Thursday, August 30, 2012

Orang-orang Sinting di Simpang Lima



Subrody adalah seorang tokoh masyarakat yang sudah dua periode menjadi pejabat negara. Dia memang seorang yang berwibawa, disegani dan dihormati warga sekitar tempat tinggalnya. Sejak dia menjadi pejabat, di lingkungan pekerjaanyapun dia tetap dikenal sebagai sosok yang disegani. Karena dia memiliki aura kepemimpinan yang bisa membuat orang dihadapannya segan.
Sebagai seorang pejabat, Subrody dikenal sebagai sosok yang dermawan. Tiap kali perayaan keagamaan tidak pernah dia lewatkan untuk memberikan santunan kepada warga dan bawahannya. Mungkin akrena itulah di disegani di tempat tinggal dan longkungan pekerjaannya.
Suatu ketika, Subrody akan menghadiri sebuah rapat penting sesama pejabat pemerintahan. Dengan fasilitas negara, dia selalu hadir tepat waktu dan tidak pernah sekalipun telat menghadirinya. Walupun rapat itu mendadak dan dalam kondisi apapun. Dia selalu saja datang dengan keadaan yang siap seolah kesehariannya tidak pernah di isi dengan kesibukan apapun.
Saya adalah pejabat, pimpinan dan sosok yang di tuakan. Sudah sepantasnya saya menjadi contoh untuk bawahan dan masyarakat pada umumnya.” Begitulah Subrody berkata ketika ditanyai bebrapa wartawan saat turun dari pesawat menjelang rapat kenegaraan. Subrody memang sosok yang mengutamakan kepentingan ngerara di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Saat itu, tersiar kabar dari beberapa polisi bahwa baru saja terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas. Tepat di dekat gedung pertemuan yang akan dilaksanakan rapat kenegaraan tersebut. Protokoler dan beberapa asisten pejabat lainnya terlihat sibuk mengatur rute perjalanan menuju ke gedung pertemuan.
Setelah dirundingkan, ternyata perjalanan akan dilanjutkan dengan rencanya semula. Namun mendekati lokasi kecelakaan, para pejabat akan turun dan berjalan kaki sekitar seratus meter melalui jalan kecil. Karena jalan itulah satu satunya jalan terdekat agar tidak terlamabt menghadiri rapat yang akan dilaksanakan.
Setelah disepakati, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Hingga tiba di tempat yang di tentukan itu, mereka turun dari mobil dan berjalan kaki menuju ke gedung pertemuan. Subrody terlihat bersiap dengan asistennya yang terlihat sibuk membawa dua koper kecil berisi dokumen-dokumen sebagai bahan untuk pertemuan.
Ketika sampai di sebuah persimpangan Subrody dan rombongan dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba menghadang perjalanan mereka. Dia adalah seorang perempuan setengah baya dengan rambut acak acakan dan pakaian serba putih. Perempuan itu menunjuk tepat ke wajah Subrody. Spontan semuanya berhenti dan berniat untuk menuntun perempuan itu agar pindah diri jalan yang akan dilalui Subrody.
Hey kamu!…
Dengan nada serak dan lantang perempuan itu berkata. Telunjuk dengan kukunya yang terlihat runcing itu tepat mengarah ke wajah Subrody. Beberapa bodyguard telah memegang tangan dan bahu perempuan itu. yang di sebelah kanan perempuan itu berusaha menurunkan telunjuk yang di arahkan ke wajah Subrody. Namun sepertinya perempuan itu begitu kuat sehingga bodiguard itu terlihat kewalahan.
Kamu adalah penyebab semua bencana ini. Kamu yang mengakibatkan wabah kesengsaraan semakin terasa…
Perempuan itu berkata lagi, matanya terlihat melotot dengan pandangan yang tajam. Subrody tak dapat berbicara, dia hanya menatap dengan pandangan yang sesekali dikedipkan. Di mata perempuan itu memang terlihat amarah yang begitu besar, seakan Subrody adalah musuh yang ingin segera dia habisi saja.
Beruntunglah, perempuan itu hanya berkata itu saja. Setelah itu dia menurut untuk di pindahkan, rombonganpun berjalan tanpa dua orang bodyguard yang sedang memegangi perempuan itu. beberapa diantara mereka yang sedang berjalan sesekali menoleh ke arah bodyguard dan perempuan  itu. Mereka membelakangi rombongan, tidak tampak usaha keras lagi ketika memegangi perempuan itu. Dia tidak meronta atau berusaha melepaskan pegangan dua pria berjaket hitam itu.
Saat melewatinya, Subrody menoleh ke arah mereka bertiga. Terlihat perempuan itu dengan rambutnya yang tidak teratur namun sepertinya bersih. Subrody mengernyitkan dahinya saat melihat tulisan kecil di bagian belakang pakaian wanita tersebut. Tapi dia tidak sempat membaca tulisan tersebut, meski dia sudah berusaha keras membacanya, karena tulisan itu sebagian tertutup rambutnya yang panjang.
Belum sampai sepuluh langkah setelah melewati perempuan aneh tersebut. Tiba tiba dua orang di pinggir jalan berteriak histeris, mereka berteriak sambil menutup wajahnya. Dua orang yang berteriak itu berpakaian sama dengan perempuan yang tadi menunjuk Subrody.
Aku takuuut… ampuuun… ampuuun...”
Dua orang itu berteriak dengan sangat keras, suara mereka bercampur tangis yang spontan meraka lakukan saat rombongan berjalan perlahan melintasi mereka. beberapa orang dari rombonganpun berjalan perlahan sambil melirik ke sekitar meraka. Kewaspadaan itu spontanitas mereka dapatkan, karena teriakan kedua orang itu yang membuatnya berfikir ada sesuatu di dekat sana.
Aku takut dia… Pembunuh… Penjajah…
Saat itulah salah seorang dari mereka yang berteriak itu berkata sambil menunjuk dengan tangan kanannya ke arah Subrody, sementara tangan kirinya masih menutup wajah. Keduanya memang terlihat ketakutan sekali, begitu jelas keresahan dan ketakutan mereka dengan tubuhnya yang terlihat menggigil.
Kenapa bicara seperti itu, apa yang kamu takutkan?
Seorang perempuan berseragam hitam putih itu berkata perlahan, dia memeluk orang yang berkata sambil menutup wajahnya itu. Perempuan berseragam itu mencoba menenangkan dengan pelukannya. Agar yang dipeluknya itu tidak berteriak histeris dengan ketakutan seperti tadi.
Sementara itu, Subrody dan rombongan terus berjalan. Mereka seolah tidak peduli dan tidak ingin untuk memperdulikan kedua orang yang berteriak histeris tersebut. Kemudian saat mereka tepat melintas di depan keduanya, kedua orang tersebut hampir serempak jongkok dengan badan yang masih menggigil.
Lihatlah! Di jidat dia banyak darah yang masih segar. Dia itu pembunuh, aku takut dia..” Salah satu dari orang yang berteriak histeris itu berkata sambil menunjuk ke Subrody.
Iya… tanganya saja masih berlumuran darah. Orang yang berpakaian hitam itu memang pembunuh.” Temannya menambahkan dengan suara yang lemas karena dari tadi berteriak.
Sementara itu, Subrody yang berpakaian jas hitam dengan celana hitam pula merasa tidak nyaman. Dia melirik melihat dengan lirikan matanya kepada orang orang yang ada di hadapannya. kebetulan diantara mereka tidak ada yang berpakaian warna hitam. Tanpa disadarinya, Subrody kemudian melihat tangan kanan dan mengusap jidatnya. Tidak ada darah, tapi sugesti dari orang yang berteriak itu begitu terasa ditujukan untuknya. Itu semua membuat Subrody mempercepat langkah untuk menjauhi keduanya.
Beberapa orang dari rombongan yang berjalan bersama Subrody saling melirik. Mereka juga rupanya tersugesti dengan teriakan dan omongan kedua orang tadi. Mereka berhenti melirik temannya berjalan, ketika telah mengetahui bahwa orang yang berpakaian hitam itu adalah Subrody. Entah apa yang mereka pikirkan setelah itu, karena tidak ada yang membahas atau mencoba membuka obrolan tentang itu.
Hei, Subrody!...”
Suara itu terdengar jelas, spontan membuat semua rombongan berhenti berjalan. Sesosok laki-laki berpakaian putih berjalan menghampiri rombongan dari arah kanan. Subrody menatapnya sambil tersenyum ragu, sepertinya Subrody mengenal laki-laki itu. Meski demikian, dua orang bodyguard yang tadi memegang perempuan telah bersiap. Mereka seolah akan menjaga, agar orang yang memanggil tersebut tidak mendekati Subrody.
Kamu terlalu, kelakuanmu sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Kamu sudah seharusnya berhenti dari jabatan itu. Segeralah bertobat Subrody!”
Tinggal satu langkah saja langkah orang itu, kedua bodyguard sudah bersiaga menghalau lelaki itu. Lelaki itupun menghentikan langkahnya sambil menatap kedua bodyguarf tersebut.
Kalian tidak usah takut. Aku tidak akan mengamuk disini, aku memang orang gila. Tapi dia… Subrody itu adalah orang waras yang melebihi kegilaanku.”
Lelaki itu berkata dengan nada naik dua oktav. Matanya melotot tajam ke arah Subrody, terlihat geram dan penuh  kemarahan. Dia berkata sambil menunjuk ke arah Subrody dari celah kedua bodyguard itu yang menghalanginya. Telunjuknya tepat mengarah ke wajah Subrody. Sementara itu Subrody tidak berkata apa apa, dia hanya tersenyum kecut, tidak terlihat tersinggung dan tetap mencoba untuk bertingkah bahwa tidak ada orang yang memakinya.
Dengan bahsa isyarat, Subrody mengajak seluruh rombongan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Merekapun kemudian mulai berjalan meninggalkan seseorang yang berbicara tadi. Begitupun dengan kedua bodyguar tadi yang mulai berjalan dengan kesiagaan penuh, mereka sepertinya masih khawatir orang itu akan mendekati Subrody.
Dua orang lelaki terlihar mendekati lelaki yang bicara tadi dari arah belakangnya. Kemudian memapah orang itu untuk berjalan kembali ke arah dia datang. Dari belakang, terlihat tulisan yang sama dengan tulisan yang ada di pakaian perempuan yang pertama. “Rumah Sakit jiwa.
Dekat dari daerah tersebut memang terjadi sebuak kecelakaan lalu lintas. Sebuah bus yang menabrak pagar sebuah rumah sakit jiwa. Kebetulan saat itu para pasien sedang melakukan olahraga pagi, karena orang yang memungkinkan bisanya di arahkan untuk kegiatan seperti orang biasa saja. Sehingga setelah kejadian kecelakaan tersebut, banyak pasien yang berlarian keluar pagar. Ada yang ingin melihat kejadian itu dari dekat, ada pula yang langsung berlarian tapa arah. Beberapa memang sudah dikembalikan lagi ke tempatnya semula namun sebgian masih berkeliaran tak jelas tujuanya.
Beberapa bulan kemudian,
Wajah Subrody banyak terlihat di surat kabar. Di ahalama utama wajahnya terpampang dengan beragam berita miring tentangnya. Bahkan hampir setiap hari Subrody selalu mengisi tayangan berita di layar televisi. Tentang dugaan korupsi hingga dijatuhinya vinis hukuman penjara. Subrody telah terbukti melakukan tindakan kejahatan tersebut.
Keluaga Subrody berdalih bahwa dia telah di fitnah, korban politik dan beragam alasan pembelaan untuk Subrody. Namun bukti serta saksi telah menuntunnya ke dalam penjara. Subrody kini mendekam dalam tahanan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Tinggalah kini keluarga Subrody dengan cibiran dari tetangga dan orang lain yang dulu mengenalnya. Karena mereka tidak pernah menyangka kelakuan Subrody yan seperti itu. Namun masih beruntung karena mereka masih saja ada yang mengasihi dan memahami, bahwa keluarganya juga merupakan salah satu korban kejahatan Subrody.
***O***
NB: Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Mohon maaf jika ada nama, tempat dan kejadian sebagai faktor kebetulan saja.

No comments:

Post a Comment