menyatu dengan tubuh Pak Dicky. Dan Lenny tampak mengerang kesakitan sambil menggeliatkan tubuhnya.

“Arghh.. Sakitt.., perihh, lepaskan itu dari tubuhku..!” jerit Lenny dengan nafas yang tersengal-sengal, dia masih berusaha meronta, ketika Pak Dicky mulai bergerak di dalam tubuhnya, membuat Lenny makin menjerit-jerit kesakitan, sampai akhirnya tubuhnya terkulai lemas tak sadarkan diri di dalam dekapan Pak Dicky.

Pak Dicky masih terus memompa tubuh Lenny yang pingsan itu dengan kasar, begitu kasarnya hingga membuat tubuh temanku itu ikut berguncang dengan hebat. Buah dadanya yang besar tampak menggeletar dan terlempar kesana kemari saat tubuhnya bergerak naik turun, sementara saat itu aku pun masih terus digarap oleh laki-laki yang sedang memperkosaku, sampai akhirnya tubuhku menegang dengan keras.

“Ohh..!” aku mendesah keras saat telah mencapai orgasme, seluruh sumsum di tulangku serasa ditarik keluar ketika aku benar-benar telah mencapai puncak kenikmatan, tapi tiba-tiba aku menjadi panik luar biasa saat kurasakan penis laki-laki itu berdenyut keras di dalam liang rahimku.

“Jangan.. Jangan di dalam..! Lepaskan.. Bajingan..!” jeritku putus asa saat kurasakan cairan hangat membanjiri rongga kemaluanku. Laki-laki itu telah menyemburkan cairan spermanya di dalam liang rahimku.

Sesaat kemudian posisinya sudah digantikan oleh temannya, dan aku kembali diperkosa. Sementara di pojok ruangan, Lenny pun masih terus digarap oleh mereka, kulihat darah keperawanannya meleleh keluar dari sela-sela bibir vaginanya, bercampur dengan cairan sperma, saat seorang dari mereka mulai kembali melesakkan liang vagina Lenny dengan batang penisnya.

Malam itu, Aku dan Lenny menjadi piala bergilir, tubuh kami berdua dikerjai dan diperkosa habis-habisan oleh mereka. Siksaan itu baru berakhir saat waktu sudah menunjukkan jam empat subuh. Kulihat di depanku tertumpuk sejumlah uang pecahan seratus ribu. Kuraih uang tersebut sambil berusaha bangkit dan mengenakan seluruh pakaianku, setelah itu aku berjalan mendekati tubuh Lenny yang masih meringkuk di sudut ruangan. Saat itu dia sudah siuman dari pingsannya, dia mengerang kesakitan sambil menangis meratapi kegadisannya yang telah terenggut paksa pada malam itu. Kurangkul tubuhnya dan membantunya berjalan pulang..

Sebelum sepuluh tahun yang lalu aku hanyalah anak laki-laki biasa yang senang bermain bola di lapangan yang becek sisa hujan semalam atau berlari-larian mengejar layangan putus sampai ke kebun orang dan dimarahi sang pemilik kebun. Tapi kemudian..

***

“Kak, mandi dulu baru makan!” teriak ibuku dari dapur.
“Ntar ah, lapar nih, Bu!” balasku juga berteriak.
“Kamu sih, main dari mulai pulang sekolah, baru pulang sore-sore begini.” Ibuku mengomel.

Habis mau bagaimana lagi aku suka sekali bermain layangan, apalagi sekarang sedang musimnya, jadi banyak sekali layang-layang yang berterbangan di atas langit sana mengajakku bermain kejar-kejaran dengannya.

“Ntar Mas Agus mau ke sini lho!” ucap ibuku.
“Iya, udah tahu!” balasku.

Mas Agus, pamanku, adalah anak dari kakak perempuan ayahku yang tinggal di sebuah kota di Jawa Tengah yang terkenal dengan candi Borobudurnya, dan di situ pulalah Mas Agus bekerja sebagai seorang tentara berpangkat sersan dua. Tapi walaupun tempat tinggal kami berjauhan, keluarga kami dan paman sudah sangat dekat. Dua atau tiga minggu sekali Mas Agus datang berkunjung ke rumah kami di Bandung.

Apabila paman datang aku pasti merasa sangat senang. Mengapa? Karena paman sangat baik, ia selalu mengajakku pergi berbelanja ke supermarket, dia membelikan banyak sekali barang yang kuminta. Ia sangat suka dengan anak kecil. Selain itu Mas Agus belum menikah padahal umurnya sudah hampir kepala tiga. Ia bilang pada ayahku bahwa ia belum siap untuk berumah tangga.

“Indra sini, ada Mas Agus.” panggil ibuku dari ruang tamu.
“Bentar Bu, lagi mandi.” teriakku dari dalam kamar mandi.

Kupercepat mandiku, kubilas seluruh busa-busa sabun yang menempel di badan hingga bersih, kemudian kuambil handuk dan kukeringkan di tubuhku. Lalu aku bergegas masuk kamar. Saat pintu kamar kubuka, ternyata Mas Agus sudah ada di dalam kamar.

“Udah mandinya?” tanyanya.
“Udah, seger banget Mas!” jawabku.
“Sini dibajuin sama Mas Agus.”
“Lepasin dulu handuknya, Ndra!”

Kulepaskan handuk dari tubuhku. Paman menatapku dengan pandangan aneh, lurus dan tajam ke arahku, tepatnya tubuhku.

“Mas Agus! Mas Agus!” kupanggil namanya beberapa kali. Dan seperti bangun dari mimpinya, dengan sedikit terhentak Mas Agus tersadar kembali.
“Oh, mm, kamu ambil bajunya terus bawa ke sini, biar Mas agus yang pakein.”

Kupilih salah satu t-shirt di dalam lemari, juga kaus dalam, CD, dan celana pendeknya, dan kemudian memberikannya pada Mas Agus. Mas Agus menerimanya dan meletakkan semuanya di atas kasur. Kemudian ia meraih bedak powder di atas meja di samping ranjang.

“Mas itu mah bedaknya ade. Aku kan udah gede udah nggak pake bedak lagi” ucapku saat itu juga.
“Ah, nggak apa-apa kok biar wangi.” jawabnya.

Mas Agus mulai menaburkan bedak dan menggosokkannya dengan rata ke seluruh tubuhku, termasuk pantatku, dan.. penisku.

“Badan kamu bagus, udah besar mau jadi apa? Mau nggak jadi tentara?” tanya pamanku masih sambil menggosok-gosokan bedak di tubuhku.
“Nggak tau ah, gimana entar aja.” jawabku sambil agak ketawa, habis geli banget diraba-raba sama Mas Agus.
“Sebentar yah!” Mas Agus beranjak dari ranjang menuju pintu kamar kemudian menguncinya.
“Kalo kamu jadi tentara nanti badan kamu bakal kebentuk seperti paman. Nih Mas Agus tunjukin badan Mas Agus.”

Paman mulai membuka pakaiannya helai demi helai. Diawali dengan kemeja biru langitnya, lalu kaus singletnya. Wah, badan Mas Agus memang bagus banget, dadanya keren, walaupun tidak begitu besar tapi berisi. Perutnya, wah kalau sekarang nih orang bilang six-packs. Lalu Mas Agus mulai membuka celana panjangnya. Di dalamnya terlihat CD-nya yang berwarna putih. Kemudian ia lanjutkan helai terakhir dan, wah.. besar sekali, di sekelilingnya juga ada hamparan bulu-bulu halus yang rapi terpotong pendek.

“Sini coba kamu pegang badan Mas Agus.” pintanya.
“Nah, kalau kamu mau jadi tentara kamu harus banyak olahraga dari sekarang, jadi badan kamu akan terbentuk seperti badan Mas Agus.” Dijelaskannya bagaimana ia bisa memiliki tubuh yang dibanggakannya sambil menuntun tanganku di sekitar dada dan perutnya.
“Ini kamu juga bakal ikut besar.” ucapnya sambil memegang penisku.
“Indra! Turun dulu!” Mas Agus spontan melepaskan tangannya dari penisku dan kembali memakai pakaian yang tadi dilepasnya saat mendengar teriakan Ibuku dari bawah.
“Iya!” teriakku sambil memakai pakaian yang dari tadi menunggu untuk kukenakan.

Saat malam sambil menonton televisi di ruang keluarga, paman menghampiri dan menaikkanku dalam pangkuannya.

“Kok nggak belajar?” tanyanya memulai percakapan.
“Nggak ada PR” jawabku singkat.
“Belajar kan nggak harus pas ada PR.” ucapnya menasehati. Aku diam saja, tak membalas.

Masih dalam pangkuan Mas Agus, waktu berlalu tanpa berkata sampai mataku akhirnya terpejam kelelahan, terlelap dalam pangkuannya. Tapi dalam hening malam itu, aku terusik oleh sesuatu. Tapi apa? Aku merasa ada seseorang yang meraba-raba tubuhku. Aku merasa begitu geli. Tapi kemudian rabaan-rabaan itu berhenti. Aku ingin membuka mataku.

Sedikit demi sedikit mataku terbuka. Dimana ini? Oh ini kan kamar tamu, pasti tadi Mas Agus menggotongku ke kamarnya karena aku ketiduran. Bola mataku bergerak ke arah kanan dan kulihat samar Mas Agus berdiri di samping ranjang sedang membuka helai demi helai pakaiannya. Setelah semua pakaiannya tanggal dari tubuhnya kemudian ia mengambil sesuatu di dalam tas ransel yang dibawanya. Kemudian paman duduk di ranjang, tepat di sampingku. Segera aku kembali memejamkan mataku, berpura-pura tidur. Tapi kemudian..

“Indra.. Indra..!” terdengar paman berbisik di telingaku, membangunkanku. Kubuka mataku pelan-pelan.
“A-apa?” tanyaku berdebar-debar.
“Mas Agus pegal-pegal nih, kamu pijitin sebentar yah!” pintanya.
“Kamu nggak kepanasan? Sini Mas Agus bukain bajunya.” Tanpa mendengar jawabanku, paman langsung melucuti pakaianku satu persatu sampai telanjang sama sepertinya. Kemudian paman merebahkan tubuhnya, tengkurap di ranjang.
“Kamu pijitin Mas Agus, yah! Kamu duduk di punggung Mas Agus aja biar gampang.” ucapnya. Kuturuti sarannya dan lalu kemudian mulai menggerak-gerakkan jariku di pundaknya.
“Iya di situ Ndra, duh enak banget!” ucapnya puas.

Iya Mas Agus enak, nah aku, orang lagi mengantuk malah disuruh mijit. Tak pelak hampir tiap menitnya aku menguap karena mengantuk. Tapi kemudian..

“Pantat Mas Agus juga pegel nih, pijit yah!” pintanya lagi.
“Iya.” jawabku singkat. Aku bergeser mundur hingga kudapat posisi terbaik untuk memijat. Dan kembalilah jari-jariku bekerja. Memijat pantatnya yang padat berisi.
“Kok nggak kerasa yah, digigit aja deh!” pintanya.
“Digigit?” tanyaku spontan.
“Iya digigit, tapi jangan keras-keras!” jelasnya.

Untuk sejenak aku terdiam. Apa? Aku harus memijat pantat Mas Agus dengan gigiku. Pantat yang berwarna lebih terang dari bagian tubuhnya yang lain itu, dengan mulutku. Namun kemudian aku tersadar kembali oleh suara Mas Agus.

“Ayo dong Ndra!” pintanya.
“I-iya.” jawabku.

Kubuka mulutku agak lebar, mendekatkan wajahku sampai akhirnya mendarat di permukaannya. Dan selanjutnya semua berjalan sesuai instruksi.

“Sambil dijilat Ndra biar licin!”
“Ah..”
“Disedot juga dong!”
“Nah.. Iya gitu!”
“Terus.. Terus Ndra..” ucapnya. Beberapa saat kemudian aku terhentak ketika secara tiba-tiba Mas Agus membalikkan tubuhnya.
“Sekarang yang ini!” katanya sambil menunjuk penisnya.

Karena aku ingin ini segera berakhir, tanpa banyak bertanya langsung saja kulakukan perintahnya. Dan instruksi-instruksi itu pun berlanjut. Aku dapat merasakan penis itu semakin lama semakin membesar. Warnanya pun yang tadinya putih kini memerah. Sampai akhirnya mulutku hanya dapat dimasuki bagian kepalanya saja. Sementara aku yang semakin mengantuk, mendengar suara desahan-desahan Mas Agus yang kian menderu. Hingga saat dimana kurasakan penisnya menyodok-nyodok masuk ke mulutku dan membanjiri isinya dengan cairan sperma Mas Agus yang hangat. Kemudian Mas Agus menarikku ke dalam dekapannya. Memelukku erat, mencium bibirku sampai lidahnya masuk dan merebut sebagian sperma yang tadi ia berikan padaku. Lalu diciuminya leherku, dielusnya tubuhku, sementara aku telah terlelap dan membisu.

Lima tahun kemudian, lima tahun sebelum hari ini Mas Agus yang sudah empat tahun tak pernah lagi berkunjung karena ditugaskan di luar kota, sore itu di hari Sabtu yang agak kelabu ia datang dengan seragam lengkapnya. Tapi kali ini ia datang tidak sendirian, ia datang bersama seorang wanita yang ia akui sebagai istrinya yang baru dinikahinya sekitar satu tahun yang lalu. Aku yang saat itu masih baru mengerti bahwa kejadian di malam dulu itu bukanlah hanya pijat-memijat biasa, merasa tidak percaya. Mungkinkah Mas Agus tidak seperti yang kupikirkan selama ini. Tapi.. aku.. aku telah telanjur ’sakit’..

Kuambil kursi itu dari tempatnya semula. Kemudian kuletakkan tepat di depan pintu. Pintu kamar dimana Mas Agus dan istrinya tidur. Sengaja aku tak tidur sampai lewat tengah malam begini hanya untuk membuktikan sesuatu. Kulihat dari celah udara yang sempit itu dan, kulihat Mas Agus di sana tepat sedang menindih tubuh istrinya. Mas agus menggerak-gerakkan penisnya keluar masuk vagina istrinya sambil tangannya mengelus-elus kedua buah dada istrinya. Sementara bibirnya sedang menggerayangi bagian leher.

Istri Mas Agus terlihat sangat menikmatinya, terlihat dari erangan-erangannya. Tapi tak lama kemudian semua berakhir, Mas Agus sudah berada di puncak dan melepaskan semua spermanya masuk ke dalam vagina istrinya. Kuletakkan kembali kursi kembali ke tempatnya. Lalu aku beranjak ke ruang keluarga dan menyalakan TV. Sendiri dalam temaram hanya ada cahaya televisi aku berniat untuk begadang sampai pagi dan mencoba untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Karena jawaban dari pertanyaanku sepertinya sudah terjawab langsung di mataku. Mungkin memang aku yang beranggapan salah..

“Kok belum tidur?” Tiba-tiba saja kudengar suara Mas Agus di sampingku mengagetkanku. Tapi aku diam tidak bisa menjawab. Mas Agus yang datang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek itu membuatku menjadi gagu.
“Tolong pijitin Mas Agus, dong!” Tiba-tiba kalimat itu terdengar lagi setelah sekian lama. Tapi aku tetap diam.
“Ayo dong, sebentar aja kok!” lanjutnya.

Kemudian pelan-pelan mulai kuangkat tanganku ke atas pundaknya, lalu menyentuhnya. Tapi kemudian aku teringat akan kejadian yang baru saja kulihat. Kali ini dengan cepat kuangkat kembali tanganku dari pundaknya.

“Mas Agus, maaf Indra ngantuk, mau tidur.” ucapku sambil berlalu.

Keesokkan malamnya aku terbangun karena tak kuasa menahan rasa untuk buang air kecil. Lalu dengan sedikit berlari, aku bergegas ke kamar mandi. Kubuka pintunya dan kuperosotkan celana dengan cepat lalu CD dan, ahh.. lega sekali, seperti melepaskan beban. Setelah tetes terakhir kusiram penis dan lubang WC dengan air. Saat aku balikkan badan, kulihat Mas Agus sudah barada tepat di depan pintu. Langsung kutarik naik CD dan celanaku cepat lalu beranjak pergi.

Aku baru sampai di depan pintu kamarku ketika kurasa tangan itu menahanku dari belakang. Lalu membalikkan tubuhku. Aku tertunduk bisu. Lalu tiba-tiba ia mengangkat tubuhku, menggendongku masuk ke dalam kamarku. Setelah mengunci pintu, diturunkannya aku di tepi ranjang. Kemudian ia mengangkat wajahku yang tertunduk dan mendaratkan bibirnya tepat di bibirku.

Ciuman itu begitu lembut, perlahan tapi dapat kurasakan getarannya. Tanpa sadar tubuhku terjatuh di atas ranjang sambil terus berciuman. Lidah kami saling bertemu. Kemudian ia melepaskan pakaianku sambil menikmati ciumanku di bibirnya. Lalu ia mulai menjelajah daerah leherku, dijilatnya leher dan telingaku sampai memerah. Lalu ia bangkit dan membuka T-shirt yang dipakainya.

Setelah bajunya terlepas kuambil inisiatif untuk membuka sendiri celana yang dikenakannya juga CD-nya. Dan terlihat jelas kini apa yang sudah empat tahun tak pernah lagi kulihat. Tubuh itu masih tampak kekar. Sebuah penis berukuran besar yang teracung berwarna kemerahan dan di sekitarnya nampak bulu-bulu halus kini terpampang di depanku. Kujilati penis itu dengan lidahku dari buahnya sampai kepala penisnya. Lalu kulahap masuk ke dalam mulutku. Kugerakkan keluar masuk sambil kumainkan lidahku.

“Oh.. terus ‘Ndra!” ucapnya lembut. Kemudian ia memintaku berhenti dan melepaskan celana dan CD-ku.
“Ternyata kamu udah besar, yah!” ucapnya sambil tersenyum. Lalu dikulumnya penisku sampai memerah.
“Sekarang kamu masukin punya kamu ke sini, yah!” ucapnya sambil bergaya doggy style dan menunjuk lubang analnya. Kumasukkan penisku perlahan, pertama terasa sulit, tapi kemudian..
“Ah.. Ah.. Ah! Mas Aku mau keluar, nih!” ucapku dalam gairah. Mas Agus kemudian bangkit dan mengulum penisku hingga..
“Ah..!” erangku.

Spermaku masuk ke dalam mulutnya terus ke tenggorokannya. Tidak berhenti sampai di situ, kemudian ia baringkan tubuh lemasku di atas tubuhnya sehingga pantatku tepat berada di atas penisnya. Kemudian ia masukkan penisnya ke dalam lubangku dengan tangannya. Nikmat sekali. Sampai akhirnya Mas Agus bangkit menyemburkan semuanya di atas wajahku.

Dalam lelah dan kantuk, dengan mata sedikit terbuka kulihat Mas Agus berpakaian dan pergi meninggalkan kamarku, meninggalkan aku dalam dasar jurang yang gelap sampai hari ini..

Cerita Seks Dewasa Bercinta Dengan Istri Teman Kuliahku

Cerita Seks Dewasa - Sebut saja namanya “Sidar” (nama samaran). Dia adalah seorang wanita bersuku campuran. Bapaknya berasal dari kota Menado dan Ibunya dari kota Makassar. Bapaknya adalah seorang polisi berpangkat Serma, sedang ibunya adalah pengusaha kayu.

Singkat cerita, ketika hari pertama aku ketemu dengan teman kuliahku itu, rasanya kami langsung akrab karena memang sewaktu kami sama-sama duduk di bangku kuliah, kami sangat kompak dan sering tidur bersama di rumah kostku di kota Bone. Bahkan seringkali dia mentraktirku.

“Nis, aku senang sekali bertemu denganmu dan memang sudah lama kucari-cari, maukah kamu mengingap barang sehari atau dua hari di rumahku?” katanya padaku sambil merangkulku dengan erat sekali. Nama teman kuliahku itu adalah “Nasir”.

“Kita lihat saja nanti. Yang jelas aku sangat bersukur kita bisa ketemu di tempat ini. Mungkin inilah namanya nasib baik, karena aku sama sekali tidak menduga kalau kamu tinggal di kota Makassar ini” jawabku sambil membalas rangkulannya. Kami berangkulan cukup lama di sekitar pasar sentral Makassar, tepatnya di tempat jualan cakar.

“Ayo kita ke rumah dulu Nis, nanti kita ngobrol panjang lebar di sana, sekaligus kuperkenalkan istriku” ajaknya sambil menuntunku naik ke mobil Feroza miliknya. Setelah kami tiba di halaman rumahnya, Nasir terlebih dahulu turun dan segera membuka pintu mobilnya di sebelah kiri lalu mempersilakan aku turun. Aku sangat kagum melihat rumah tempat tinggalnya yang berlantai dua. Lantai bawah digunakan sebagai gudang dan kantor perusahaannya, sementara lantai atas digunakan sebagai tempat tinggal bersama istri. Aku hanya ikut di belakangnya.

“Inilah hasil usaha kami Nis selama beberapa tahun di Makassar” katanya sambil menunjukkan tumpukan beras dan ruangan kantornya.

“Wah cukup hebat kamu Sir. Usahamu cukup lemayan. Kamu sangat berhasil dibanding aku yang belum jelas sumber kehidupanku” kataku padanya.

“Dar, Dar, inilah teman kuliahku dulu yang pernah kuceritakan tempo hari. Kenalkan istri cantik saya” teriak Nasir memanggil istrinya dan langsung kami dikenalkan.

“Sidar”, kata istrinya menyebut namanya ketika kusalami tangannya sambil ia tersenyum ramah dan manis seolah menunjukkan rasa kegembiraan.

“Anis”, kataku pula sambil membalas senyumannya.

Nampaknya Sidar ini adalah seorang istri yang baik hati, ramah dan selalu memelihara kecantikannya. Usianya kutaksir baru sekitar 25 tahun dengan tubuh sedikit langsing dan tinggi badan sekitar 145 cm serta berambut agak panjang. Tangannya terasa hangat dan halus sekali. Setelah selesai menyambutku, Sidar lalu mempersilakanku duduk dan ia buru-buru masuk ke dalam seolah ada urusan penting di dalam. Belum lama kami bincang-bincang seputar perjalanan usaha Nasir dan pertemuannya dengan Sidar di Kota Makassar ini, dua cangkir kopi susu beserta kue-kue bagus dihidangkan oleh Sidar di atas meja yang ada di depan kami.

“Silakah Kak, dinikmati hidangan ala kadarnya” ajakan Sidar menyentuh langsung ke lubuk hatiku. Selain karena senyuman manisnya, kelembutan suaranya, juga karena penampilan, kecantikan dan sengatan bau farfumnya yang harum itu. Dalam hati kecilku mengatakan, alangkah senang dan bahagianya Nasir bisa mendapatkan istri seperti Sidar ini. Seandainya aku juga mempunyai istri seperti dia, pasti aku tidak bisa ke mana-mana

“Eh, kok malah melamun. Ada masalah apa Nis sampai termenung begitu? Apa yang mengganggu pikiranmu?” kata Nasir sambil memegang pundakku, sehingga aku sangat kaget dan tersentak.

“Ti.. Tidak ada masalah apa-apa kok. Hanya aku merenungkan sejenak tentang pertemuan kita hari ini. Kenapa bisa terjadi yah,” alasanku.

Sidar hanya terdiam mendengar kami bincang-bincang dengan suaminya, tapi sesekali ia memandangiku dan menampakkan wajah cerianya.

“Sekarang giliranmu Nis cerita tentang perjalanan hidupmu bersama istri setelah sejak tadi hanya aku yang bicara. Silahkan saja cerita panjang lebar mumpun hari ini aku tidak ada kesibukan di luar. Lagi pula anggaplah hari ini adalah hari keistimewaan kita yang perlu dirayakan bersama. Bukankah begitu Dar..?” kata Nasir seolah cari dukungan dari istrinya dan waktunya siap digunakan khusus untukku.

“Ok, kalau gitu aku akan utarakan sedikit tentang kehidupan rumah tanggaku, yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan rumah tangga kalian” ucapanku sambil memperbaiki dudukku di atas kursi empuk itu.

“Maaf jika terpaksa kuungkapkan secara terus terang. Sebenarnya kedatanganku di kota Makassar ini justru karena dipicu oleh problem rumah tanggaku. Aku selalu cekcok dan bertengkar dengan istriku gara-gara aku kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang layak dan mempu menghidupi keluargaku. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan rumah guna mencari pekerjaan di kota ini. Eh.. Belum aku temukan pekerjaan, tiba-tiba kita ketemu tadi setelah dua hari aku ke sana ke mari. Mungkin pertemuan kita ini ada hikmahnya. Semoga saja pertemuan kita ini merupakan jalan keluar untuk mengatasi kesulitan rumahtanggaku” Kisahku secara jujur pada Nasir dan istrinya.

Mendengar kisah sedihku itu, Nasir dan istrinya tak mampu berkomentar dan nampak ikut sedih, bahkan kami semua terdiam sejenak. Lalu secara serentak mulut Nasir dan istrinya terbuka dan seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba mereka saling menatap dan menutup kembali mulutnya seolah mereka saling mengharap untuk memulai, namun malah mereka ketawa terbahak, yang membuatku heran dan memaksa juga ketawa.

“Begini Nis, mungkin pertemuan kita ini benar ada hikmahnya, sebab kebetulan sekali kami butuh teman seperti kamu di rumah ini. Kami khan belum dikaruniai seorang anak, sehingga kami selalu kesepian. Apalagi jika aku ke luar kota misalnya ke Bone, maka istriku terpaksa sendirian di rumah meskipun sekali-kali ia memanggil kemanakannya untuk menemani selama aku tidak ada, tapi aku tetap menghawatirkannya. Untuk itu, jika tidak memberatkan, aku inginkan kamu tinggal bersamaku. Anggaplah kamu sudah dapatkan lapangan kerja baru sebagai sumber mata pencaharianmu. Segala keperluan sehari-harimu, aku coba menanggung sesuai kemampuanku” kata Nasir bersungguh-sungguh yang sesekali diiyakan oleh istrinya.

“Maaf kawan, aku tidak mau merepotkan dan membebanimu. Biarlah aku cari kerja di tempat lain saja dan..” Belum aku selesai bicara, tiba-tiba Nasir memotong dan berkata..

“Kalau kamu tolak tawaranku ini berarti kamu tidak menganggapku lagi sebagai sahabat. Kami ikhlas dan bermaksud baik padamu Nis” katanya.

“Tetapi,” Belum kuutarakan maksudku, tiba-tiba Sidar juga ikut bicara..

“Benar Kak, kami sangat membutuhkan teman di rumah ini. Sudah lama hal ini kami pikirkan tapi mungkin baru kali ini dipertemukan dengan orang yang tepat dan sesuai hati nurani. Apalagi Kak Anis ini memang sahabat lama Kak Nasir, sehingga kami tidak perlu ragukan lagi. Bahkan kami sangat senan jika Kak sekalian menjemput istrinya untuk tinggal bersama kita di rumah ini” ucapan Sidar memberi dorongan kuat padaku.

“Kalau begitu, apa boleh buat. Terpaksa kuterima dengan senang hati, sekaligus kuucapkan terima kasih yang tak terhingga atas budi baiknya. Tapi sayangnya, aku tak memiliki keterampilan apa-apa untuk membantu kalian” kataku dengan pasrah.

Tiba-tiba Nasir dan Sidar bersamaan berdiri dan langsung saling berpelukan, bahkan saling mengecup bibir sebagai tanda kegembiraannya. Lalu Nasir melanjutkan rangkulannya padaku dan juga mengecup pipiku, sehingga aku sedikit malu dibuatnya.

“Terima kasih Nis atas kesediaanmu menerima tawaranku semoga kamu berbahagia dan tidak kesulitan apapun di rumah ini. Kami tak membutuhkan keterampilanmu, melainkan kehadiranmu menemani kami di rumah ini. Kami hanya butuh teman bermain dan tukar pikiran, sebab tenaga kerjaku sudah cukup untuk membantu mengelola usahaku di luar. Kami sewaktu-waktu membutuhkan nasehatmu dan istriku pasti merasa terhibur dengan kehadiranmu menemani jika aku keluar rumah” katanya dengan sangat bergembira dan senang mendengar persetujuanku.

Kurang lebih satu bulan lamanya kami seolah hanya diperlakukan sebagai raja di rumah itu. Makanku diurus oleh Sidar, tempat tidurku terkadang juga dibersihkan olehnya, bahkan ia meminta untuk mencuci pakaianku yang kotor tapi aku keberatan. Selama waktu itu pula, aku sudah dilengkapi dengan pakaian, bahkan kamar tidurku dibelikan TV 20 inch lengkap dengan VCD-nya. Aku sangat malu dan merasa berutang budi pada mereka, sebab selain pakaian, akupun diberi uang tunai yang jumlahnya cukup besar bagiku, bahkan belakangan kuketahui jika ia juga seringkali kirim pakaian dan uang ke istri dan anak-anakku di Bone lewat mobil.

Kami bertiga sudah cukup akrab dan hidup dalam satu rumah seperti saudara kandung bersenda gurau, bercengkerama dan bergaul tanpa batas seolah tidak ada perbedaan status seperti majikan dan karyawannya. Kebebasan pergaulanku dengan Sidar memuncak ketika Nasir berangkat ke Sulawesi Tenggara selama beberapa hari untuk membawa beras untuk di jual di sana karena ada permintaan dari langgarannya.

Pada malam pertama keberangkatan Nasir, Sidar nampak gembira sekali seolah tidak ada kekhawatiran apa-apa. Bahkan sempat mengatakan kepada suaminya itu kalau ia tidak takut lagi ditinggalkan meskipun berbulan-bulan lamanya karena sudah ada yang menjaganya, namun ucapannya itu dianggapnya sebagai bentuk humor terhadap suaminya. Nasir pun nampak tidak ada kekhawatiran meninggalkan istrinya dengan alasan yang sama.

Malam itu kami (aku dan Sidar) menonton bersama di ruang tamu hingga larut malam, karena kami sambil tukar pengalaman, termasuk soal sebelum nikah dan latar belakang perkawinan kami masing-masing. Sikap dan tingkah laku Sidar sedikit berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Malam itu, Sidar membuat kopi susu dan menyodorkanku bersama pisang susu, lalu kami nikmati bersama-sama sambil nonton. Ia makan sambil berbaring di sampingku seolah dianggap biasa saja. Sesekali ia membalikkan tubuhnya kepadaku sambil bercerita, namun aku pura-pura bersikap biasa, meskipun ada ganjalan aneh di benakku.

“Nis, kamu tidak keberatan khan menemaniku nonton malam ini? Besok khan tidak ada yang mengganggu kita sehingga kita bisa tidur siang sepuasnya?” tanya Sidar tiba-tiba seolah ia tak mengantuk sedikitpun.
“Tidak kok Dar. Aku justru senang dan bahagia bisa nonton bersama majikanku” kataku sedikit menyanjungnya. Sidar lalu mencubitku dan..
“Wii de.. De, kok aku dibilangin majikan. Sebel aku mendengarnya. Ah, jangan ulang kata itu lagi deh, aku tak sudi dipanggil majikan” katanya.
“Hi.. Hi.. Hi, tidak salah khan. Maaf jika tidak senang, aku hanya main-main. Lalu aku harus panggil apa? Adik, Non, Nyonya atau apa?”
“Terserah dech, yang penting bukan majikan. Tapi aku lebih seneng jika kamu memanggil aku adik” katanya santai.
“Oke kalau begitu maunya. Aku akan panggil adik saja” kataku lagi.

Malam semakin larut. Tak satupun terdengar suara kecuali suara kami berdua dengan suara TV. Sidar tiba-tiba bangkit dari pembaringannya.

“Nis, apa kamu sering nonton kaset VCD bersama istrimu?” tanya Sidar dengan sedikit rendah suaranya seolah tak mau didengar orang lain.
“Eng.. Pernah, tapi sama-sama dengan orang lain juga karena kami nonton di rumahnya” jawabku menyembunyikan sikap keherananku atas pertanyaannya yang tiba-tiba dan sedikit aneh itu.
“Kamu ingat judulnya? Atau jalan ceritanya?” tanyanya lagi.
“Aku lupa judulnya, tapi pemainnya adalah Rhoma Irama dan ceritanya adalah masalah percintaan” jawabku dengan pura-pura bersikap biasa.
“Masih mau ngga kamu temani aku nonton film dari VCD? Kebetulan aku punya kaset VCD yang banyak. Judulnya macam-macam. Terserah yang mana Anis suka” tawarannya, tapi aku sempat berfikir kalau Sidar akan memutar film yang aneh-aneh, film orang dewasa dan biasanya khusus ditonton oleh suami istri untuk membangkitkan gairahnya.

Setelah kupikir segala resiko, kepercayaan dan dosa, aku lalu bikin alasan.

“Sebenarnya aku senang sekali, tapi aku takut.. Eh.. Maaf aku sangat ngantuk. Jika tidak keberatan, lain kali saja, pasti kutemani” kataku sedikit bimbang dan takut alasanku salah. Tapi akhirnya ia terima meskipun nampaknya sedikit kecewa di wajahnya dan kurang semangat.

“Baiklah jika memang kamu sudah ngantuk. Aku tidak mau sama sekali memaksamu, lagi pula aku sudah cukup senang dan bahagia kamu bersedia menemaniku nonton sampai selarut ini. Ayo kita masuk tidur” katanya sambil mematikan TV-nya, namun sebelum aku menutup pintu kamarku, aku melihat sejenak ia sempat memperhatikanku, tapi aku pura-pura tidak menghiraukannya.

Di atas tempat tidurku, aku gelisah dan bingung mengambil keputusan tentang alasanku jika besok atau lusa ia kembali mengajakku nonton film tersebut. Antara mau, malu dan rasa takut selalu menghantukiku. Mungkin dia juga mengalami hal yang sama, karena dari dalam kamarku selalu terdengar ada pintu kamar terbuka dan tertutup serta air di kamar mandi selalu kedengaran tertumpah.

Setelah kami makan malam bersama keesokan harinya, kami kembali nonton TV sama-sama di ruang tamu, tapi penampilan Sidar kali ini agak lain dari biasanya. Ia berpakaian serba tipis dan tercium bau farfumnya yang harum menyengat hidup sepanjang ruang tamu itu. Jantungku sempat berdebar dan hatiku gelisah mencari alasan untuk menolak ajakannya itu, meskipun gejolak hati kecilku untuk mengikuti kemauannya lebih besar dari penolakanku. Belum aku sempat menemukan alasan tepat, maka

“Nis, masih ingat janjimu tadi malam? Atau kamu sudah ngantuk lagi?” pertanyaan Sidar tiba-tiba mengagetkanku.
“O, oohh yah, aku ingat. Nonton VCD khan? Tapi jangan yang seram-seram donk filmnya, aku tak suka. Nanti aku mimpi buruk dan membuatku sakit, khan repot jadinya” jawabku mengingatkan untuk tidak memutar film porn.
“Kita liat aja permainannya. Kamu pasti senang menyaksikannya, karena aku yakin kamu belum pernah menontonnya, lagi pula ini film baru” kata Sidar sambil meraih kotak yang berisi setumpuk kaset VCD lalu menarik sekeping kaset yang paling di atas seolah ia telah mempersiapkannya, lalu memasukkan ke CD, lalu mundur dua langkah dan duduk di sampingku menunggu apa gerangan yang akan muncul di layar TV tersebut.

Dag, dig, dug, getaran jantungku sangat keras menunggu gambar yang akan tampil di layar TV. Mula-mula aku yakin kalau filmnya adalah film yang dapat dipertontonkan secara umum karena gambar pertama yang muncul adalah dua orang gadis yang sedang berloma naik speed board atau sampan dan saling membalap di atas air sungat. Namun dua menit kemudian, muncul pula dua orang pria memburuhnya dengan naik kendaraan yang sama, akhirnya keempatnya bertemu di tepi sungai dan bergandengan tangan lalu masuk ke salah satu villa untuk bersantai bersama.

Tak lama kemudian mereka berpasang-pasangan dan saling membuka pakaiannya, lalu saling merangkul, mencium dan seterusnya sebagaimana layaknya suami istri. Niat penolakanku tadi tiba-tiba terlupakan dan terganti dengan niat kemauanku. Kami tidak mampu mengeluarkan kata-kata, terutama ketika kami menyaksikan dua pasang muda mudi bertelanjang bulat dan saling menjilati kemaluannya, bahkan saling mengadu alat yang paling vitalnya. Kami hanya bisa saling memandang dan tersenyum.

“Gimana Nis,? Asyik khan? Atau ganti yang lain saja yang lucu-lucu?” pancing Sidar, tapi aku tak menjawabnya, malah aku melenguh panjang.
“Apa kamu sering dan senang nonton film beginian bersama suamimu?” giliran aku bertanya, tapi Sidar hanya menatapku tajam lalu mengangguk.
“Hmmhh” kudengar suara nafas panjang Sidar keluar dari mulutnya.
“Apa kamu pernah praktekkan seperti di film itu Nis?” tanya Sidar ketika salah seorang wanitanya sedang menungging lalu laki-lakinya menusukkan kontolnya dari belakang lalu mengocoknya dengan kuat.
“Tidak, belum pernah” jawabku singkat sambil kembali bernafas panjang.
“Maukah kamu mencobanya nanti?” tanya Sidar dengan suara rendah.
“Dengan siapa, kami khan pisah dengan istri untuk sementara” kataku.
“Jika kamu bertemu istrimu nanti atau wanita lain misalnya” kata Sidar.
“Yachh.. Kita liat saja nanti. Boleh juga kami coba nanti hahaha” kataku.
“Nis, apa malam ini kamu tidak ingin mencobanya?” Tanya Sidar sambil sedikit merapatkan tubuhnya padaku. Saking rapatnya sehingga tubuhnya terasa hangatnya dan bau harumnya.
“Dengan siapa? Apa dengan wanita di TV itu?” tanyaku memancing.
“Gimana jika dengan aku? Mumpung hanya kita berdua dan nggak bakal ada orang lain yang tahu. Mau khan?” Tanya Sidar lebih jelas lagi mengarah sambil menyentuh tanganku, bahkan menyandarkan badannya ke badanku.

Sungguh aku kaget dan jantungku seolah copot mendengar rincian pertanyaannya itu, apalagi ia menyentuhku. Aku tidak mampu lagi berpikir apa-apa, melainkan menerima apa adanya malam itu. Aku tidak akan mungkin mampu menolak dan mengecewakannya, apalagi aku sangat menginginkannya, karena telah beberapa bulan aku tidak melakukan sex dengan istriku. Aku mencoba merapatkan badanku pula, lalu mengelus tangannya dan merangkul punggungnya, sehingga terasa hangat sekali.

“Apa kamu serius? Apa ini mimpi atau kenyataan?” Tanyaku amat gembira.
“Akan kubuktikan keseriusanku sekarang. Rasakan ini sayang” tiba-tiba Sidar melompat lalu mengangkangi kedua pahaku dan duduk di atasnya sambil memelukku, serta mencium pipi dan bibirku bertubi-tubi.

Tentu aku tidak mampu menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku segera menyambutnya dan membalasnya dengan sikap dan tindakan yang sama. Nampaknya Sidar sudah ingin segera membuktikan dengan melepas sarung yang dipakainya, tapi aku belum mau membuka celana panjang yang kepakai malam itu.

Pergumulan kami dalam posisi duduk cukup lama, meskipun berkali-kali Sidar memintaku untuk segera melepaskan celanaku, bahkan ia sendiri beberapa kali berusaha membuka kancingnya, tapi selalu saja kuminta agar ia bersabar dan pelan-pelan sebab waktunya sangat panjang.

“Ayo Kak Nis, cepat sayang. Aku sudah tak tahan ingin membuktikannya” rayu Sidar sambil melepas rangkulannya lalu ia tidur telentang di atas karpet abu-abu sambil menarik tanganku untuk menindihnya. Aku tidak tega membiarkan ia penasaran terus, sehingga aku segera menindihnya.
“Buka celana sayang. Cepat.. Aku sudah capek nih, ayo dong,” pintanya.

Akupun segera menuruti permintaannya dan melepas celana panjangku. Setelah itu, Sidar menjepitkan ujung jari kakinya ke bagian atas celana dalamku dan berusaha mendorongnya ke bawah, tapi ia tak berhasil karena aku sengaja mengangkat punggungku tinggi-tinggi untuk menghindarinya.

Ketika aku mencoba menyingkap baju daster yang dipakaianya ke atas lalu ia sendiri melepaskannya, aku kaget sebab tak kusangka kalau ia sama sekali tidak pakai celana. Dalam hatiku bahwa mungkin ia memang sengaja siap-siap akan bersetubuh denganku malam itu. Di bawah sinar lampu 10 W yang dibarengi dengan cahaya TV yang semakin seru bermain bugil, aku sangat jelas menyaksikan sebuah lubang yang dikelilingi daging montok nan putih mulus yang tidak ditumbuhi bulu selembar pun.

Tampak menonjol sebuah benda mungil seperti biji kacang di tengah-tengahnya. Rasanya cukup menantang dan mempertinggi birahiku, tapi aku tetap berusaha mengendalikannya agar aku bisa lebih lama bermain-main dengannya. Ia sekarang sudah bugil 100%, sehingga terlihat bentuk tubuhnya yang langsing, putih mulus dan indah sekali dipandang.

“Ayo donk, tunggu apa lagi sayang. Jangan biarkan aku tersiksa seperti ini” pinta Sidar tak pernah berhenti untuk segera menikmati puncaknya.
“Tenang sayang. Aku pasti akan memuaskanmu malam ini, tapi saya masih mau bermain-main lebih lama biar kita lebih banyak menikmatinya”kataku

Secara perlahan tapi pasti, ujung lidahku mulai menyentuh tepi lubang kenikmatannya sehingga membuat pinggulnya bergerak-gerak dan berdesis.

“Nikmat khan kalau begini?” tanyaku berbisik sambil menggerak-gerakkan lidahku ke kiri dan ke kanan lalu menekannya lebih dalam lagi sehingga Sidar setengah berteriak dan mengangkat tinggi-tinggi pantatnya seolah ia menyambut dan ingin memperdalam masuknya ujung lidahku.

Ia hanya mengangguk dan memperdengarkan suara desis dari mulutnya.

“Auhh.. Aakkhh.. Iihh.. Uhh.. Oohh.. Sstt” suara itu tak mampu dikurangi ketika aku gocok-gocokkan secara lebih dalam dan keras serta cepat keluar masuk ke lubang kemaluannya.
“Teruuss sayang, nikkmat ssekalii.. Aakhh.. Uuhh. Aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya” katanya dengan suara yang agak keras sambil menarik-narik kepalaku agar lebih rapat lagi.
“Bagaimana? Sudah siap menyambut lidahku yang panjang lagi keras?” tanyaku sambil melepaskan seluruh pakaianku yang masih tersisa dan kamipun sama-sama bugil.

Persentuhan tubuhku tak sehelai benangpun yang melapisinya. Terasa hangatnya hawa yang keluar dari tubuh kami.

“Iiyah,. Dari tadi aku menunggu. Ayo,. Cepat” kata Sidar tergesa-gesa sambil membuka lebar-lebar kedua pahanya, bahkan membuka lebar-lebar lubang vaginanya dengan menarik kiri kanan kedua bibirnya untuk memudahkan jalannya kemaluanku masuk lebih dalam lagi.

Aku pun tidak mau menunda-nunda lagi karena memang aku sudah puas bermain lidah di mulut atas dan mulut bawahnya, apalagi keduanya sangat basah. Aku lalu mengangkat kedua kakinya hingga bersandar ke bahuku lalu berusaha menusukkan ujung kemaluanku ke lubang vagina yang sejak tadi menunggu itu. Ternyata tidak mampu kutembus sekaligus sesuai keinginanku. Ujung kulit penisku tertahan, padahal Sidar sudah bukan perawan lagi.

“Ssaakiit ssediikit.., ppeelan-pelan sedikit” kata Sidar ketika ujung penisku sedikit kutekan agak keras. Aku gerakkan ke kiri dan ke kanan tapi juga belum berhasil amblas.

Aku turunkan kedua kakinya lalu meraih sebuah bantal kursi yang di belakanku lalu kuganjalkan di bawah pinggulnya dan membuka lebar kedua pahanya lalu kudorong penisku agak keras sehingga sudah mulai masuk setengahnya. Sidarpun merintih keras tapi tidak berkata apa-apa, sehingga aku tak peduli, malah semakin kutekan dan kudorong masuk hingga amblas seluruhnya. Setelah seluruh batang penisku terbenam semua, aku sejenak berhenti bergerak karena capek dan melemaskan tubuhku di atas tubuh Sidar yang juga diam sambil bernafas panjang seolah baru kali ini menikmati betul persetubuhan.

Sidar kembali menggerak-gerakkan pinggulnya dan akupun menyambutnya. Bahkan aku tarik maju mundur sedikit demi sedikit hingga jalannya agak cepat lalu cepat sekali. Pinggul kami bergerak, bergoyang dan berputar seirama sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yangberirama pula.

“Tahan sebentar” kataku sambil mengangkat kepala Sidar tanpa mencabut penisku dari lubang vagina Sidar sehingga kami dalam posisi duduk.

Kami saling merangkul dan menggerakkan pinggul, tapi tidak lama karena terasa sulit. Lalu aku berbaring dan telentang sambil menarik kepada Sidar mengikutiku, sehingga Sidar berada di atasku. Kusarankan agar ia menggoyang, mengocok dan memompa dengan keras lagi cepat. Ia pun cukup mengerti keinginanku sehingga kedua tangannya bertumpu di atas dadaku lalu menghentakkan agak keras bolak balik pantatnya ke penisku, sehingga terlihat kepalanya lemas dan seolah mau jatuh sebab baru kali itu ia melakukannya dengan posisi seperti itu. Karena itu, kumaklumi jika ia cepat capek dan segera menjatuhkan tubuhnya menempel ke atas tubuhku, meskipun pinggulnya masih tetap bergerak naik turun.

“Kamu mungkin sangat capek. Gimana kalau ganti posisi?” kataku sambil mengangkat tubuh Sidar dan melapas rangkulannya.
“Posisi bagaimana lagi? Aku sudah beberapa kali merasa nikmat sekali” tanyanya heran seolah tidak tahu apa yang akan kulakukan, namun tetap ia ikuti permintaanku karena ia pun merasa sangat nikmat dan belum pernah mengalami permainan seperti itu sebelumnya.
“Terima saja permainanku. Aku akan tunjukkan beberapa pengalamanku”
“Yah.. Yah.. Cepat lakukan apa saja” katanya singkat.

Aku berdiri lalu mengangkat tubuhnya dari belakang dan kutuntunnya hingga ia dalam posisi nungging. Setelah kubuka sedikit kedua pahanya dari belakan, aku lalu menusukkan kembali ujung penisku ke lubangnya lalu mengocok dengan keras dan cepat sehingga menimbulkan bunyi dengan irama yang indah seiring dengan gerakanku. Sidar pun terengah-engah dan napasnya terputus-putus menerima kenikmatan itu. Posisi kami ini tak lama sebab Sidar tak mampu menahan rasa capeknya berlutut sambil kupompa dari belakan. Karenanya, aku kembalikan ke posisi semula yaitu tidur telentang dengan paha terbuka lebar lalu kutindih dan kukocok dari depan, lalu kuangkat kedua kakinya bersandar ke bahuku.

Posisi inilah yang membuat permainan kami memuncak karena tak lama setelah itu, Sidar berteriak-teriak sambil merangkul keras pinggangku dan mencakar-cakar punggungku. Bahkan sesekali menarik keras wajahku menempel ke wajahnya dan menggigitnya dengan gigitan kecil. Bersamaan dengan itu pula, aku merasakan ada cairan hangat mulai menjalar di batang penisku, terutama ketika terasa sekujur tubuh Sidar gemetar.

Aku tetap berusaha untuk menghindari pertemuan antara spermaku dengan sel telur Sidar, tapi terlambat, karena baru aku mencoba mengangkat punggungku dan berniat menumpahkan di luar rahimnya, tapi Sidar malah mengikatkan tangannya lebih erat seolah melarangku menumpahkan di luar yang akhirnya cairan kental dan hangat itu terpaksa tumpah seluruhnya di dalam rahim Sidar. Sidar nampaknya tidak menyesal, malah sedikit ceria menerimanya, tapi aku diliputi rasa takut kalau-kalau jadi janin nantinya, yang akan membuatku malu dan hubungan persahabatanku berantakan.

Setelah kami sama-sama mencapai puncak, puas dan menikmati persetubuhan yang sesungguhnya, kami lalu tergeletak di atas karpet tanpa bantal. Layar TV sudah berwarna biru karena pergumulan filmnya sejak tadi selesai. Aku lihat jam dinding menunjukkan pukul 12.00 malam tanpa terasa kami bermain kurang lebih 3 jam. Kami sama-sama terdiam dan tak mampu berkata-kata apapun hingga tertidur lelap. Setelah terbangun jam 7.00 pagi di tempat itu, rasanya masih terasa capek bercampur segar.

“Nis, kamu sangat hebat. Aku belum pernah mendapatkan kenikmatan dari suamiku selama ini seperti yang kamu berikan tadi malam” kata Sidar ketika ia juga terbangun pagi itu sambil merangkulku.
“Benar nih, jangan-jangan hanya gombal untuk menyenangkanku” tanyaku.
“Sumpah.. Terus terang suamiku lebih banyak memikirkan kesenangannya dan posisi mainnya hanya satu saja. Ia di atas dan aku di bawah. Kadang ia loyo sebelum kami apa-apa. Kontolnya pendek sekali sehingga tidak mampu memberikan kenikmatan padaku seperti yang kami berikan. Andai saja kamu suamiku, pasti aku bahagia sekali dan selalu mau bersetubuh, kalau perlu setiap hari dan setiap malam” paparnya seolah menyesali hubungannya dengan suaminya dan membandingkan denganku.
“Tidak boleh sayang. Itu namanya sudah jodoh yang tidak mampu kita tolak. Kitapun berjodoh bersetubuh dengan cara selingkuh. Sudahlah. Yang penting kita sudah menikmatinya dan akan terus menikmatinya” kataku sambil menenangkannya sekaligus mencium keningnya.
“Maukah kamu terus menerus memberiku kenikmatan seperti tadi malam itu ketika suamiku tak ada di rumah” tanyanya menuntut janjiku.
“Iyah, pasti selama aman dan aku tinggal bersamamu. Masih banyak permainanku yang belum kutunjukkan” kataku berjanji akan mengulanginya
“Gimana kalau istri dan anak-anakmu nanti datang?” tanyanya khawatir.
“Gampang diatur. Aku kan pembantumu, sehingga aku bisa selalu dekat denganmu tanpa kecurigaan istriku. Apalagi istriku pasti tak tahan tinggal di kota sebab ia sudah terbiasa di kampung bersama keluarganya tapi yang kutakutkan jika kamu hamil tanpa diakui suamimu” kataku.
“Aku tak bakal hamil, karena aku akan memakan pil KB sebelum bermain seperti yang kulakukan tadi malam, karena memang telah kurencanakan” kara Sidar terus terang.

Setelah kami bincang-bincang sambil tiduran di atas karpet, kami lalu ke kamar mandi masing-masing membersihkan diri lalu kami ke halaman rumah membersihkan setelah sarapan pagi bersama. Sejak saat itu, kami hampir setiap malam melakukannya, terutama ketika suami Sidar tak ada di rumah, baik siang hari apalagi malam hari, bahkan beberapa kali kulakukan di kamarku ketika suami Sidar masih tertidur di kamarnya, sebab Sidar sendiri yang mendatangi kamarku ketika sedang “haus”.

Entah sampai kapan hal ini akan berlangsung, tapi yang jelas hingga saat ini kami masih selalu ingin melakukannya dan belum ada tanda-tanda kecurigaan dari suaminya dan dari istriku.