Showing posts with label Kenikmatan. Show all posts
Showing posts with label Kenikmatan. Show all posts

Wednesday, October 10, 2012

Gairah Virni


Hari itu langit sudah menguning saat aku dan Virni tiba di rumahnya seusai main tenis bersama. Berhubung jalan ke rumahku masih macet karena jam bubar, maka Virni mengajakku untuk singgah di rumahnya dulu daripada terjebak macet. Di pekarangan rumah Virni yang cukup luas itu nampak beberapa kuli bangunan sedang sibuk bekerja, kata Virni disana akan dibangun kolam ikan lengkap dengan paviliunnya. Perhatian mereka tersita sejenak oleh dua gadis yang baru turun dari mobil, yang terbalut pakaian tenis dan memperlihatkan sepasang paha mereka yang mulus dan ramping. Virni dengan ramah melemparkan senyum pada mereka, aku juga nyengir membalas tatapan nakal mereka. Mama Virni mempersilakanku masuk dan menyuguhi kue-kue kecil plus minumannya. Aku langsung menghempaskan pantatku ke sofa dan menyandarkan raketku di sampingnya, minuman yang disuguhkan pun langsung kusambar karena letih dan haus.

Setengah jam pertama kami lewati dengan ngerumpi tentang masalah kuliah, cowok, dan seks sambil menikmati snack dan menonton TV. Lalu Mama Virni keluar dari kamarnya dengan dandanan rapi menandakan dia akan keluar rumah.

“Vir, Mama titip bayarannya tukang-tukang itu ke kamu ya, Mama sekarang mau ke arisan,” katanya seraya menyerahkan amplop pada Virni.


“Yah Mama jangan lama-lama, ntar kalau Citra pulang, Virni sendirian dong, kan takut,” ujarnya dengan manja (waktu itu papanya sedang di luar kota, adik laki-lakinya, Viry sudah 2 tahun kuliah di US dan pembantunya, Mbok Par masih mudik).


Akhirnya kami ditinggal berdua di rumah Virni yang besar itu. Aku sih sebenarnya sudah mau pulang dan mandi sehabis bermain tenis, tapi Virni masih menahanku untuk menemaninya. Sebagai sobat dekat terpaksa deh aku menurutinya, lagian aku kan tidak bawa mobil. Di halaman depan tampak para tukang itu sudah beres-beres, ada pula yang sudah membersihkan badan di kamar mandi belakang.


Melihat mereka sudah bersih-bersih, akupun jadi kepingin menyegarkan badanku yang sudah tidak nyaman ini. Akupun mengajak Virni mandi bareng, tapi dia menyuruhku mandi saja duluan di kamar mandi di kamarnya, nanti dia akan menyusul sesudah para tukang selesai dan membayar uang titipan Mamanya pada mereka, sekalian menghabiskan rokoknya yang tinggal setengah. Akupun meninggalkannya dia yang sedang menonton TV di ruang tengah menuju ke kamarnya. Di kamar mandi aku langsung menanggalkan pakaianku lalu kuputar kran shower yang langsung mengucurkan airnya mengguyur tubuh bugilku. Air hangat 

memberiku kesegaran kembali setelah seharian berkeringat karena olahraga, rasa nyaman itu kuekspresikan dengan bersenandung kecil sambil menggosokkan sabun ke sekujur tubuhku. 15 menit kemudian aku sudah selesai mandi, kukeringkan tubuhku lalu kulilitkan handuk di tubuhku. Aku sudah beres, tapi anehnya Virni kok belum muncul juga, bahkan pintu kamarpun tidak terdengar dibuka, padahal dia bilang sebentar saja.
Aku ingin meminjam bajunya, karena bajuku sudah kotor dan bau keringat, maka aku harus bilang dulu padanya.

“Vir..Vir, sudah belum, saya mau pinjam baju kamu nih!!,” teriakku dari kamar.
Tidak terdengar jawaban dari seruanku itu, ada apa ya pikirku, apakah dia sedang di luar meninjau para tukang jadi suaraku tidak terdengar? Waktu aku lagi bingung sendirian begitu terdengarlah pintu diketuk.
“Nah, ini dia baru datang,” kataku dalam hati.


Akupun menuju ke pintu dan membukanya sambil berkata
“Huuh.. lama banget sih Vir, lagian ngapain pake ngetok..!!,” rasa kaget memotong kata-kataku begitu melihat beberapa orang pria sudah berdiri diambang pintu. Dua diantaranya langsung menangkap lenganku dan yang sebelah kanan membekap mulutku dengan tangannya yang besar.

Belum hilang rasa kagetku mereka dengan sigap menyeretku kembali ke dalam kamar. Aku mulai dapat mengenali wajah-wajah mereka, ternyata mereka adalah para kuli bangunan di bawah tadi, semuanya ada 4 orang.

“Apa-apaan ini, lepasin saya.. tolong..!!,” teriakku dengan meronta-ronta.
Tapi salah seorang dari mereka yang lengannya bertato dengan tenangnya berkata, “Teriak aja sepuasnya neng, di rumah ini sudah nggak bakal ada yang denger kok.”


Mendengar itu dalam pikiranku langsung terbesit ‘Virni’, ya mana dia, jangan-jangan terjadi hal yang tidak diinginkan padanya sehingga aku pun makin meronta dan menjerit memanggil namanya. Tak lama kemudian masuklah Virni, tangannya memegang sebuah handycam Sony model terbaru. Sejenak aku merasa lega karena dia baik-baik saja, tapi perasaanku lalu menjadi aneh melihat Virni menyeringai seram.

“Vir.. apa-apaan nih, mau ngapain sih kamu?,” tanyaku padanya.

Tanpa mempedulikan pertanyaanku, dia berkata pada para kuli bangunan itu,
“Nah, bapak-bapak kenalin ini temen saya Citra namanya, dia seneng banget dientot, apalagi kalau dikeroyok, jadi silakan dinikmati tanpa malu-malu, gratis kok!,”


Dia juga memperkenalkan para kuli itu padaku satu-persatu. Yang lengannya bertato adalah mandornya bernama Imron, usianya sekitar 40-an, dia dipanggil bos oleh teman-temannya. Di sebelah kiriku yang berambut gondrong sebahu dan kurus tinggi bernama Kirno, usianya sekitar 30-an. Yang berbadan paling besar diantara mereka sedang memegangi lengan kananku bernama Tarman, sebaya dengan Imron, sedangkan yang paling muda kira-kira 25-an bernama Dodo, wajahnya paling jelek diantara mereka dengan bibir agak monyong dan mata besar. Keempatnya berbicara dengan logat daerah Madura.


“Gila kamu Vir.. lepasin saya ah, edan ini sih!,” aku berontak tapi dalam hatiku aku justru ingin melanjutkan kegilaan ini.

“Tenang Ci, ini baru namanya surprise, sekali-kali coba produk kampung dong,” katanya menirukan ucapanku waktu mengerjainya di vila dulu. Habis berkata bibirnya dengan cepat memagut bibirku, kami berciuman beberapa detik sebelum dia menarik lepas mulutnya yang bersamaan dengan menghentakkan handuk yang melilit tubuhku. Mereka bersorak kegirangan melihat tubuh telanjangku, mereka sudah tidak sabar lagi untuk menikmatiku


“Wah.. nih tetek montok banget, bikin gemes aja!,” seru si Tarman sambil meremas payudara kananku.
“Ini jembut nggak pernah dicukur yah lebat banget!,” timpal si Kirno yang mengelusi kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu lebat itu, dengan terus mengelus Kirno lalu merundukkan kepalanya untuk melumat payudaraku yang kiri. Sementara di belakangku, si Dodo berjongkok dan asyik menciumi pantatku yang sekal, tangannya yang tadinya cuma merabai paha mulus dan bongkahan pantatku mulai menyusup ke belahan pantatku dan mencucuk-cucukkan jarinya di sana.


Di hadapanku Pak Imron melepaskan pakaiannya, kulihat tubuhnya cukup berisi tapi perutnya agak berlemak, penisnya sudah mengacung tegak karena nafsunya. Dia meraba-raba kemaluanku, si Kirno yang sebelumnya menguasai daerah itu bersikap mengalah, dia melepaskan tangannya dari sana agar mandornya itu lebih leluasa. Wajahnya mendekati wajahku, dia menghirup bau harum dari tubuhku.

“Hhmmhh.. si non ini sudah wangi, cantik lagi!,” pujinya sambil membelai wajahku.
“Iya bos, emang di sini juga wangi loh!,” timpal si Dodo di tengah aktivitasnya menciumi daerah pantatku.
Diperlakukan seperti itu bulu kudukku merinding, sentuhan-sentuhan nakal pada bagian-bagian terlarangku membuatku serasa hilang kendali. Gerak tubuhku seolah-olah mau berontak namun walau dilepas sekalipun saya tidak akan berusaha melarikan diri karena tanggung sudah terangsang berat. Merasa sudah menaklukkanku, kedua kuli di samping melonggarkan pegangannya pada lenganku.


Adegan panas ini terus direkam Virni dengan handycamnya sambil menyoraki kami.
“Aahh.. jangan.. Vir, jangan disyuting.. ngghh.. matiin handy.. hhmmhh..!!,” kata-kataku terpotong oleh Pak Imron yang melumat bibirku dengan bernafsu. Aku yang sudah horny membalas ciumannya dengan penuh gairah.


“Acchh.. ahhkk.. cckk” bunyi mulut dan lidah kami beradu. Aku makin menggeliat kegelian ketika si Kirno menaikkan lenganku dan menciumi ketiakku yang tak berbulu.


“Ayo Ci, gaya kamu ok banget, pasti lebih heboh dari bokepnya Itenas nih,” Virni menyemangati sambil mencari sudut-sudut pengambilan gambar yang bagus. Dia fokuskan kameranya ketika aku sedang diciumi Pak Imron, saat bersilat lidah hingga liur kami menetes-netes. Badanku bergetar sepeti kesetrum dan tanpa sadar kubuka kedua pahaku lebih lebar sehingga membuka lahan lebih luas bagi lidah Dodo bermain main di lubang anusku, juga jari-jari yang mengocok-ngocok vaginaku, aku tidak dapat melihat jelas lagi jari-jari siapa yang mengelus ataupun keluar-masuk di sana saking hanyutnya dalam birahi.


Mereka menggiring dan mendudukkanku di tepi ranjang. Kirno dan Tarman mulai melepas pakaian mereka, sedangkan Dodo entah sejak kapan dia melepaskan pakaiannya, karena begitu kulihat dia sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kini mereka berempat yang sudah bugil berdiri mengerubungiku dengan keempat senjatanya ditodongkan di depan wajahku. Aku sempat terperangah melihat penis mereka yang sudah mengeras itu, semuanya hitam dan besar, rata-rata berukuran 17-20cm.

“Ayo non, tinggal pilih mau yang mana duluan,” kata Pak Imron.
Aku meraih penis Pak Tarman yang paling panjang, kubelai dan kujilati sekujur permukaannya termasuk pelirnya, kemudian kumasukkan ke mulut dan kuemut-emut.
“Heh, jangan cuma si Tarman aja dong non, saya kan juga mau nih,” tegur si Kirno seraya menarik tanganku dan menempelkannya pada penisnya .
“Iya nih, saya juga,” sambung si Dodo menarik tanganku yang lain.

“Mmhh.. eenngg..!,” gumamku saat menyepong Pak Tarman sambil kedua tanganku menggenggam dan mengocok penis Dodo dan Kirno. Sambil menikmati penis-penis itu, mendadak kurasakan kakiku direnggangkan dan ada sesuatu di bawah sana. Oh, ternyata Pak Imron berjongkok di hadapan selangakanku. Tangannya membelai paha mulusku dan berhenti di vaginaku dimana dia membuka bibirnya lalu mendekatkan wajahnya kesana. Kurasakan lidahnya mulai menyentuh dinding vaginaku dan menari-nari disana. Sungguh luar biasa kenikmatan itu, aku pun semakin liar, aku membuka pahaku lebih lebar agar Pak Imron lebih leluasa menikmati vaginaku. Hal itu juga berpengaruh pada kocokan dan kulumanku yang makin intens terhadap ketiga pria yang sedang kulayani penisnya. Mereka mengerang-ngerang merasakan nikmatnya pelayanan mulutku secara bergantian. Saking sibuknya aku sampai tidak tahu lagi tangan-tangan siapa saja yang tak henti-hentinya menggerayangi payudaraku.

Setelah cukup dengan pemanasan, mereka membaringkan tubuhku di tengah ranjang. Pak Imron langsung mengambil posisi diantara kedua pahaku siap untuk memasukkan penisnya kepadaku, tanpa ba-bi-bu lagi dia mulai menancapkan miliknya padaku. Ukurannya sih tidak sebesar milik Pak Tarman, tapi diameternya cukup lebar sesuai bentuk tubuhnya sehingga vaginaku terkuak lebar-lebar dan agak perih. Virni mendekatkan kameranya pada daerah itu saat proses penetrasi yang membuatku merintih-rintih. Pak Imron mulai menghentak-hentakkan pinggulnya, mulanya pelan tapi semakin lama goyangannya semakin kencang membuat tubuhku tersentak-sentak. Teman-temannya juga tidak tinggal diam, mereka menjilati, mengulum, dan menggerayangi sekujur tubuhku. Si Dodo sedang asyik menjilat dan mengeyot payudaraku, terkadang dia juga menggigit putingku. Pak Tarman menggelikitik telingaku dengan lidahnya sambil tangannya meremasi payudaraku yang satunya. Sementara tangan kananku sedang mengocok penis si Kirno. Pokoknya bener-bener rame rasanya deh, ya geli, ya nikmat, ya perih, semua bercampur jadi satu.

Aku mengerang-ngerang sambil mengomeli Virni yang terus merekamku
“Awww.. awas kamu Vir ntar.. saya.. aahh.. liat aja.. oohh.. ntar!,”
“Yaah, kamu masa kalah sama Indah Ci, dia aja sudah ada bokepnya, sekarang saya juga mo bikin yang kamu nih,” ujarnya dengan santai “Hmm.. judulnya apa yah, Citra cewek A*****, wah pasti seru deh!”


Kini sampailah aku pada saat yang menentukan, tubuhku mengejang hebat sampai menekuk ke atas disusul dengan mengucurnya cairan cintaku seperti pipis. Si Kirno juga jadi ikut mengerang karena genggamanku pada penisnya jadi mengencang dan kocokanku makin bersemangat. Pak Imron sendiri belum memperlihatkan tanda-tanda akan klimaks, kini dia malah membalikkan tubuhku dalam posisi dogy tanpa melepas penisnya. Dia melanjutkan genjotannya dari belakang.


Waktu aku masih lemas dan kepalaku tertunduk, tiba-tiba si Dodo menarik rambutku dan penisnya sudah mengacung di depan wajahku. Akupun melakukan apa yang harus kulakukan, benda itu kumasukkan dalam mulutku. Kumulai dengan mengitari kepalanya yang seperti jamur itu dengan lidahku, serta menyapukan ujung lidahku di lubang kencingnya, selanjutnya kumasukkan benda itu lebih dalam lagi ke mulut dan kukulum dengan nikmatnya. Tentu saja hal ini membuat si Dodo blingsatan keenakan, penisnya ditekan makin dalam sampai menyentuh kerongkonganku, bukan cuma itu dia juga memaju-mundurkan penisnya sehingga aku agak kelabakan. Setiap kali Pak Imron menghujamkan penisnya penis Dodo semakin masuk ke mulutku sampai wajahku terbenam di selangkangannya, begitupun sebaliknya ketika Dodo menyentakkan penisnya di mulutku, penis Pak Imron semakin melesak ke dalamku. Pak Tarman yang menunggu giliran berlutut di sampingku sambil meremas payudaraku yang menggantung. Pak Imron mendekati puncak, dia mencengkam pinggulku erat-erat sambil melenguh nikmat, genjotannya semakin cepat sampai akhirnya menyemburkan cairan putih pekat di rahimku.

Sesudah Pak Imron mencabut penisnya, si Dodo mengambil alih posisinya. Namun sebelum sempat memulai, si Kirno menyela:
“Kamu dari bawah aja Do, masak dari tadi aku ngerasain tangannya aja sih, aku pengen ininya nih!,” katanya sambil mencucukkan jarinya ke anusku sehingga aku menjerit kecil.
Merekapun sepakat, akhirnya aku menaiki penis si Dodo yang berbaring telentang, benda itu masuk dengan lancarnya karena vaginaku sudah licin oleh cairan kewanitaanku ditambah lagi mani Pak Imron yang banyak itu. Kemudian dari belakang Kirno mendorong punggungku ke depan sehingga pinggulku terangkat. Aku merintih-rintih ketika penisnya melakukan penetrasi pada anusku.

“Uuhh.. waduhh.. sempit banget nih lubang!,” desahnya menikmati sempitnya anusku.
Kedua penis ini mulai berpacu keluar-masuk vagina dan anusku seperti mesin. Dodo yang berada dibawah menciumi leher depanku dan meninggalkan bekas merah.

“Ooohh.. aahh.. eenngghh,” suara lirih keluar dari mulutku setiap kali kedua penis itu menekan kedua liang senggamaku dengan kuat.

Disebelahku kulihat Virni sudah mulai dikerjai Pak Imron dan Tarman yang sudah tidak sabar karena penisnya belum kebagian jatah lubang dari tadi. Virni terus mensyutingku walaupun tangan-tangan jahil itu terus menggerayanginya, sesekali dia mendesah. Tangan Pak Tarman menyusup lewat bawah rok tenisnya dan kaos putihnya sudah disingkap oleh Pak Imron. Dengan cekatan, Pak Imron membuka kait BH-nya menyebabkan BH yang melingkar di dadanya itu jatuh, dan terlihatlah buah dada Virni yang montok dengan puting kemerahan yang mencuat. Pak Tarman langsung melumat yang sebelah kiri sambil tangannya menggosok-gosok kemaluannya dari luar, yang sebelah kiri diremas Pak Imron sambil menciumi lehernya. Ikat rambut Virni ditariknya hingga rambut indahnya tergerai sampai punggung.

“Aaahh.. jangan sekarang Pak.. sshh,” desah Virni dengan suara bergetar.

Friday, November 9, 2007

Obsesi dan Kenikmatan

AKU, SUAMI dan MANTAN PACARKU

Tak berapa lama kemudian, suara bel kamar berbunyi. Langsung saja Awang, suamiku beringsut menuju pintu tuk membuka dan memastikan kalo yang datang adalah Tatang. Benar juga, dilihat dari teriakan gembira kecil suamiku, aku pastikan kalau itu adalah Tatang. Deg..dadaku terasa semakin tidak berirama dan semakin cepat manakala Tatang mulai memasuki kamar ini. Kulihat dia melemparkan senyum manisnya kediriku sambil menyapa “Bagaimana kabarmu, Yan? ujarnya ramah.

“Baik, bagaimana denganmu?” balasku ke dia.

“Baik juga, oh ya kamu terlihat sexy ya sama seperti terakhir kita ketemu dulu” ujarnya merayuku.

“Ah,.. kamu ada-ada saja, biasa aja lagi” ujarku dengan tersipu malu.

Jujur, rasanya aku mulai menikmati permainan ini. Yach, bisa dibilang
Tatang sekarang lebih terlihat tampan daripada dulu, aku sungguh-sungguh dibuatnya panas dingin dengan penuh rasa tidak percaya bakal bertemu dengannya lagi. Namun, itu tak berlangsung lama setelah suamiku memecahkan kebisuanku dengan memintaku tuk berganti baju. Segera saja kupenuhi dengan menuju kamar mandi. Disana aku memilih lingerie yang warna hitam, dengan kainnya yang tipis sehingga apapun yang ditutupi akan tersetak dan terlihat jelas, ditambah jenis celana dalamnya yang sangat mini, bisa dikatakan hanyalah penghias karena celana itu ga sepenuhnya menutupi vaginaku ini.

Segera saja, dengan perasaan berdebar-debar keberanikan diriku melangkah menuju Tatang dan suamiku yang sedang berbincang-bincang. Saat mereka menyadari kehadiranku dengan pakaian ini, terlihat sekali ekspresi Tatang yang telihat kaget penuh nafsu memandangku.

Serta merta dia beringsut dari tempat duduknya menujuku. Dengan pelan dan penuh penghayatan, dia memberanikan diriku memelukku dengan hangatnya. Kulirik suamiku, ternyata dia memperhatikan kami dengan seksama. Tak kulihat ada raut muka ketidak setujuannya terhadap perlakuan tatang kepadaku. Hal itu memberiku keberanian tuk mencium bibir Tatang.

“Ehm..muach…oohh..” rintihku disaat bibirku dibalas dengan
pagutannya yang melumat bibirku ini dengan ganasnya.

“Kamu sungguh sexy
sekali yani” ujarnya kepadaku.

Tak Cuma itu saja, kedua tangannya yang
semula memelukku mulai berani mempermainkan buah dada dan vaginaku. Gesekan demi gesekan yang dilakukannya padaku menambah birahiku semakin tinggi. Aku sangat menikmatinya, sampai ta kusadari aku berdesis penuh
kenikmatan.

"Oh, Tatang..ehmm..ohh enak Tang..” ujarku lirih disaat dia
mulai memainkan bibir dan lidahnya ke payudaraku.

Sungguh ga kukira aku
bisa menikmatinya seperti ini. Satu persatu bajunya dia copot dengan tak sabarnya tuk ingin merengkuhku lebih. Segera saja dia mulai menuntunku ke tempat tidur dengan menyisakan celana dalam saja yang dia pakai. Kemudian dengan pintarnya sambil mengulum payudaraku, tangan satunya telah memainkan klitorisku dengan hebatnya.

“Ooh..Tatang,
sayang..hmm..oochh..enak sekali, terusss..sayaaang” pintaku tuk jangan menghentikan aktivitasnya.

Terasa bawah vaginaku telah mengalir cairan
bening dengan derasnya. Sambil bersungkut dan senyum kepadaku, dia melepaskan celana dalamku.

“Oh..apakah persetubuhan ini akan
terjadi” batinku dalam hati.

Antara menikmati dan bimbang aku beranikan
diri memegang penisnya yang sudah dari tadi tegak berdiri. Kuelus-elus batang penis itu.

“Oh tuhan, inikah penis Tatang?”ujarku dalam hati.

Sungguh penisnya sangat kokoh, keras, dan kulihat sangat menabjubkan. Meskipun kurang lebih sama dengan punya suamiku, namun penis tatang punya kekhasan yaitu agak bengkok kesamping dengan kepala penisnya yang besar dan merah saat kulihat seksama. Dengan naluriah kucium dan kukulum penisnya sambil kujilati scrotum-nya.

“Oh..enak banget Yan, aku dah
memimpikan hal ini sejak lama” ujarnya kepadaku.

Ternyata semenjak aku
pacaran ama suamiku dulu, aku adalah fantasi sex baginya. Kurang lebih 5 menit aku mengulum penisnya sampai akhirnya dia mendorongku tuk berbaring di tempat tidur. Kemudian giliran dia yang meng-oral vagina ini. Sangat ga kusangka, dia belajar dimana bisa mengoral seenak ini.

Pertama dia sapukan lidahnya dari bawah ke atas, kemudian memutar2kan beberapa saat dibagian atas yang kemudian dilanjutkan ketengah. Begitu saja terus menerus dia lakukan hal itu. Sampai akhirnya..

”Oochh..Tang..aku mau KELUAAARR” erangku sambil menggapit
kepalanya dengan kedua pahaku sambil menjambak rambutnya.

“OOhh…sstttss..ohh enaknya sayang…” erangku lagi mengiringi orgasmeku yang pertama.

Beberapa lamanya aku dibiarkannya tuk menikmati orgasmeku,
yang kemudian dengan lembutnya dia membuka pahaku kesamping. Oh..rasanya persetubuhan ini akan terjadi. Saat kulirik ke suamiku, tampak dia dah mulai menggosok-gosokkan penisnya dengan tangan. Ada rasa kagum tersendiri dan begitu sexy sekali diriku disaat bisa orgasme didepan suami dan tentunya Tatang pastinya.

Kemudian mulai Tatang menindihku dengan menggosok-gosokkan penisnya ke vaginaku. Wah, sensasi ini sungguh amat sangat menyiksa batinku. Belum usai kenikmatan atas orgasme yang barusan kudapatkan harus merasakan kenikmatan gesekannya.

“OOcchh..Ach..Hmm..Achh.enak banget..masukin
cepat Tang..Achh?!” ujarku ta sabar menerima penisnya dalam vaginaku.

Segera setelah itu, dia mengarahkan penisnya ke vaginaku. Bless..Ochh, enak banget apalagi disaat dia mulai memaju mundurkan penisnya itu. Tangannyapun ta ketinggalan dengan meremas-remas kedua payudaaraku ini sungguh ta terbayangkan rasanya.Ta berapa lama kemudian

”Occhhh..ahh..Ochhh..aku kellluuaaarr laagiii”.
“
Achhh..”jeritku sambil merengkuh tubuh Tatang dengan eratnya.

Benar-benar nikmatnya, ternyata benar adanya hal ini membuat kenangan tersendiri buat kami. Segera sesudahnya Tatang memintaku tuk posisi jongkok. Disini aku dah tau apa yang dimauinya, karena aku dan suamiku sering melakukan posisi ini. Kemudian mulai lagi pergulatan kami, dengan nafas dan keringat yang bercucuran pada diri kami masing-masing, Tatang tetap mempertahankan posisi itu dengan menyodok berulang-ulang. Tampak terlihat dari mukanya dia begitu suka dengan posisi ini. Begitu juga denganku, bagi para wanita posisi ini memberikan stimulasi maksimum pada liang vagina yang sudah dalam fase nikmat. Hingga akhirnyaa…

” Acchh..aku
keluar Yani…OOchh…..crott..croot..crott..” dia muntahkan spermanya di pantatku.

Hingga beberapa lamanya dia diam membisu dengan mata terpejam
coba menikmati semaksimum mungkin orgasmenya itu.

Thursday, June 14, 2007

Kenikmatan 2

Cerita sebelumnya.........

Rudy tertegun beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawahnya itu. "Tubuh ibu memang sempurna, apalagi bagian bawah ini, benar-benar luar biasa” sambil tangannya mulai meraba dan mengelus lembut di bagian paling nikmat ini.


Situs getmoney-epub.blogspot.com, sebuah situs blog tentang seluk-beluk membuat blog (blogger) mulai dari mendesign templates, membuat banner, logo, mendapatkan private label (free articles) untuk content situs dan bagaimana maraup dollar dari bisnis Adsense-Google maupun trik mendapatkan uang dari memasang iklan di AdWords Google.


Dia mulai melepas kemejanya sehingga aku dapat melihat perutnya yang rata dan berotot serta dadanya yang berbulu itu. Lalu dia membuka sabuk dan celananya sehingga benda dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah dan tegak. Aku menatap takjub pada organ tubuh itu, begitu besar dan berurat aku sudah tidak sabar lagi menggenggam dan mengulumnya. Rudy begitu membuka pahaku lalu membenamkan kepalanya di situ sehingga selangkanganku tepat menghadap ke mukanya.

"Hhmm.. wangi, pasti Tante rajin merawat diri yah" godanya waktu menghirup kemaluanku yang kurawat dengan apik dengan sabun pembersih wanita.

Sesaat kemudian kurasakan benda yang lunak dan basah menggelitik vaginaku, oohh.. lidahnya menjilati klitorisku, terkadang menyeruak ke dalam menjilati dinding kemaluanku. Lidah tebal dan kumis tipisnya itu terasa menggelitik bagiku, aku benar-benar merasa geli di sana sehingga mendesah tak tertahan sambil meremasi rambutnya "ohh...ohhh...nikmatnya....ohhhhh". Kedua tangannya menyusup ke bawah bajuku dan mulai meremas payudara montokku, jari-jarinya yang besar bermain dengan liar disana, memencet putingku dan memelintirnya hingga benda itu terasa makin mengeras.

"Rud.... oohh.. saya juga mau....Rud....ohh...!" desahku tak tahan lagi ingin mengulum penis itu.

"Kalau begitu saya di bawah saja ya Tante" katanya sambil mengatur posisi kami sedemikian rupa menjadi gaya 69.

Aku naik ke wajahnya dan membungkukkan tubuhku, kuraih benda kesukaanku itu, dalam genggamanku kukocok perlahan sambil menjilatinya. Kugerakkan lidahku menelusuri pelosok batang itu, buah "pinangnya" kuemut sejenak, lalu jilatanku naik lagi ke ujungnya dimana aku mulai membuka mulut siap menelannya. Oohh.. batang itu begitu panjaaang dan berdiameter lebar persis seperti tubuh pemiliknya, sehingga akupun harus membuka mulutku selebar-lebarnya agar bisa mamasukkannya.

Aku mulai mengisapnya dan memijati buah "pinangnya" dengan tanganku. Rudy mendesah-desah enak menikmati permainanku, sementara aku juga merasa geli di bawah sana, kurasakan ada gerakan memutar-mutar di dalam liang vaginaku oleh jarinya, jari-jari lain dari tangan yang sama mengelus-elus klitoris dan bibir vaginaku, bukan itu saja, lidahnya juga turut menjilati baik anus maupun vaginaku. Sungguh suatu sensasi yang hebat sekali sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya, juga semakin bersemangat mengulum penisnya. Selama 10 menitan kami menikmat permainan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya bersama suamiku ini. Sungguh permainan kenikmatan paling sensasional...."ohhhh....."

Tiba-tiba dia menggeram sambil menepuk-nepuk pantatku "ohh....tante....oh.... ja...ohhhhh......", sepertinya menyuruhku berhenti, tapi karena sudah tanggung aku malahan makin hebat mengocok dan mengisap penis itu sampai dia susah payah menahan geraman nikmatnya. Akhirnya muncratlah cairan putih itu di mulutku yang langsung saya minum seperti kehausan, cairan yang menempel di penisnya juga saya jilati sampai tak bersisa.

Rudy menurunkan kaos tanpa lenganku dari bahu dan meloloskannya lewat lengan kananku, sehingga kini payudara kananku yang putih montok itu tersembul keluar. Dengan penuh nafsu langsung dia lumat benda itu dengan mulutnya. Aku menjerit kecil waktu dia menggigit putingku dan juga mengisapnya kuat-kuat, bulatan mungil itu serasa makin menegang saja. Dia membuka mulutnya lebar-lebar berusaha memasukkan seluruh payudara montok ku ke mulutnya, di dalam mulutnya payudaraku disedot, dikulum, dan dijilat, rasanya seperti mau dimakan saja milikku itu. Sementara selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku terasa sudah di puncak, mengucurlah cairan cintaku dengan deras "ohhh........nikmatnya....ohhhhh......". Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli di bawahku sehingga tangannya terhimpit diantara kedua paha mulusku.

Kembali lidahnya menjilati payudaraku yang sudah basah itu, sedangkan aku menjilati cairan pada tangannya yang disodorkan padaku. Tanganku yang satu meraba-raba ke bawah dan meraih penisnya, terasa olehku batang itu kini sudah mengeras lagi, siap memulai aksi berikutnya.

"Enggh.. masukin aja Rud..., Tante udah kepingin banget nih".

Dia membalik tubuhku, tepat berhadapan dengannya, tangan kananya memegangi penisnya untuk diarahkan ke vaginaku. Aku membukakan kedua bibir vaginaku menyambut masuknya benda itu. Setelah kurasakan pas aku mulai menurunkan tubuhku, secara perlahan tapi pasti penis itu mulai terbenam dalam kemaluanku. Goyanganku yang liar membuat Rudy mendesah-desah keenakan "ohh... enak...oh... terusss... tante...teruss... digoyang....ohhh...",
untung dia tidak ada penyakit jantung, kalau iya pasti sudah kumat. Kaosku yang masih menyangkut di bahu sebelah kiri diturunkannya sehingga kaos itu menggantung di perutku dan payudara kiriku tersingkap. Nampak sekali bedanya antara yang kiri yang masih bersih dengan bagian kanan yang daritadi menjadi bulan-bulanannya sehingga sudah basah dan memerah bekas cupangan.


Kedua tangannya meremas-remas kedua payudaraku, ketika melumatnya terkadang kumisnya yang tipis itu menggesek putingku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Lidahnya bergerak naik ke leherku dan mencupanginya sementara tangannya tetap memainkan payudaraku. Birahiku sudah benar-benar tinggi, nafasku juga sudah makin tak teratur, dia begitu lihai dalam bercinta, kurasa bukan pertama kalinya dia berselingkuh seperti ini. Aku merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi, frekuensi goyanganku kutambah, lalu aku mencium bibirnya. Tubuh kami terus berpacu sambil bermain lidah dengan liarnya sampai ludah kami menetes-netes di sekitar mulut, eranganku teredam oleh ciumannya. Mengetahui aku sudah mau keluar, dia menekan-nekan bahuku ke bawah sehingga penisnya menghujam makin dalam dan vaginaku makin terasa sesak. Tubuhku bergetar hebat dan jeritanku tak tertahankan lagi terdengar dari mulutku, perasaan itu berlangsung selama beberapa saat sampai akhirnya aku terkulai lemas dalam pelukannya.

Dia menurunkanku dari pangkuannya, penisnya terlihat berkilauan karena basah oleh cairan cinta. Dibaringkannya tubuhku yang sudah lemas itu di sofa, lalu dia sodorkan gelas yang berisi teh itu padaku. Setelah minum beberapa teguk, aku merasa sedikit lebih segar, paling tidak pada tenggorokanku karena sudah kering waktu mendesah dan menjerit. Kaosku yang masih menggantung di perut dia lepaskan, sehingga kini aku bugil total. Sebelum tenagaku benar-benar pulih, Rudy sudah menindih tubuhku, aku hanya bisa pasrah saja ditindih tubuh gemuknya. Dengan lembut dia mengecup keningku, dari sana kecupannya turun ke pipi, hingga berhenti di bibir, mulut kami kembali saling berpagutan. Saat berciuman itulah, Rudy menempelkan penisnya pada vaginaku, lalu mendorongnya perlahan, dan aahh.. mataku yang terpejam menikmati ciuman tiba-tiba terbelakak waktu dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menusuk lebih dalam.

Kenikmatan ini pun berlanjut, aku sangat menikmati gesekan-gesekan pada dinding vaginaku. Payudara montokku saling bergesekan dengan dadanya yang sedikit berbulu, kedua paha rampingku kulingkarkan pada pinggangnya. Aku mendesah tak karuan sambil mengigiti jariku sendiri. Sementara pinggulnya dihentak-hentakkan diatasku, mulutnya tak henti-hentinya melumat atau menjilati bibirku, wajahku jadi basah bukan saja oleh keringat, tapi juga oleh liurnya. Telinga dan leherku pun tak luput dari jilatannya, lalu dia angkat lengan kananku ke atas dan dia selipkan kepalanya di situ. Aahh.. ternyata dia sapukan bibir dan lidahnya di ketiakku yang halus tak berbulu itu, kumis kasar itu menggelitikku sehingga desahanku bercampur dengan ketawa geli.

"Uuuhh.. Rudd.. aakkhhhhhh.......... !" aku kembali mencapai orgasme.

Vaginaku terasa semakin banjir, namun tak ada tanda-tanda dia akan segera keluar, dia terlihat sangat menikmati mimik wajahku yang sedang orgasme. Suara kecipak cairan terdengar jelas setiap kali dia menghujamkan penisnya, cairanku sudah meleleh kemana-mana sampai membasahi sofa, untung sofanya dari bahan kulit, jadi mudah untuk membersihkan dan menghilangkan bekasnya. Tanpa melepas penisnya, Rudy bangkit berlutut di antara kedua pahaku dan menaikkan kedua betisku ke pundaknya. Tanpa memberiku istirahat dia meneruskan mengocok kemaluanku, aku sudah tidak kuat lagi mengerang karena leherku terasa pegal, aku cuma bisa mengap-mengap seperti ikan di luar air.

"Tante... saya juga udah mauuu......... !" desahnya dengan mempercepat kocokkannya.
"Di luar.. Rudy.. aku ahh.. uuhh.. lagi subur" aku berusaha ngomong walau suaraku sudah putus-putus.

Tak lama kemudian dia cabut penisnya dan menurunkan kakiku. Dia naik ke wajahku, lalu dia tempelkan penisnya yang masih tegak dan basah di bibirku. Akupun memulai tugasku, kukulum dan kukocok dengan gencar sampai dia mengerang keras dan menjambak rambutku. Maninya menyemprot deras membasahi wajahku, aku membuka mulutku menerima semprotannya. Setelah semprotannya mereda pun aku masih mengocok dan mengisap penisnya seolah tidak membiarkan setetespun tersisa. Batang itu kujilati hingga bersih, benda itu mulai menyusut pelan-pelan di mulutku. Kami berpelukan dengan tubuh lemas merenungi apa yang baru saja terjadi.

Wednesday, June 13, 2007

Kenikmatan

Pak Rudy adalah seorang agen perusahaan asuransi tempat dimana keluarga kami menjadi kliennya. Ia baru tiga kali datang ke rumahku untuk keperluan menagih premi asuransi. Biasanya yang menagih premi asuransi adalah Bu Sri dan 2 bulan yang lalu beliau memperkenalkan pak Rudy sebagai penggantinya. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 30 tahunan, tinggi badan sekitar 170 cm an dan memiliki tubuh yang atletis. Sebelum bekerja sebagai agen asuransi, pak Rudy adalah seorang pemain Bola Volley yang handal di daerahnya. Tak heran kalau bentuk tubuhnya masih terlihat atletis dan bisa membuat wanita kesepian seperti aku mabuk kepayang.

Pada awalnya sih kedatangan pak Rudy ke rumahku layaknya seorang agen asuransi biasa, ngobrol tentang asuransi sebentar dan setelah kubayar premi asuransi beliau langsung pamit. Tapi pada kedatangan yang ketiga ke rumahku, jalan ceritanya menjadi hal yang tidak biasa dan menjadi kenangan paling indah dan sensasional semenjak aku menjadi ibu rumah tangga dari suami seorang pengusaha dan memiliki 2 orang anak yang mulai beranjak remaja. Usiaku memang tidak muda lagi, 42 tahun, tapi kata orang-orang bentuk tubuh indahku tetap saja bisa membuat seorang laki-laki terperangkap dalam hayalan kenikmatan sesaat. Apalagi bentuk buah dadaku (ukuran 36A? ohh….indah nian) yang tetap terjaga dengan baik, tidak kalah dengan buah dada wanita usia 20 tahunan.

Pada suatu hari aku sedang di rumah sendirian, setelah suamiku berangkat ke kantor dan 2 anakku pergi ke sekolah. Untuk mengisi kegiatan harian, biasanya antara jam 9 – 10 pagi aku melakukan fitness di rumah. Aku biasanya memakai pakaian yang enak dipakai dan menyerap keringat berupa sebuah kaos putih tipis tanpa lengan dengan belahan dada rendah sehingga buah dadaku yang montok itu agak tersembul keluar terutama kalau sedang menunduk. Apalagi aku tidak memakai BH (Bra kesukaanku merk Felina atau Wacoal), juga sebuah celana pendek ketat merk 'Wacoal' yang berbahan tipis dan mencetak pantatku yang padat berisi. Waktu aku sedang melatih pahaku dengan sepeda fitness, tiba-tiba terdengar bel berbunyi, segera saja kuambil handuk kecil dan mengelap keringatku sambil berjalan ke arah pintu. Kulihat dari jendela, ternyata Pak Rudy yang datang, pasti dia mau menagih premi asuransi karena ini memang sudah waktunya kami membayar.

Kubukakan pagar dan kupersilakan dia masuk. "Silakan Pak duduk dulu ya, sambil nunggu saya ambil uangnya" senyumku dengan ramah sambil mempersilakannya duduk di ruang tengah.

"Kok sepi sekali ya Bu, pada kemana yang lain?"

"Biasalah pak Rudy, kalau jam segini memang sepi di rumah ini, ya anak-anak kan belum pada pulang dan bapaknya anak-anak juga biasanya pulangnya malam”

“Ohh………?!” Pak Rudy tersenyum manis sambil matanya sekilas menatap ke arah gunung kembarku dengan 2 buah putting yang tersembul dibalik kaos putih tipis yang basah oleh keringat. Saat itu aku memang tidak memakai BH, sehingga putting buah dadaku terlihat jelas. Aku jadi risih juga dan buru-buru aku bilang

“Sebentar ya Pak, saya ambil uangnya dulu” untuk mengalihkan perhatian.

“Silahkan bu….” Jawab pak Rudy dengan tetap memberikan senyum manisnya dan tatapan matanya yang agak nakal saat itu.

Setelah ku ambil uang di kamar dan balik ke dapur untuk membuatkan minuman, sesaat imajinasi nakal mulai merambah pikiranku. Apalagi tadi malam hasrat untuk melakukan hubungan badan dengan suamiku tidak tercapai akibat kelelahan setelah sehari penuh bekerja di kantor. Dan kejadian seperti ini sudah berjalan lama, menahan hasrat birahi kewanitaan yang menggebu-gebu dan siap meledak setiap saat. Aku menggigit bibir bawahku menahan hasrat birahiku yang tiba-tiba muncul bak gunung berapi yang siap meledak memuntahkan magma panas yang membara.

"Mari diminum air-nya Pak!", tawarku lalu aku duduk di depannya dengan menyilangkan kaki kananku sehingga pahaku yang jenjang dan putih itu makin terlihat. Suasana mesum mulai terasa di ruang tamuku yang nyaman itu dan itu mulai menggoda nafsu birahiku Dia menanyaiku sekitar masalah anak-ana, seperti sekolah, hoby, keluarga, dan kegiatan ku dan suami selama ini, tapi mata nakalnya terus memandang ke arah buah dada dan dua putting yang kian mengeras dan menggoda (sengaja kereman-remas buah dada dan putingku agar tambah membesar dan mengeras saat menyiapkan minuman di dapur).

"Bu Dewi lagi olah raga yah, soalnya badannya keringatan dan kaosnya basah kuyup gitu” Tanya pak Rudy sambil matanya menatap wajahku dengan lembut.

"Iya nih Pak, biasa kan ibu-ibu seusia saya harus bisa menjaga bentuk tubuh agar suami puas dan betah tinggal di rumah” kataku mulai memancing suasana makin panas.

“Cuma sekarang jadi pegel banget nih, pengen dipijat rasanya, Bapak bisa bantu pijitin nggak?" godaku sambil mengurut-ngurut paha mulusku.

Tanpa diminta lagi dia segera bangkit berdiri dan pindah ke sebelahku, waktu berdiri kuperhatikan ia melihat putingku yang menonjol dari balik kaosku, juga kulihat penisnya mengencang dibalik celananya yang membuatku tidak sabar ingin rasanya mengenggam benda itu

"Mari Bu, kesinikan kakinya biar saya pijat" Aku lalu mengubah posisi dudukku menjadi menyamping dan menjulurkan kakiku ke arahnya. Dia mulai mengurut paha hingga betisku. Uuuhh.. pijatannya benar-benar enak, telapak tangannya yang kasar itu membelai pahaku yang putih mulus hingga membangkitkan birahiku. Akupun mendesah-desah sambil menggigit bibir bawahku.

"Pijatan saya enak ya Bu?" tanyanya.

"Iya Rudy, terus dong.. enak nih.. emmhh!" aku terus mendesah membangkitkan nafsu Rudy, desahanku kadang kusertai dengan geliat tubuh. Dia semakin berani mengelus paha dalamku, bahkan menyentuh pangkal pahaku dan meremasnya.

"Enngghh.. Rudd...!" desahku lebih kuat lagi ketika kurasakan jari-jarinya mengelusi bagian paling sensitive dari tubuh indahku. Saat-saat seperti yang paling kunantikan selama ini.

Tubuhku makin menggelinjang-gelinjang sehingga nafsu Rudy pun semakin naik dan tidak terbendung lagi. Celana sportku ditariknya secara perlahan sambil matanya menatap mataku untuk meminta ijin dan aku kedipkan 2 mataku dengan senyum lembut tanda kepasrahan (Emh…ini yang aku harapkan, ucapku dalam hati). Dengan perlahan pula, ditariknya celana dalamku (CD kesukaanku merk Hanky Panky).

"Aaww.. Rudy kamu nakal ihh....!" aku berlagak kaget sambil menutupi kemaluanku dengan telapak tanganku.

Melihat reaksiku yang malu-malu kucing ini dia makin gemas saja, ditariknya celanaku yang sudah tertarik hingga lutut itu lalu dilemparnya ke belakang, tanganku yang menutupi kemaluan juga dibukanya sehingga kemaluanku yang berambut tipis itu (baru 1 bulan yang lalu kucukur rambut di kemaluanku) tampak olehnya, klitorisku yang merah merekah dan sudah becek kini siap dijelajahinya.

Rudy tertegun beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawahnya itu. "Tubuh ibu memang sempurna, apalagi bagian bawah ini, benar-benar luar biasa” sambil tangannya mulai meraba dan mengelus lembut di bagian paling nikmat ini.

Bersambung..... besok!.