Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Thursday, August 30, 2012

Penemuan Emas Itu adalah Musibah Kami



Grace adalah seorang anak berumur 7 tahun. Dia tinggal di daerah terpencil di pulau Buru.  Bersama dengan keluarga sederhananya. Setiap hari Grace pergi ke sekolah dengan berjalan kaki menyusuri sebuah jalanan yang belum di aspal. Di musim hujan, dia biasanya berjalan dengan telanjang kaki. Karena jalanan becek dan mengotori sepatunya. Grace biasa mencuci kaki dan mengenakan sepatunya ketika sudah sampai di sekolah.
Grace sangat periang dan senang bermain sepak bola. Meskipun perempuan, dia memang suka untuk memainkan permainan laki-laki. Kemampuannya bermain sepak bola cukup diandalkan oleh teman temannya, sehingga ketika saatnya bermain, dia selalu menjadi rebutan. Banyak temannya yang menginginkan Grace untuk bersama dalam permainan itu, mereka tidak ingin menjadi lawan bermain Grace.
“Grace! Beta satu tim sama ngana, neh?” David berkata sambil berjalan menuju Grace
“Oooh tidak… Ale deng Jhony, jo!”
Fredy mendorong David sambil berkata itu, Kemudian dia menyuruh David untuk satu tim bersama Jhony. Sementara itu, Grace berdiri sambil dipegangi tangannya oleh Peron dan tiga temannya yang lain. Mereka hanya berjumlah sepuluh orang, jadi satu tim hanya berjumlah lima orang saja.
Setelah sepakat, merekapun memulai pertandingan Sepakbola. Tidak ada yang istimewa hari itu, karena seperti biasa Grace selalu menjadi andalan untuk memenangkan sebuah permainan sepak bola. Disisi lain, Grace selalu menjadi pemain yang diawasi oleh pemain lawan. Hari itupun tim Grace memenangkan pertandingan, seperti pada pertandingan sebelumnya saja. Jika ada Grace, biasanya pertandingan dimenangkan oleh timnnya.
***
Sudah hampir satu minggu Grace tidak terlihat ceria seperti biasanya. Dia menjadi pemurung dan sering melamun,  rupanya ada yang dipikirkan olehnya. Hingga ketika Jhony bersama kawannya mengajak main bola pun Grace terlihat tidak bersemangat. Dia memilih untuk pulang ke rumahnya saja.
Teman-temannya mulai khawatir dengan keadaan Grace. Mereka kemudian membicarakan sebuah rencana. Jhony dan David mengusulkan untuk datang ke rumah Grace, mereka beranggapan bahwa mungkin ibunya sakit lagi. Karena beberapa bulan lalu Grace pernah terlihat murung, dan penyebabnya adalah Ibunya yang sakit karena sering bekerja terlalu lelah.
Sejak ayahnya meninggal, ibunya memang satu satunya orang yang tinggal dan membiayai kebutuhan Grace. Terkadang Grace juga mengikuti ibunya ke pasar untuk membeli ikan dan segala kebutuhan di warung makannya. Grace memang tidak begitu banyak membantu, tapi ibunya senang jika Grace ikut bersama. Karena Grace sering bercerita keadaan di sekolah dan teman-temannya. Sehingga ibunya tidak merasa kesepian dalam perjalanan.
Mungkin karena sering berjalan kaki, sehinggga Grace menjadi anak yang sehat dan kuat. Sehingga dalam permainan sepakbola saja dia selalu menjadi andalan. Dia juga lincah dan selalu membuat keceriaan bersama, walaupun terkadang temannya menyebut dia dengan sebutan Geraduz. Yaitu istilah untuk orang yang asal atau tidak memperhatikan penampilanya. Grace memang berbeda, dia cuek tidak seperti anak perempuan lain yang senang berdandan.
“Graaace!..Graaace!..”
Jhony dan kedua temannya sudah berada di depan rumah Grace. Mereka membawa beberapa bungkusan untuk diberikan kepada Grace. Sepertinya mereka sudah mempersiapkan itu dari rumah mereka masing-masing. Karena bungkusan itu terlihat rapi seperti dibungkus oleh orangtua atau kakaknya.
“Di muka, Grace”
Jhony berkata bahwa dia sudah berada di depan. Karena Grace terlihat menengok dari jendela kamar di samping rumahnya. Memang dari jendela itu mereka bisa terlihat jelas oleh Grace. Karena seperti biasa, jika mereka mengajak Grace untuk bermainpun sering berteriak memanggil dari depan rumah atau Jendela kamar Grace.
Grace bergegas berjalan dari kamar dan menuju pintu rumahnya yang terbuat dari kayu. Pintu itu tidak ditutup karena itu adalah pintu untuk pelanggan di warung makan yang sekaligus tempat tinggal Grace. Jhony dan kedua temannya tersenyum ketika Grace sudah berdiri di pintu itu.
Ibunya Grace mengetahui kedatangan mereka. Kemudian  menyuruh Grace agar mengajak temannya masuk. Grace sepertinya merasa bingung, karena tidak seperti biasa kali ini teman-temannya datang membawa bingkisan. Grace kemudian berjalan masuk ke dalam rumah, setelah memberi isyarat kepada temannya untuk masuk mengikuti Grace.
“Mama, kami membawa ini untuk Mama dan Grace”
Jhony dan kedua temannya berkata sambil memberikan bungkusan yang mereka bawa masing-masing. Ibu Grace terlihat mengernyitkan dahi karena merasa aneh dengan sikap anak-anak itu. Memang baru kali ini mereka datang dan membawa bingkisan. Sementara itu, Grace menerima salah satu bingkisan yang di bawa Jhony.
“Kami cemas mama, karena Grace jadi pendiam. Kami kira Grace sedang sakit, atau mama yang sakit”
“Hmmm…”
Ibunya Grace tidak tidak segara menjawab. Dengan isyarat dia menyuruh Grace untuk mendekat. Kemudian Grace berpindah dari tempat duduknya, bangku panjang yang semula diduduki Grace kini ditempati ketiga temannya. Grace kini dipeluk ibunya dari belakang. Ibu Grace yang duduk dikursi itu kini menatap kepada ketiga anak yang sudah duduk berjajar itu. Kini Grace diangkat kepangkuan ibunya, mereka sama-sama menghadap ke arah anak-anak itu.
“Grace sekarang memang sedang bersedih…”
“Kenapa, mama?”
Hampir serempak anak-anak itu bertanya. Mereka kaget karena Grace memang jarang terlihat bersedih. Satu hal yang membaut Grace sedih hanya ketika ibunya sakit saja. Tapi pada saat itu, Grace memang tidak banyak bicara. Anak-anak itu menatap ke arah Grace, kemudian menatap ke arah ibunya dengan penasaran.
“Sejak beberapa minggu lalu, banyak yang mampir ke warung kami. Mereka adalah para penambang emas. Di pulau kita ini memang baru saja ditemukan tambang emas. Makanya Grace jadi bersedih”
“Lho kenapa bersedih, kalo ada tambang emas berarti kita akan kaya”
David memotong pembicaraan dengan wajahnya yang penuh pertanyaan. Sementara itu Grace terlihat menggelengkan kepala, dia tidak setuju dengan perkataan David. Grace kemudian berkata perlahan.
“Tambang emas itu justru musibah. Kemarin saja ada orang dengan banyak luka datang kesini minta diobati, karena perkelahian di tambang memperebutkan lahan galiannya. Selain itu, kata tetangga yang pernah kesana, pepohonan banyak yang rusak. Tambang itu memang membawa petaka saja“
Grace berhenti berkata, anak-anak itu manggut-manggut pertanda mengerti apa yang dikatakan Grace. Ibunya Gace membelai rambutnya  sambil bersiap menambahkan perkataan anak satusatunya itu.
“Tambang itu sekarang sudah ditutup paksa oleh pemerintah. Dan akan menunggu investor untuk membiayai penambangan. Dengan Biaya besar dari investor itu, nanti pastinya kerusakan akan lebih besar lagi. Itulah yang membuat Grace semakin sedih“
“Oooh, begitu ya. Berarti nanti akan sama seperti yang terjadi di kampung tete aku di Papua ya?”
Jhony yang asli keturunan dari Papua itu berkata. Dia sepertinya faham betul dengan apa yang terjadi pada kakeknya waktu di Papua. Keluarganya memang sengaja pindah dari Papua. Karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan Tambang milik Freeport itu.
***
Terinspirasi dari penemuan tambang emas di Kabupaten Buru Maluku Utara. Fiksi ini saya persembahkan Untuk Grace dan warga Maluku Utara. Semoga tambang itu tidak memberikan dampak yang negatif, teman. Amiiiiiin….

Hukum Rimba Di Alam Tambang Liar


“Terkadang, nyawa manusia seakan tidak ada harganya. Jika mati terkena longsor di lubang galian tambang, ya sudah dikubur aja sekalian. Terkecuali jika ada keluarga yang memaksa ingin membawa jasadnya pulang.”

Ontang berkata dengan tegas. perkataan itu membuatku mengurungkan niat untuk bekerja di tambang emas. Beberapa hari yang lalu aku memang berniat untuk pergi ke Dumoga, bersama dengan beberapa temanku untuk bekerja di tambang liar.
Ontang sudah cukup tua, kata ayahku dia memiliki anak yang berumur lebih tua dariku. Tapi kedua anaknya tidak pernah kelihatan lagi di desa kami. Aku dan orang orang disini bisa memanggilnya Ontang, karena dia selalu menolak jika dipanggil Om, apalagi Opa. Dia ingin semua orang memanggilnya dengan nama Ontang saja.
Dulu, Ontang adalah orang yang paling disegani di desa ini. Aku masih bisa mengingat semasa aku sekolah dasar, dia adalah orang terkaya di desa ini. Mobilnya adalah keluaran terbaru yang hanya satu-satunya di desa ini. Rumahnya sangat besar dengan para pekerja yang banyak. Orang yang mengawasi anak-anaknya, tukang kebun, juru masak atau ada juga orang yang hanya sekedar menjaga rumah saja, tatanggaku juga ada yang bekerja mencuci pakaian di rumah Ontang dulu.
Aku kurang mengetahui aktivitas apa yang dilakukan di rumah Ontang pada waktu itu, karena jarang sekali masuk ke rumahnya. Walaupun banyak sekali temanku yang sering mengajak datang kesana. Selain belum pernah datang, ayahku juga suka melarang jika aku berniat datang ke rumah Ontang.
Tapi sekarang aku sudah mengetahui, mereka yang datang kesana itu biasanya untuk meminta uang. Ontang memang tidak pernah pelit untuk meminjamkan dan memberikan sebagian uangnya. Mungkin karena itulah, hingga saat ini biasanya ada saja orang yang memberikan keperluan Ontang sehari-hari.
Berbeda dengan dulu waktu aku masih kecil. Ontang yang dulu kaya raya itu, kini menjadi orang yang sangat sederhana. Bahkan rumahnya saja lebih besar dari rumahku. Selain itu, kesehariannya juga terlihat memprihatinkan, pakaian dia banyak yang sudah kusam. Selain itu, dia kini tinggal sendiri saja, tidak ada lagi orang yang sering berkumpul di rumahnya. Justru kini akulah yang sering datang ke rumahnya.
Sekarang, Ontang berada di hadapanku. Dirumahnya yang sederhana ini aku merasa sangat kasihan, tumpukan pakaian yang belum disetrika terlihat bersama beberapa barang di bawah kursi. Mungkin juga itu adalah pakaian yang belum di cuci. Pintu rumahnya sudah tidak bisa dikunci lagi, tapi Ontang memang tidak pernah mengunci rumahnya. Dia juga tidak takut ada pencuri yang datang, karena di rumahnya memang tidak ada barang yang berharga lagi.
Terkadang aku memang suka menginap di rumah Ontang. Jika aku sedang malas tidur dirumah atau belum mengantuk, aku selalu datang ke rumah Ini, biasanya Ontang sering terjaga hingga larut malam. Ataupun jika dia sudah tidur, aku langsung masuk saja dan tidur di kursi panjang yang kulitnya sudah sobek itu, Dan itulah satu-satunya kursi di rumah Ontang.
Seperti malam ini, aku sengaja membawa kopi dan cemilan untuk mengobrol di rumah Ontang. Aku suka mengobrol dengannya, karena dia memiliki cerita masa lalu yang beraneka ragam. Pengalaman dan ceritanya seakan tidak pernah habis, walaupun sering sekali di mengisahkan cerita uniknya kepadaku.
Satu hal yang bisa membuatku salut kepadanya. Dia tidak pernah mengeluh dengan keadaannya saat ini, segala kekurangnnya tidak membuat dia lelah untuk tersenyum. Padahal dia pernah mengalami kemewahan yang luar biasa. Mungkin hingga saat ini, di desaku belum ada orang yang kaya melebihi kekayaan Ontang dulu.
***
“Hidup itu seperti roda yang berputar, terkadang diatas dan tidak bisa ditolak ketika sedang berada di bawah. Karena itulah kehidupan, tidak ada yang bisa tetap pada sebuah keadaan“
Ontang berkata perlahan setelah meniup kopi panasnya. Setelah berkata itu, dia kemudian meminum kopinya dengan suaranya yang khas, itu membuatku senang. Ontang sepertinya menikmati sekali kopi buatanku itu. Dia menyimpan kopinya di samping bawah kursi yang di dudukinya. Sama sepertiku yang menyimpan kopi itu di bawah sebelah kanan karna tidak ada meja di rumah Ontang.
“Jika kamu ingin kaya, itu salah dan aku melarangnya. Apalagi dengan cara bekerja di tambang emas. Aku melarangnya karena aku mengalaminya sediri. Dulu waktu masih seumuran kamu seperti ini“
Aku hanya diam dan mendengarkan dengan serius. Ontang sepertinya sedang mengumpulkan kenangan masa lalu, dia biasanya bercerita dengan beberapa senyuman. Tapi jika raut wajahnya serius seperti ini, setahuku dia sedang ingin memberikan nasihat dengan cerita-ceritanya itu.
“Kamu belum tahu kan, kenapa tanganku seperti ini?”
Ontang berkata sambil menunjukkan tangan kananya. Di bagian punggung tangannya itu memang ada garis panjang pertanda luka dan jahitan. Panjangnya sekitar setengah jengkal tanganku. Ontang sudah tidak bisa mengepal dengan tangan kanannya itu. Aku memang sudah lama mengetahui bekas luka itu, tapi aku tidak tahu apa penyebabnya.
“Ini adalah saksi begitu kerasnya kehidupan di tambang liar”
Setelah Ontang menambahkan kata itu, kemudian dia membuka kemejanya. Ketika beberapa kancingnya terbuka, aku dikagetkan dengan garisan bekas jahitan di dadanya. Keriput dan beberapa gambar tato yang tidak jelas itu tidak bisa menutupi pandanganku, sepertinya itu gambar batik atau… entahlah, karena yang paling jelas terlihat adalah bekas jahitan yang sangat banyak. Rupanya di bagian perut juga terdapat bekas jahitan, aku semakin terkejut ketika Ontang memperlihatkan bekas luka di punggungnya.
“Aku juga heran, kenapa masih bisa hidup sampai saat ini. Kamu tahu sendiri kan, sudah dua pamanmu yang mati di tambang. Memang sudah banyak yang mati bahkan hilang tanpa bangkainya. Jadi untuk apa kamu mau bekerja di sana?”
“Tapi.. aku hanya ingin mengumpulkan modal untuk…..”
“Tidak!..”
Ontang memotong perkataanku. Dia memakai lagi kemejanya, aku terdiam dengan nada Ontang yang naik dua oktav itu. Sepertinya ontang melarang sekali niatku untuk pergi ke tambang emas. setelah selesai memakai kemejanya dia terlihat bersiap lagi berbicara.
“Dulu, aku juga sama. Berfikiran ingin mengumpulkan modal dari tambang. Untuk berjualan atau usaha apa saja. Tapi setelah mengalami mendapatkan uang banyak dengan cara singkat. Aku tidak tertarik lagi berusaha apapun. Dan itu bukan dialamu olehlu saja, lihatlah orang orang yang bekerja di tambang sekarang. Mereka semuanya bermalas-malasan dan menghamburkan uang saja. Jika sudah habis uangnya, mereka baru bekerja lagi.”
Ontang terdiam sejenak, dia mengambil kopinya perlahan. Tidak perlu meniup lagi sekarang dia langsung meminumnya dengan suara yang khas seperti tadi. Aku masih diam menunggu Ontang yang akan melanjutkan ceritanya.
“Kamu tahu, jika ada perempuan yang sedang menambang, kamu boleh mencolek, menyentuh bahkan menciumnya. Tapi jangan sekali kali kamu mencoba menyentuh lahan galiannya. Karena itu bisa berakibat perkelahian, hingga bisa menjadi ajang saling bunuh..”
“Ada perempuan yang ikut menambang juga?”
Aku memotong perkataan Ontang dengan pertanyaan itu. Karena aku sangat penasaran, ternyata ada juga perempuan yang bekerja di tambang. Ontang menatapku dengan tajam, kemudian dia melanjutkan lagi ceritanya.
“Tidak banyak memang perempuan yang berkerja disana. Jika adapun, biasanya janda yang sudah tidak bisa disebut cantik lagi. Bisa juga perempuan yang ikut suami atau pacarnya. Jika ada yang masih sendiri dan cukup cantik, mereka terkadang memilih menjadi pelayan nafsu lelaki saja. Karena dihutan, mereka akan mendapat bayaran yang berlipat ganda. bayarannya juga menggunakan emas murni, bukan uang. Itu lebih mengurangi resiko daripada harus bekerja mencari emas.”
Aku dan Ontang terdiam beberapa saat. Banyak yang ingin aku tanyakan, namun sepertinya Ontang masih ingin melanjutkan ceritanya.
“Satu hal yang aku banggakan menjadi penambang. Kami tidak pernah membawa masalah hingga keluar area tambang. Jika ada perkelahian disana, maka mesti dihabiskan perkara itu disana juga. Sesama penambang sudah saling mengerti, bahwa kami lebih baik berkelahi hingga mati disana, tapi ketika bertemu di luar. Kami seolah tidak saling mengenal saja.”
“Kenapa disana bisa sering terjadi perkelahian?”
“Hmm… Di tambang itu, tidak semua orang memiliki lubang galian. Misalkan nih di tanah ini terdapat lubang yang bagus, kadar emasnya tinggi, maka lubang itu akan menjadi rebutan. Biasanya lubang itu diolah oleh beberapa kelompok. Tiap kelompok mempunyai batasan waktu tertentu, selama itu kelompok yang lain menunggu. Tapi terkadang, secara tiba-tiba ada kelompok yang baru datang dan membawa kekuatan yang lebih besar. Mereka ingin mendapatkan jatah galian dengan menyerobot antrian. ketika itulah, tak jarang darah dan luka-luka itu menjadi hal yang biasa. Hingga kematian pun bukan hal yang aneh disana”
Ontang berkata dengan menunjuk ke arah lantai, tergambar di benakku sebuah lobang dengan beberapa orang yang sibuk mengolah tanah. Hingga terbayang juga perkelahian dan mayat dengan luka bacokan senjata tajam. Aku merinding ketika membayangkan luka luka di tubuh Ontang itu masih bercucuran darah.
Mungkin itulah yang membuat Ontang bersikeras agar aku tidak bekerja di tambang. Ontang memang selalu mengajarkanku untuk berusaha dan bekerja keras, tapi ketika aku berniat bekerja di tambang. Dia melarangnya dengan sangat tegas.
“Aku sudah pernah merasakan kehidupan yang mewah, mungkin kamu tidak tahu bagaimana kekayaanku waktu dulu, karena di kampung ini, hanya keluargamu saja yang tidak pernah datang ke rumahku. Oleh karena itu, sekarang aku hanya bisa berbagi cerita saja denganmu.”
Aku tersenyum mendengar kata itu. Aku memang tidak mengetahui secara langsung kekayaan Ontang dulu. Tapi aku merasa senang bisa mendengar kisahnya. Banyak yang aku bisa ambil pelajaran dari cerita masa lalunya.
***
Bersambung

Orang-orang Sinting di Simpang Lima



Subrody adalah seorang tokoh masyarakat yang sudah dua periode menjadi pejabat negara. Dia memang seorang yang berwibawa, disegani dan dihormati warga sekitar tempat tinggalnya. Sejak dia menjadi pejabat, di lingkungan pekerjaanyapun dia tetap dikenal sebagai sosok yang disegani. Karena dia memiliki aura kepemimpinan yang bisa membuat orang dihadapannya segan.
Sebagai seorang pejabat, Subrody dikenal sebagai sosok yang dermawan. Tiap kali perayaan keagamaan tidak pernah dia lewatkan untuk memberikan santunan kepada warga dan bawahannya. Mungkin akrena itulah di disegani di tempat tinggal dan longkungan pekerjaannya.
Suatu ketika, Subrody akan menghadiri sebuah rapat penting sesama pejabat pemerintahan. Dengan fasilitas negara, dia selalu hadir tepat waktu dan tidak pernah sekalipun telat menghadirinya. Walupun rapat itu mendadak dan dalam kondisi apapun. Dia selalu saja datang dengan keadaan yang siap seolah kesehariannya tidak pernah di isi dengan kesibukan apapun.
“Saya adalah pejabat, pimpinan dan sosok yang di tuakan. Sudah sepantasnya saya menjadi contoh untuk bawahan dan masyarakat pada umumnya.” Begitulah Subrody berkata ketika ditanyai bebrapa wartawan saat turun dari pesawat menjelang rapat kenegaraan. Subrody memang sosok yang mengutamakan kepentingan ngerara di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Saat itu, tersiar kabar dari beberapa polisi bahwa baru saja terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas. Tepat di dekat gedung pertemuan yang akan dilaksanakan rapat kenegaraan tersebut. Protokoler dan beberapa asisten pejabat lainnya terlihat sibuk mengatur rute perjalanan menuju ke gedung pertemuan.
Setelah dirundingkan, ternyata perjalanan akan dilanjutkan dengan rencanya semula. Namun mendekati lokasi kecelakaan, para pejabat akan turun dan berjalan kaki sekitar seratus meter melalui jalan kecil. Karena jalan itulah satu satunya jalan terdekat agar tidak terlamabt menghadiri rapat yang akan dilaksanakan.
Setelah disepakati, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Hingga tiba di tempat yang di tentukan itu, mereka turun dari mobil dan berjalan kaki menuju ke gedung pertemuan. Subrody terlihat bersiap dengan asistennya yang terlihat sibuk membawa dua koper kecil berisi dokumen-dokumen sebagai bahan untuk pertemuan.
Ketika sampai di sebuah persimpangan Subrody dan rombongan dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba menghadang perjalanan mereka. Dia adalah seorang perempuan setengah baya dengan rambut acak acakan dan pakaian serba putih. Perempuan itu menunjuk tepat ke wajah Subrody. Spontan semuanya berhenti dan berniat untuk menuntun perempuan itu agar pindah diri jalan yang akan dilalui Subrody.
“Hey kamu!…“
Dengan nada serak dan lantang perempuan itu berkata. Telunjuk dengan kukunya yang terlihat runcing itu tepat mengarah ke wajah Subrody. Beberapa bodyguard telah memegang tangan dan bahu perempuan itu. yang di sebelah kanan perempuan itu berusaha menurunkan telunjuk yang di arahkan ke wajah Subrody. Namun sepertinya perempuan itu begitu kuat sehingga bodiguard itu terlihat kewalahan.
“Kamu adalah penyebab semua bencana ini. Kamu yang mengakibatkan wabah kesengsaraan semakin terasa…“
Perempuan itu berkata lagi, matanya terlihat melotot dengan pandangan yang tajam. Subrody tak dapat berbicara, dia hanya menatap dengan pandangan yang sesekali dikedipkan. Di mata perempuan itu memang terlihat amarah yang begitu besar, seakan Subrody adalah musuh yang ingin segera dia habisi saja.
Beruntunglah, perempuan itu hanya berkata itu saja. Setelah itu dia menurut untuk di pindahkan, rombonganpun berjalan tanpa dua orang bodyguard yang sedang memegangi perempuan itu. beberapa diantara mereka yang sedang berjalan sesekali menoleh ke arah bodyguard dan perempuan  itu. Mereka membelakangi rombongan, tidak tampak usaha keras lagi ketika memegangi perempuan itu. Dia tidak meronta atau berusaha melepaskan pegangan dua pria berjaket hitam itu.
Saat melewatinya, Subrody menoleh ke arah mereka bertiga. Terlihat perempuan itu dengan rambutnya yang tidak teratur namun sepertinya bersih. Subrody mengernyitkan dahinya saat melihat tulisan kecil di bagian belakang pakaian wanita tersebut. Tapi dia tidak sempat membaca tulisan tersebut, meski dia sudah berusaha keras membacanya, karena tulisan itu sebagian tertutup rambutnya yang panjang.
Belum sampai sepuluh langkah setelah melewati perempuan aneh tersebut. Tiba tiba dua orang di pinggir jalan berteriak histeris, mereka berteriak sambil menutup wajahnya. Dua orang yang berteriak itu berpakaian sama dengan perempuan yang tadi menunjuk Subrody.
“Aku takuuut… ampuuun… ampuuun...”
Dua orang itu berteriak dengan sangat keras, suara mereka bercampur tangis yang spontan meraka lakukan saat rombongan berjalan perlahan melintasi mereka. beberapa orang dari rombonganpun berjalan perlahan sambil melirik ke sekitar meraka. Kewaspadaan itu spontanitas mereka dapatkan, karena teriakan kedua orang itu yang membuatnya berfikir ada sesuatu di dekat sana.
“Aku takut dia… Pembunuh… Penjajah…“
Saat itulah salah seorang dari mereka yang berteriak itu berkata sambil menunjuk dengan tangan kanannya ke arah Subrody, sementara tangan kirinya masih menutup wajah. Keduanya memang terlihat ketakutan sekali, begitu jelas keresahan dan ketakutan mereka dengan tubuhnya yang terlihat menggigil.
“Kenapa bicara seperti itu, apa yang kamu takutkan?“
Seorang perempuan berseragam hitam putih itu berkata perlahan, dia memeluk orang yang berkata sambil menutup wajahnya itu. Perempuan berseragam itu mencoba menenangkan dengan pelukannya. Agar yang dipeluknya itu tidak berteriak histeris dengan ketakutan seperti tadi.
Sementara itu, Subrody dan rombongan terus berjalan. Mereka seolah tidak peduli dan tidak ingin untuk memperdulikan kedua orang yang berteriak histeris tersebut. Kemudian saat mereka tepat melintas di depan keduanya, kedua orang tersebut hampir serempak jongkok dengan badan yang masih menggigil.
“Lihatlah! Di jidat dia banyak darah yang masih segar. Dia itu pembunuh, aku takut dia..” Salah satu dari orang yang berteriak histeris itu berkata sambil menunjuk ke Subrody.
“Iya… tanganya saja masih berlumuran darah. Orang yang berpakaian hitam itu memang pembunuh.” Temannya menambahkan dengan suara yang lemas karena dari tadi berteriak.
Sementara itu, Subrody yang berpakaian jas hitam dengan celana hitam pula merasa tidak nyaman. Dia melirik melihat dengan lirikan matanya kepada orang orang yang ada di hadapannya. kebetulan diantara mereka tidak ada yang berpakaian warna hitam. Tanpa disadarinya, Subrody kemudian melihat tangan kanan dan mengusap jidatnya. Tidak ada darah, tapi sugesti dari orang yang berteriak itu begitu terasa ditujukan untuknya. Itu semua membuat Subrody mempercepat langkah untuk menjauhi keduanya.
Beberapa orang dari rombongan yang berjalan bersama Subrody saling melirik. Mereka juga rupanya tersugesti dengan teriakan dan omongan kedua orang tadi. Mereka berhenti melirik temannya berjalan, ketika telah mengetahui bahwa orang yang berpakaian hitam itu adalah Subrody. Entah apa yang mereka pikirkan setelah itu, karena tidak ada yang membahas atau mencoba membuka obrolan tentang itu.
“Hei, Subrody!...”
Suara itu terdengar jelas, spontan membuat semua rombongan berhenti berjalan. Sesosok laki-laki berpakaian putih berjalan menghampiri rombongan dari arah kanan. Subrody menatapnya sambil tersenyum ragu, sepertinya Subrody mengenal laki-laki itu. Meski demikian, dua orang bodyguard yang tadi memegang perempuan telah bersiap. Mereka seolah akan menjaga, agar orang yang memanggil tersebut tidak mendekati Subrody.
“Kamu terlalu, kelakuanmu sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Kamu sudah seharusnya berhenti dari jabatan itu. Segeralah bertobat Subrody!”
Tinggal satu langkah saja langkah orang itu, kedua bodyguard sudah bersiaga menghalau lelaki itu. Lelaki itupun menghentikan langkahnya sambil menatap kedua bodyguarf tersebut.
“Kalian tidak usah takut. Aku tidak akan mengamuk disini, aku memang orang gila. Tapi dia… Subrody itu adalah orang waras yang melebihi kegilaanku.”
Lelaki itu berkata dengan nada naik dua oktav. Matanya melotot tajam ke arah Subrody, terlihat geram dan penuh  kemarahan. Dia berkata sambil menunjuk ke arah Subrody dari celah kedua bodyguard itu yang menghalanginya. Telunjuknya tepat mengarah ke wajah Subrody. Sementara itu Subrody tidak berkata apa apa, dia hanya tersenyum kecut, tidak terlihat tersinggung dan tetap mencoba untuk bertingkah bahwa tidak ada orang yang memakinya.
Dengan bahsa isyarat, Subrody mengajak seluruh rombongan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Merekapun kemudian mulai berjalan meninggalkan seseorang yang berbicara tadi. Begitupun dengan kedua bodyguar tadi yang mulai berjalan dengan kesiagaan penuh, mereka sepertinya masih khawatir orang itu akan mendekati Subrody.
Dua orang lelaki terlihar mendekati lelaki yang bicara tadi dari arah belakangnya. Kemudian memapah orang itu untuk berjalan kembali ke arah dia datang. Dari belakang, terlihat tulisan yang sama dengan tulisan yang ada di pakaian perempuan yang pertama. “Rumah Sakit jiwa.“
Dekat dari daerah tersebut memang terjadi sebuak kecelakaan lalu lintas. Sebuah bus yang menabrak pagar sebuah rumah sakit jiwa. Kebetulan saat itu para pasien sedang melakukan olahraga pagi, karena orang yang memungkinkan bisanya di arahkan untuk kegiatan seperti orang biasa saja. Sehingga setelah kejadian kecelakaan tersebut, banyak pasien yang berlarian keluar pagar. Ada yang ingin melihat kejadian itu dari dekat, ada pula yang langsung berlarian tapa arah. Beberapa memang sudah dikembalikan lagi ke tempatnya semula namun sebgian masih berkeliaran tak jelas tujuanya.
Beberapa bulan kemudian,
Wajah Subrody banyak terlihat di surat kabar. Di ahalama utama wajahnya terpampang dengan beragam berita miring tentangnya. Bahkan hampir setiap hari Subrody selalu mengisi tayangan berita di layar televisi. Tentang dugaan korupsi hingga dijatuhinya vinis hukuman penjara. Subrody telah terbukti melakukan tindakan kejahatan tersebut.
Keluaga Subrody berdalih bahwa dia telah di fitnah, korban politik dan beragam alasan pembelaan untuk Subrody. Namun bukti serta saksi telah menuntunnya ke dalam penjara. Subrody kini mendekam dalam tahanan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Tinggalah kini keluarga Subrody dengan cibiran dari tetangga dan orang lain yang dulu mengenalnya. Karena mereka tidak pernah menyangka kelakuan Subrody yan seperti itu. Namun masih beruntung karena mereka masih saja ada yang mengasihi dan memahami, bahwa keluarganya juga merupakan salah satu korban kejahatan Subrody.
***O***
NB: Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Mohon maaf jika ada nama, tempat dan kejadian sebagai faktor kebetulan saja.

Cinta Senja ODHA



Yaman bukanlah negara kaya seperti negara-negara lain di daerah Arab. Tentu saja aku memilih tinggal di Yaman karena alasan yang kuat. Setidaknya, aku datang ke Yaman bukan untuk bekerja kepada orang lain. Mengurusi lembaga pendidikan yang menjadi salah satu lembaga terbaik di daerah Khur Mukalla adalah kebanggan tersendiri buatku.
Khur Mukalla sebagai salah satu kota terbesar di Yaman sudah begitu akrab denganku. Rencana kepulanganku ke Indonesia, membuat semua tetangga dan teman-temanku sepertinya akan merasa kehilangan. Meraka selalu berpesan untuk secepatnya kembali ke Yaman.
Aku sendiri memang merasa betah tinggal di Yaman. Selain sudah tinggal dengan beberapa keluarga yang ku bawa kesini, sepertinya kehidupan disini lebih menyenangkan daripada di kampung halamanku.
Saat kubereskan pakaian dalam tasku, tak lupa aku menyimpan sapu tangan yang setia menemaniku beberapa tahun ini. Sebuah sapu tangan putih dengan sulaman berwarna merah muda. Tepat di salah satu sudutnya disulam inisial namaku dan namanya.
Saputangan itu seakan menjadi pengganti rasa rinduku padanya, dia yang saat ini pasti menungguku setelah sekian lama tidak bertemu. Sebuah foto usang didompetku adalah teman satu satunya saputangan itu. Foto dia dengan senyumnya yang tak pernah bisa hilang dari anganku. Karena aku ingin selalu melihatnya seperti itu.
Tak sabar rasanya, aku ingin segera bertemu dan memastikan rencana pernikahan yang sudah sekian lama tertunda. Dia yang selama ini menjadi penyemangat hidup dan usahaku. Setia menunggu walau jarak memisakan begitu jauh.
***
Tak cukup satu hari aku memuaskan tetangga dan saudara yang berkunjung ke rumah. Mereka ingin sekali mengetahui keadaan di Yaman. Cerita sehari-hariku di Yaman sana membuat mereka betah mengobrol hingga larut malam. Bahkan diantara mereka ada yang sudah mendengar ceritaku hari kemarin. Tapi tetap saja tidak beranjak ketika aku menceritakan kisah yang sama untuk orang yang lainnya.
Di sela aku bercerita kepada mereka. Aku selalu menunggu kedatangan dia yang namanya disulam dalam sapu tangan ini. Tapi tidak kunjung datang, hingga akhirnya setelah tiga hari di rumah orang tuaku, aku memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya.
Orang tua dan semua keluarga yang lainnya mencegahku untuk menemuinya. Bahkan diantaranya ada yang memarahiku dan bersikeras agar aku melupakanya. Terang saja aku menolak, karena mereka tidak memberikan alasan yang jelas. Mereka hanya melarang, tapi hanya diam ketika aku tanya “Kenapa? Apa alasannya aku tidak boleh menemuinya?”
Aku memang mengerti, bahwa dia berasal dari keluarga yang tidak baik. Bahkan ibunya disebut-sebut sebagai sampah masyarakat. Mengotori dan mencemarkan nama baik kampung ini. Tapi tidak denganya, setahuku hanya ibunya yang seperti itu. Dia adalah pemuda yang baik. Apalagi setelah ibunya meninggal, dia bisa hidup mandiri tanpa bantuan siapapun. Karena semua keluarga menjauhinya, dulu sebelum aku pergi ke Yaman pun, memang Cuma akulah satu satunya orang yang sering mengobrol dengannya.
Semasa kecilnya dia sangat penyabar. Bahkan ketika dia di olok-olok karena tidak memiliki ayah. Apalagi ibunya bekerja sebagai perempuan malam yang biasa melayani laki-laki hidung belang.
Ketika dia bersedih karena di dihina teman sekolahnya waktu kecil, hanya akulah yang biasa menjadi temannya berbagi. Hingga saat menginjak remaja, aku tetap sering bersamanya. Dan sejak itulah, perasaan cintaku tumpah padanya. Dia yang tumbuh menjadi pemuda penyabar, pemaaf dan tentu saja memberikan kepercayaan serta cintanya padaku.
***
“Waaah! Ternyata dulu nenek adalah pecinta sejati”
Gadis cantik itu berkata pada neneknya yang duduk di kursi roda. Nenek itu tersenyum, kecantikannya dimasa lalu masih terlihat dari bentuk wajahnya yang tidak begitu jauh dari cucunya.
Rambutnya yang lurus sebahu, masih selalu disisir. Bulu matanya masih terlihat lentik alami, bukan buatan. Sendainya saja, wajahnya tidak keriput dan rambutnya berwarna hitam. Tentu akan sama cantik dengan cucunya.
“Nek, terusin dong ceritanya! Gimana waktu itu, nenek tetap nekad nemuin pacarnya?”
Gadis itu bertanya dengan pandangan yang sangat penasaran. Sementara itu, neneknya terlihat mengatur nafas. Sepertinya ada sebuah cerita mendalam yang ingin di ceritakan. Nafasnya terdengar berat, seperti ingin melepaskan beban. Setelah beberapa lama, akhirnya dia siap berbicara.
“Waktu itu, nenek bersikeras untuk mendatangi dia. Tapi sayang, ternyata dia sudah tidak tinggal disana. Tapi nenek tidak menyerah, karena setelah itu nenek terus mencari informasi tetang keberadaanya. Dan setelah beberapa minggu mencari, akhirnya nenek bisa bertemu dengan dia…”
Nenek itu langsung terdiam, kembali dia mengatur nafas. Sepertinya dia teringat pada sesuatu yang lebih berat lagi. Karena kini nafasnya lebih berat dari sebelumnya. Beban di dadanya seakan bersiap untuk meledak. Beban itu dia coba atur keluar dari mulut dan hidungnya yang kini dipakai untuk mengatur nafasnya.
Gadis itu hanya diam dengan tatapan yang sayu. Belum diceritakanpun, dia seperti merasakan sebuah kesedihan yang dialami neneknya waktu itu. Bahkan masih dirasakan neneknya walaupun sudah terjadi puluhan tahun silam. Nenek itu kemudian berbicara dengan sebuah tetesan air mata. Mengalir perlahan di pipinya yang keriput.
“Nenek selalu sedih jika ingat itu. Karena ternyata, dia memang sengaja menghidari nenek. Dia tidak ingin bertemu nenek lagi…”
“Ah nenek, gitu aja kok sedih. Kirain kenapa, oh iya kan waktu itu nenek masih muda. Jadi masih cinta mati sama dia ya nek, hehe”
Gadis itu menggoda neneknya. Mendengar itu, neneknya tersenyum sambil mengusap air matanya. Seketika itupun, sirna sudah beban yang sebelumnya terlihat sesak membebani dadanya. Kemudian dia terdiam sejanak dan melanjutkan lagi ceritanya.
“Bukan itu Sayaaaang. Kalo masalah itu sih nenek gampang melupakannya. Wong nenekmu ini waktu masih muda banyak yang naksir kok.”
“Lho! Trus apa dong nek?” Tanya Gadis itu dengan perubahan drastis di wajahnya. Kini rasa penasaran itu lebih jelas terlihat.
Sama persis dengan neneknya. Dia kembali merasakan kesedihan yang terlihat dari wajahnya. Merekapun terdiam sejenak. Neneknya kini bersiap mengembalikan ingatan yang akan di ceritakan pada cucunya itu.
“Lamaaa sekali waktu itu kami berbicara. Dan setelah nenek mendesak, akhirnya dia mau berbicara. Bahwa alasannya menghidari nenek akrena dia memiliki penyakit yang mematikan…”
Kata-kata itu terhenti sejenak. Dengan cepat air mata berjatuhan dari mata neneknya. Sementara itu, Cucunya terlihat berlinang air mata. Hanya sedikit sentuhan atau gerakan di tubuhnya saja, air mata itu sudah pasti terjatuh.
“Dia.. mengidap penyakit HIV yang waktu itu baru dikenal sebagai penyakit jenis baru, paling ditakuti dan tidak bisa disembuhkan. Bahkan banyak yang berkata bahwa itu adalah kutukan. Penyakit itu adalah penyakit turunan dari ibunya. Itulah yang membuat dia ingin pergi dan tidak ingin bertemu nenek lagi. Karena dia mencintai nenek dengan tulus. Dia tidak ingin penyakit itu menular pada nenek. Makanya tidak ingin melanjutkan hubungan yang rencananya hingga menjadi suami istri…”
“Neneeek….”
Pelukan dan tangisan cucunya menjadi sebuah ungkapan perasaaanya yang tak kuasa berkata kata lagi. Perasaan cucunya akan kisah itu begitu mendalam. Merekapun kini tidak bercerita lagi. Hanya isak tangis saja yang terdengar dari keduanya.
***
Suatu ketika di kamar neneknya. Selesai membereskan tempat tidur dan menyapu kamar, Gadis berpakaian putih itu menghampiri neneknya yang sedang memandang keluar. Dari balik jendela itu, terlihat pemandangan yang menyejukkan.
“Nek!…”
“Apa sayaaang?”
Dengan bahasa isyarat dari neneknya setelah berkata itu, cucunya langsung mendekatkan pipi sambil memeluk neneknya yang berada di kursi roda. Keceriaan itu biasa terlihat dari mereka berdua. Karena dia adalah satu satunya cucu kesayangan nenek itu. Bahkan kamarnya tidak mau dibersihkan oleh siapapun. Hanya cucunya itu yang dia inginkan selalu dekat bersamanya.
“Nek, Cerita lagi dong kisah cinta nenek dulu. Kan nenek belum cerita bagaimana bisa bertemu dengan kakek”
Spontan nenek itu terkejut mendengar permintaan cucunya. Keresahan terlihat begitu jelas dari mata dan reaksi di tubuhnya. Dia mencoba menghindar dari tatapan cucunya yang mulai merasakan keanehan.
“Kenapa nek? Kok jadi aneh begitu.”
“Ah! Gak apa-apa, nenek hanya sedang tidak ingin membicarakan saja saat ini. Tapi kamu memang harus tau juga ceritanya. Bukan hanya kamu, ayahmu juga harus tau ceritanya. Hanya saja, mungkin bukan sekarang waktunya yang tepat.”
“Nenek ada ada aja. Mendramatisir sekali ah. Hehe”
Gadis itu berkata dengan tatapan tajam ke arah neneknya. Sementara itu neneknya kembai menatap ke arah luar jendela. Dia sepertinya mengenang sesuatu. Karena melihat neneknya seperti ingin ditinggalkan sendiri saat itu, Gadis itupun berlalu tanpa berpamitan. Dia berjalan dengan sesekali menoleh ke arah neneknya yang diam mematung. Masih ada rasa penasaran yang dia simpan saja sementara itu. Tentang cerita nenek dan kakeknya jaman dulu.
Belum sempat keluar dari pintu kamat, Gadis itu dikagetkan dengan suara neneknya yang mulai berbicara. Gadis itupun menoleh, tapi neneknya masih menatap ke luar jendela. Tapi dengan jelas perkataanya ditujukan untuk dia.
“Kakekmu meninggal ketika ayahmu masih dalam kandungan…”
Gadis itu berjalan perlahan menghampiri neneknya. Sementara itu, neneknya tidak melanjutkan perkataaanya lagi. Gadis itu melihat neneknya memandang keluar dengan tatapan kosong. Air mata yang mengalir di pipi neneknya seperti tidak dirasakan lagi. Gadis itu kemudian duduk di samping kursi roda sambil memegang tangan neneknya, dia tetap saja memandang ke arah luar jendela.
“Nek, kenapa nenek tidak menikah lagi setelah kakek meninggal. Kan waktu itu nenek masih muda.”
Mendengar itu, neneknya langsung menoleh. Air matanya semakin deras bercucuran. Entah kesedihan apa yang dirasakannya. Cucunya hanya diam karena tidak mengerti yang neneknya rasakan. Dia hanya menunggu neneknya yang sedang menangis. Dan setelah sedikit reda tangisannya, neneknya mulai berbicara.
“Nenek tidak bisa membohongi perasaan nenek. Makanya tidak mau menikah lagi. Hati nenek masih mencintai dia yang terkena HIV itu. Jika menikah dengan orang lainpun, nenek takut hati nenek tidak bisa berpaling darinya. Karena meskipun hanya ada photonya saja. Dia masih tetap tinggal di hati nenek”
“Setelah kematian kakek, memangnya nenek pernah bertemu dia lagi nek?”
Mendengar pertanyaan itu, neneknya menatap tajam ke arah gadis itu. Sepertinya banyak cerita yang ingin disampaikan. Namun dia seperti menunggu saat yang tepat. Sepertinya nenek itu menyimpan sesuatu yang besar. Seperti sebuah rahasia yang tidak ingin diketahui siapapun.
“Dia sudah meninggal, bunuh diri menabrakkan mobilnya di perlintasan kereta api.”
Perkataan pendek itu membuat cucunya diam mematung. Neneknya hanya menatap dia dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya. Tatapan tajam yang menyimpan segudang rahasia. Tatapan itu seakan menerobos kedalam hati gadis itu. Seperti meraba dan mencari tau. Apakah cucunya sudah siap dengan rahasia yang ingin dia berikan.
“Sampai saat ini, fotonya yang dulu nenek bawa ke Yaman masih ada. Nenek simpan dengan baik. Tapi sebetulnya, dia bukan hanya fotonya saja yang tersimpan. Karena dia masih hidup didalam hati nenek. Nenek juga tidak pernah merasa kesepian. Seperti ditemani dia saja sampai sekarang”
Mendengar itu, cucunya langsung tersenyum dan beranjak dari tempatnya tadi. Kemudian dia berjalan sambil berkata kepada neneknya. Sementara itu neneknya hanya melihat sambil mengeryitkan dahi. Karena tidak tau apa yang dilakukan cucunya.
“Oh ya? Dimana nenek simpan foto itu? aku mau cari ah. Seganteng apa sih dia? Orang yang membuat nenekku tidak pernah menikah lagi.”
Nenek itu membiarkan cucunya sibuk mencari foto. Mencari di dalam lemari, tumpukan baju, dan beberapa tempat lain yang dikiranya pasti dia temukan foto tersebut. Neneknya kemudian berkata dengan air mata yang saat ini tidak berjatuhan. Hanya terlihat berlinang dan menunggu saat yang tepat untuk terjatuh atau dijatuhkan dengan sekali kedipan.
“Ada di laci lemari dekat cermin itu. Sudah saatnya kamu tau.”
Tanpa menoleh, Gadis itu langsung membuka laci pada sebuah meja rias yang ada cermin besarnya. Tepat sekali, begitu di buka, tumpukan perhiasan dan saputangan itu langsung terlihat. Tapi Gadis itu langsung mengambil sebuah photo yang berada paling atas dari semuanya.
“Nah itulah dia, kamu harus sabar ya sayaang…”
Neneknya berkata pendek, kemudian menatap reaksi cucunya. foto seorang pemuda tampan itu adalah foto pemuda yang dulu menjadi kekasihnya. Sayang sekali dia mengidap penyakit yang sangat mematikan.
Gadis itu tidak menghiraukan perkataan neneknya. Dia memegang foto itu didepan cermin. Dia terlihat diam mematung, lama sekali dia melihat foto tersebut. Sepertinya ada sesuatu yang dia pikirkan setelah melihatnya.
Setelah lama memandangi foto itu, kemudian dia melihat cermin dan kembali melihat foto tersebut. Dilakukannya berulang ulang, seperti tidak percaya dengan penglihatannya.
“Nek, kenapa begini. Mata… hidung, dan bibirnya sama persis denganku?”
“Itulah sayang, pemuda yang dulu kucintai dan mengidap penyakit HIV itu… dengan kakekmu yang meninggal saat ayahmu masih dalam kandungan. Adalah orang yang sama. Kamu harus sabar ya, karena…”
Perkataan neneknya terhenti. Karena cucunya terjatuh pingsan.
***
Satu bulan berlalu, kini perubahan besar terjadi antara nenek dan cucu itu. Kini mereka jadi jarang mengobrol, bermain atau bertegur sapa. Kini Gadis itu jarang terlihat di rumah, tidak seperti biasanya yang tidak pernah lama meninggalkan neneknya. Gadis itu sering pulang agak larut malam, saat neneknya sudah masuk ke dalam kamar. Sedangkan pagi harinya, dengan tergesa dia sudah berpamitan untuk pergi lagi.
Bukan hanya pada neneknya saja, gadis itu kini cenderung pendiam pada ayah dan ibunya. Adik dan kakaknya memang sedang kuliah di Jepang. Sehingga perubahan pada mereka tidak terlalu terlihat.
Suatu hari, gadis itu datang sekitar jam 4 sore. Dia terlihat lemas dengan wajah pucat. Neneknya yang berada di teras depan rumah langsung bertanya dengan cemas.
“Kamu kenapa sayang?”
“Gak apa apa nek, aku tadi abis donor darah. Kata mereka reaksi seperti ini biasa kok. Nanti juga pulih lagi..”
“Apa?!…”
Dengan nada setengah teriak neneknya berkata. Dia kaget karena mendengar cucunya mendonorkan darah. Cucunya spontan menatap neneknya yang duduk diatas kursi roda. Kemudian dia menghampiri neneknya perlahan.
“Kenapa kamu tega seperti itu? Kamu mengerti kan, dengan mendonorkan darah, artinya kamu telah menularkan…” kata-kata neneknya dipotong Gadis itu.
“Nek! Tunggu dulu penjelasanku. Nenek jangan khawatir. Semua baik baik saja, kok! Ayah dan ibu belum pulang kan? Trus dimana si bibi dan tukang kebun?”
Dia menenangkan neneknya yang terlihat gusar. Kemudian cucunya melirik ke sekeliling. Sepertinya dia ingin bicara, tapi tidak ingin ada yang mengetahuinya. Suaranya pelan sekali, nyaris berbisik.
“Ayahmu masih diluar kota. Ibumu belum pulang kerja. Sibibi lagi ke pasar”
Neneknya berkata perlahan, terbawa cara berbicara cucunya yang nyaris berbisik. Cucunya melihat ke arah tuklang kebun yang sedang membereskan pot bunga di depan mereka. Setelah memastikan tukang kebut tidak bisa mendengar, gadis itu kemudian mulai berbicara lagi.
“Nek. Sebetulnya sehari setelah mengetahui kakekku adalah ODHA, aku langsung cek darah untuk memastikan. Tapi rupanya, aku bukan ODHA. Makanya aku bingung, Nek. Dan sejak itu sibuk mencari tau, kenapa bisa seperti ini. Apakah aku bukan keturunan nenek? Atau mungkin aku bukan anak ayahku? Makanya aku terus memantau ibuku di kantornya. Bisa jadi dia punya pacar? Tapi sayang, aku belum bisa mendapatkan sampel darah dari ayah dan ibu.”
Neneknya terdiam. Dia tersenyum bahagia, namun cepat sekali berubah. Karena tidak mengerti dengan keadaan seperti itu. Lama dia berfikir, cucunya bertingkah sama, keduanya mencari tau penyebabnya.
“Tapi rasanya tidak mungkin, jika aku bukan anak ayah. Kenapa kakek sangat mirip denganku…mmm.. tapiiii…..”
Tiba-tiba neneknya seperti mendapatkan sebuah pencerahan yang membuat matanya kian bersinar terang. Dia dengan bersemangat berkata.
“Antar nenek sekarang ke kamar. Ayo!.. cepaaat!”
Seperti lupa akan kondisi badannya yang masih lemas dan pucat. Gadis itu dengan bersemangat mendorong kursi roda neneknya. Sebuah kekuatan baru datang dengan tanpa di duga-duga. Neneknya terlihat dengan tidak sabar untuk sampai di kamarnya.
“Nah kesana dekat meja rias”
Neneknya berkata dengan bersemangat sambil menunjuk ke tempat dia menyimpan foto itu. Gadis itu dengan segera mendorongnya. Kini mereka sudah berada tepat di depan meja rias. Neneknya dengan segera membuka laci.
“Laci ini sejak kakekmu meninggal. Baru kamu yang pertama membukanya. Karena nenek tidak kuasa lagi melihat fotonya. Nenek baru ingat, beberapa orang yang menolong kakekmu waktu di perlintasan kereta api itu berkata. Bahwa kakekmu berkata sapu tangan. Dan perkataan itu diucapkan beberapa kali kepada mereka.”
Ketika laci itu  terbuka, sebuah saputangan diambilnya. Dan tepat di bawah saputangan itu ada sebuah kertas usang berwarna kecoklatan. Sepertinya semula kertas itu berwarna putih. Hanya saja sudah terlalu lama tersimpan disana.
Kertas itu adalah sebuah keterangan dari dokter. Bahwa seorang pria yang telah diperiksa itu negativ mengidap HIV AIDS. Surat itu nyaris sama seperti yang dimiliki gadis itu. Keterangan yang membuatnya jelas kini, bahwa mereka tidak mengidap virus tersebut.
“Neek…Neneeek…” Gadis itu memeluk neneknya yang lemas diatas kursi roda. Sepertinya dia begitu terguncang dengan apa yang baru di ketahuinya tersebut.
***
Lebaran kali ini sungguh berbeda. Keluarga itu merasa ada sesuatu yang lebih membahagiakan. karena telah mengetahui sesuatu yang baik yang sejak lama tersimpan. Seakan menjadi rahasia yang sengaja disimpan begitu lama, dan sesungguhnya semua itu memang membahagiakan mereka semua.
****O****

Lailatul Qadar: Dan Pepohonanpun Bersujud



“Terima kasih ya Alloh, kau telah berikan hidayah ini kepadaku. Meski mungkin terlambat, tapi aku bersyukur bisa menikmati nikmatnya ibadah kepadamu. Terimalah segala keterbatasanku ini, dan jadikan aku bersama golongan orang-orang yang beriman…”
“Pak!.. Ayo kita ke rumah saya dulu!”
Suara itu membuat dia yang sedang duduk di masjid itu menoleh. Kemudian dia tersenyum sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sepertinya dia sedang berdoa, sebelum doanya tersebut terhenti oleh sapaan seseorang yang ada di sampingnya tersebut.
“Tadi kan baru minum dan makan cemilan saja. Ayo sekarang kita makan nasi dulu di rumah!”
Ajak pria yang tadi menegurnya. Tanpa ada kata dari keduanya, merekapun langsung menuju keluar masjid. Kemudian mereka berjalan menuju ke sebuah rumah yang tidak terlalu jauh di samping masjid tersebut. Pria yang di tegur tadi berjalan perlahan di belakang yang mengajaknya.
“Saya malu Pak Haji, sudah beberapa hari ini merepotkan Pak Haji terus” ucapnya membuka obrolan sambil berjalan.
“Merepotkan apa? Justru saya senang. Sejak bapak disini, masjidnya jadi lebih bersih. Karena bapak selalu membersihkannya setiap hari. Nah kita sudah sampai, ayo kita langsung menuju ke meja makan saja pak. Kita makan bersama hari ini. Kebetulan anak anak juga sudah datang dari kota. Mereka ingin makan bersama bapak”
Setelah membuka pintu dan mengucap salam. Mereka berdua kemudian disambut keluarga pak haji. Anak dan istrinya dengan tersenyum mempersilahkan mereka duduk di meja makan. Tanpa menunggu lama, pak haji mulai membaca doa dan kemudian mereka bersiap untuk makan.
***
“Begini Pak Haji. Saya sudah berniat ingin menghibahkan seluruh tanah dan kekayaan saya untuk pesantren ini. Tapi ijinkan saya untuk terus tinggal di masjid ini. Rasanya saya sudah betah dan ingin di sini saja sampai… sampai…”
“Sampai kapan? Lho terus gimana dengan keluarga bapak?”
Pak haji memotong pembicaraan pria yang ada di depannya itu. Sementara itu, anak dan istri pak haji sedang sibuk membereskan piring dan makanan sisa mereka makan tadi. Pria tersebut kini menunduk dan menyiapkan lagi kata katanya yang terpotong tadi.
“Saya ingin di masjid ini saja Pak Haji. Sampai saya meninggal…”
Mendengar perkataan itu, pak haji terdiam. Dengan tajam dia menatap ke arah pria itu. terlihat kepasrahan dan ketulusan dari sikapnya berbicara. Tubuhnya yang agak membungkuk karena kecelakaan itu sepertinya telah memberikan sebuah guncangan yang hebat. Pak haji sendiri mengetahui, bahwa sebelumnya pria yang di hadapannya ini tidak seperti itu.
“Keluarga saya kan sudah meninggal semua Pak Haji. Dan justru pada saat itulah saya diberikan sebuah peringatan. Karena pada saat koma itu, saya seolah bermimpi melihat sebuah kumpulan orang orang yang sedang di siksa. Saat itulah saya menyimpulkan, mungkin itulah neraka yang disebut sebut itu. Dan saya melihat… semua keluarga saya ada di sana Pak Haji. Dan…”
Belum selesai berbicara, pria itu kemudian menangis perlahan. Dia mengingat sesuatu yang membuatnya tak kuasa menahan air mata. Pak haji hanya diam, dia sepertinya ingin berkata sesuatu. tapi menunggu saat pria itu berhenti menangis.
“Subhanallah… Mungkin itulah yang membuat Pak Khus sekarang gemar sekali tinggal di masjid ini. Bersyukurlah Pak! Itulah sebuah pertanda bahwa Pak Khus disayang dan diperhatikan Alloh dengan penggambaran pada saat bapak koma itu”
“Oh iya Pak. Kebetulan tadi anak saya bawa peci baru. Dan saya melihat sepertinya ini lebih cocok buat pak Khus. Karena yang Pak Khus pakai sekarang terlalu besar. Cobalah pak, in pasti lebih nyaman dipakainya.”
Pak haji kemudian menyodorkan sebuah kotak berisi peci baru kepada pak Khus. Perlahan pak Khus menerima dan membukanya, kemudian dia membuak peci yang dikenakannya. Dan dia sepertinya merasa nyaman sekali dengan peci yang baru di terimanya. Karena ukurannya pas, tidak seperti  sebelumnya  yang menggunakan ukuran terlalu besar.
“Waah terima kasih banyak ini Pak Haji. Ini lebih cocok ukurannya.”
Pak Khus tersenyum. Pak haji juga terlihat senang karena pak Khus menyukai peci barunya. Mereka kemudian mengobrol sebentar, sebelum akhirnya pak Khus berpamitan untuk mengambil wudu, karena dia ingin beri’tikaf   di masjid.
***
“Lho kok pakai peci itu lagi Pak Khus?”
Pak haji bertanya ketika mereka selesai Shalat Dhuha. Pak Khus memang mengenakan peci yang pertamanya lagi. Peci yang terlihat longgar di kepalanya. Pak Khus kemudian membuka pecinya dan melihat pak haji dengan perasaan bersalah.
“Itulah Pak Haji. Saya mengalami keanehan tadi malam. Karena cuaca rasanya sangat tenang dan tidak ada hujan ataupun angin. Tapi ketika saya berwudu banyak sekali pepohonan yang roboh. Hingga saya sulit untuk berjalan ke sungai tempat wudu”
“Lho! Terus Pak Khus wudu dimana? Kan saya juga sudah nawarin untuk wudu di rumah saya saja”
“Saya tetap wudu di tempat biasa Pak Haji. Nah tepat di samping saya berwudu itulah ada pucuk pepohonan yang roboh itu. Saya simpan peci saya disana, tapi saya lupa. Dan baru ingat peci saya disimpan disana ketika sudah sampai di masjid…”
“Sudah dicari lagi ke sana Pak Khus?” Pak haji memotong perkataan pak Khus.
Mendengar pertanyaan itu, pak Khus sepertinya merasa kebingungan. Dia terdiam beberapa saat, seperti mengingat kembali apa yang telah dialaminya tadi malam. Kemudian dia berkata dengan nada nada yang ragu.
“Hmm.. Itulah Pak Haji. Saya juga aneh, karena ketika tadi pagi saya kesana ketika sudah terang. Ternyata tidak ada satupun pepohonan yang tumbang. Bahkan saya tanya kepada beberapa santri yang tadi subuh berwudu disana, memang tidak ada pohon yang roboh katanya”
“Apa!?…”
Pak haji terlihat kaget dengan perkataan pak Khus tersebut. Kemudian dengen segera dia mengajak pak Khus untuk kembali ke tempat wudu yang biasa di gunakan santrinya. Tempatnya adalah dekat sungai yang mengalirkan air sangat jernih. Sekitar sepuluh menit dari masjid tersebut.
Mereka berdua berjalan. Pak haji di depan berjalan dengan tergesa. Sementara itu pak Khus terlihat hampir kewalahan  mengimbangi kecepatan berjalannya. Karena pak Khus sudah tidak bisa berjalan dengan normal. Kaki kanannya tidak bisa ditekuk sejak kecelakaan yang membuatnya koma tersebut.  Sehingga dia berjalan dengan tertatih-tatih.
Sesampainya di tempat wudu tersebut. Pak haji terdiam dan memandang ke sekelilingnya berdiri. Pak Khus terlihat heran dengan sikap pak haji tersebut. disana memang terlihat beberapa helai daun pohon yang masih hijau. tapi tidak ada satupun pohon yang roboh disana. Pak haji terus melihat kesekililingnya kemudian dia melihat ke arah pepohonan. Tiba tiba…
“Subhanallah!….” Pak haji berkata spontan. Kemudian dia bersujud.
Melihat itu, pak Khus keheranan. Dia tidak mengerti dengan apa yang dilakukan pak haji. dia hanya diam dan melihat saja. Pak Khus kemudian melihat ke sekelilingnya, tapi tidak ada yang aneh. Sehingga dia hanya diam dan menunggu pak haji saja yang menjelaskan semuanya.
“Ada apa Pak Haji?”
Pak Khus bertanya dengan ragu. Setelah melihat pak haji bangun dari sujudnya. Pak haji tidak langsung menjawab, dia hanya melihat tajam ke arah pak Khus, kemudian dia mengatur nafas. Dengan senyuman dan nafas yang teratur, pak haji berkata perlahan.
“Subhanalloh… bersyukurlah Pak Khus. Mungkin bapak telah diperlihatkan dengan salah satu keajaiban lagi…”
“Maksud Pak Haji? Keajaiban apa pak?” Pak Khus bertanya dengan sangat penasaran.
“Hmm… Dulu saya pernah mendengar dari kakek saya. Bahwa sesekali pepohonan di sekitar sini bersujud pada saat malam yang diyakini kakek saya sebagai malam Lailatul Qadar. Dan sekarang mungkin Pak Khus yang bisa menyaksikannya kembali…”
“Maksudnya? Saya semakin tidak mengerti nih Pak”
“Lihatlah ke pucuk pohon itu…”
Pak haji berkata sambil menunjuk ke arah pucuk pohon yang tidak begitu dari tempatnya berdiri. Pak Khus kemudian melihat ke arah atas dimana pak haji menunjukkan jari kanannya tersebut. Dan begitu terkejutnya dia, karena disana terlihat peci baru yang semalam diberikan oleh pak haji.
“Sepertinya, semalam pepohonan yang roboh itu adalah pohon yang sedang bersujud Pak Khus. Dan buktinya ketika bapak menyimpan peci di pepohonan yang roboh itu, sekarang peci bapak berada di atas sana…”
Entah apa yang mendorongnya. Karena belum sempat pak haji meneruskan kata-katanya. Pak Khus langsung bersujud sambil meneteskan air mata.
***O***
jakarta, 10 Agustus 2012

Friday, March 2, 2012

Puisi Pagi Hari



Tetes embun
Jernih berkilau
Hangat mentari menyapa
Pantulkan cahaya gemerlapan


Anak kecil berjalan
Lintasi pematang menuju sekolah
Ditendangnya ilalang
Percikan air berhamburan


Udara sejuk menyertai
Langkahnya bertelanjang kaki
Merasakan sisa hujan semalam
Lumpur kecoklatan penuhi mata kakinya


Sepatunya diatas pundak
Jalanan terlalu kotor
Untuk sepatu barunya
Tahun lalu


Dua buah uang logam
Tak pernah terpakai
Minggu lalu diterimanya
Masih utuh dalam kantong celananya


Anak petani desa terpencil itu
Bertekad menjadi pintar
Agar tidak seperti orang tuanya
Karena mereka memintanya


Pesan itu selalu terngiang
Orang tuanya di ujung telinga
Nak, jangan kau menjadi bodoh dan miskin!
Karena kami sudah kenyang